(POV Nata) *** Nata masih menunggu istrinya diperiksa kembali. Memegang kepalanya sambil menunduk, ia seperti memikirkan sesuatu. Ya, agaknya ia masih terpikir. Tak lain tak bukan, apa yang harus ia katakan? Nata memang pernah merasakan masa-masa dulu. Ya, dulu saat ia begitu susahnya. Menjadi kuli di kebun orang. Dengan sistem bagi hasil. Lewat salah seorang yang disebutnya 'Mbah'. Lewatnya, ia mengais rezeki. Orangtuanya menghidupinya dari sana. Mereka terus melakukan hal itu dengan tekun. Pagi sampai siang, ke ladang. Menanam tanaman sesuai musimnya. Nata pun mulai dikenal orang dengan ketekunan dan kejujurannya. Para pemilik tanah yang awalnya ragu menitipkan sawahnya, berubah. "Saya sangat percaya kamu, Nak. Sejak pertama melihat. Makanya saya percaya menitipkan sawah itu padamu

