"Kekuatan bertopeng kelemahan itu bernama tangisan perempuan."
Tiada ada bunga yang tak suka disiram. Apalagi dipupuk. Bunga anggrek sekalipun—tetap membutuhkan air—kesejukan.
Begitupun Naya. Matahari yang tak kunjung lelah. Entah mengapa ia percaya hakikatnya, hati setiap orang lembut adanya. Terlebih perempuan. Ia suka mendengar petuah. Dari siapa saja. Sekelilingnya mengenal Naya sebagai matahari paling tabah hati.
Naya sering menostalgiakan rindu. Mendengarkan aneka kisah untuk sebuah kasih. Tentangnya yang sedari dulu katanya pemalu. Pun yang katanya bicaranya lembut. Saat itu, ia disuruh ke warung beli obat. Ia sampai mengucap ulang tiga kali. Dan penjual tokonya sampai terseyum mendekatinya, "Bicaranya lembut sekali, Nak."
Ibunya juga terlalu merdu berkisah. Hingga senja mulai tampak di mata. Kini, ia bukan anak kuncup bunga yang baru menetas dari biji. Atau anak yang harus sampai bicara berkali-kali hanya untuk orang lain mendengarnya. Satu hal yang makin subur: Ia nampak merasa lebih kuat dengar mendegar nasehat.
Senja kala itu menghadirkan hujan. Ia selalu berbaik hati menyiramkan kuncupnya yang tak kunjung berbunga.
"Jadilah bunga yang pandai menjaga diri, ya." Katanya kala itu. Dengan tersenyum lembut, ia terus menyiraminya hingga dirasanya cukup. "Matahari selalu tabah hati. Kamu cocok jadi matahari."
***
Langit membawa mendung tak terduga. Mungkin, hujan sedang menyiapkan kejutannya. Tapi justru Naya begitu kawatir kepadanya. Ia tak dapat memungkiri; terkadang takut dia kenapa-napa. Ia rela tak menyiraminya. Asal Genta baik-baik saja.
Di pelataran suatu ruangan, ia menyendiri. Membaca buku yang dibawanya. Sesekali memandangi menara bercat hijau yang kokoh memandang langit. Langit yang selalu menerima apa pun penghuni buminya.
Setiap detail bangunan di sekitarnya seakan menjelma penuh titik-titik di mata Naya. Setahun ini seperti musim yang tak kunjung berganti. Ia mesti lalui sendiri. Tak melanjutkan studi, membuatnya terus memupuk mimpi. Mimpi yang dengannya—ia merasa lebih hidup dalam dunia yang singkat ini.
Rahasia, memang begitu ajaib nyatanya. Langit selalu punya kendalinya. Tak berapa lama setelah wajah kawatirnya memberisiki langit, malaikat memberi kabar. Datanglah seseorang yang memandanginya dari kejauhan—ia datang dengan penuh senyuman. Entah itu senyum sedih atau kegembiraan.
"Begini ya matahari kalau lagi murung. Baru ditinggal sebentar saja cemberutnya sudah bikin langit geleng-geleng kepala. Hahaha." Langkahnya kian mendekati Naya.
"Genta?" "Kamu tau darimana aku di sini?"
"Tau dari langit."
"Gak lucu tau!" Ucap Naya setengah kesal.
"Ciaa ... ngambek! Hey, dengerin. Gak selamanya yang kita harapin akan selalu begitu adanya." Genta mengucapkan dengan santainya.
"Hum?" Refleks Naya tertegun.
"Ya. Sebentar lagi kau pasti akan mekar. Banyak lebah dan kupu-kupu bertamu kepadamu. Ataupun yang hilir mudik menggodamu." Nadanya kian rendah.
"Lalu?"
"Emang lupa nasehat itu?"
"Jadilah bunga yang pandai menjaga dirinya. Selalu tabah hati." Naya refleks mengucapkannya dengan menunduk.
Ia justru tersenyum. Seiring mentari yang mulai menampakkan diri. Serasa ingin bergantian menyapanya. Tak berapa lama, makin mendekat dan mengantarkan hujan pulang dengan sendu di matanya.
"Gimana kabarmu? Kemana aja, Ta?" Naya tanyakan sembari mengeja langit. Matanya seakan memaksa bulir air mata masuk kembali ke ruangannya.
"Aku ngrepotin kamu ya, Ta? Sampai pergi tanpa permisi."
"Heh!"
Naya menundukkan wajah. Menyeka kembali bulir mata yang memberontak ingin terjatuh.
"Gapapa, Ta. Kalau mau pergi lagi. Aku bisa lalui semua sendiri. Tak perlu hujan."
"Heh, Nay. Dengerin dulu." "Iya, aku salah. Aku minta maaf. Sudah beberapa bulan ini tak berkabar apapun. Sekarang tiba-tiba menemuimu di sini."
"Aku cuma gapengin kamu kawatir. Kondisiku benar-benar buruk saat itu. Aku terpaksa ke Bekasi. Melanjutkan peruntungan nasib. Maafin aku tak berkabar apapun setelah kamu dirawat itu."
"Oh gitu, ya." Naya berpura tersenyum bahagia.
"Nay ... aku yakin kamu kuat. Kamu di sini baik-baik aja 'kan?"
"Seperti apa yang kamu lihat. Aku bisa ke tempat ini sendiri. Aku tak lagi takut berjalan kemanapun tanpa sahabat sekalipun."
"Heh! Gaboleh bilang gitu," Genta berusaha mencegah sendunya.
"Gaboleh? Bolehnya aku tersenyum terus? Memang ada bunga yang selalu mekar, Ta? Hum?" Mata Naya berkaca-kaca menatap Genta.
"Aku baru pulang kemarin. Maaf, tak langsung menemuimu. Aku sengaja mencarimu ke sini—karena tau Masjid ini jadi tempat favoritmu selain pantai...,"
"Aku menanggung sedihmu. Kumohon, maafkan aku, Naya."
Naya tersadar dari kantuknya. "Genta?" gumamnya.
Ia lupa, kerinduan yang masih tak terjamah kenyataan, turun kembali masuk diam-diam dalam alam bawah sadarnya.
"Genta, kamu apa kabar?" Lanjutnya.
"Non..." salah seorang perempuan paruh baya mendekatinya.
"Iya, Bi?"
"Non Naya, sudah waktunya mandi lalu bersiap nanti sholat maghrib. Mari, saya antarkan," tuturnya lembut sambil menundukkan kepala.
"Bi... bisa ndak ndak usah membungkuk gitu? Aku ndak enak. Bibi sudah seperti ibuku sendiri di sini. Naya gak punya orangtua lagi," tutur Naya apa adanya.
"Non... saya tahu kegelisahan Non Naya, tapi nasi sudah jadi bubur. Biarlah Nona hadapi keputusan ini. Kita sudah terkurung dalam istana ini. Cukuplah lakukan apa yang dimau tuannya," bijak Bi Marniah salah seorang pembantu rumah tangga—yang dipercaya Nata untuk mengurus segala keperluan istrinya—Naya.
Naya memanggilnya Bi Marni, satu-satunya perempuan yang lebih tua, sejak ia pergi dari ibunya, hanya Bi Marni yang menemaninya.
"Lagian, Non Naya saya perhatikan selalu duduk di sini atau di dekat taman. Kenapa? Ada yang dipikirin?" Bi Marni ternyata diam-diam juga memerhatikan Naya.
"Bi Marni tahu?"
"Ya... saya kan ditugasin Tuan buat njaga Non Naya, kalau saya ndak tahu kebiasaan Non, malah nanti kena omel lah Bibi," tuturnya.
Naya tersenyum. Ia tutup buku bacaannya dan seolah tak ada kecemasan apapun.
"Yasudah, biar Bibi ndak repot, Naya akan turuti apa yang Bi Marni perintahkan. Sekarang bebersih bukan?"
Bi Marni menganggukkan kepala dan berbalas senyum bahagia. Baginya sederhana. Tak ada masalah dengan Naya dan semua kondisinya baik-baik saja adalah tugasnya.
Ia adalah wanita paruh baya yang memang dipercaya Nata, karena terpercaya mengurus Nata bahkan sejak kecil. Orangtua Nata menitipkannya pada Bi Marni, karena kesibukan orangtuanya dulu.
"Non..." panggil Bi Marni.
"Iya, Bi?"
"Non Naya ini beruntung lo," ucapnya sambil memapah Naya.
"Beruntung kenapa?"
"Suami Non Naya itu bukan laki-laki yang biasa kaya di film-film itu loh, Non."
"Maksudnya?"
"Selama ini kan kalau ada pengusaha kaya selalu diibaratkan suka main perempuan, istrinya banyak, nah tapi suami Non Naya ini beda," jelas Bi Marni semakin membuat
Naya penasaran mendengarkan kelanjutannya.
Selama inu pun Naya tak enak hati menanyakan apalagi menyelidiki siapa dibalik suaminya kini. Ia hanya merelakan diri menikah, semata karena ingin melihat Ibunya bahagia.
"Oh ya, Bi?"
"Lo, memangnya ndak tahu, ya?"
Naya menggelengkan kepala. Ia dibuat penasaran dengan kelanjutan penjelasan Bi Marni.
***
Apa yang akan dijelaskan Bi Marni tentang suaminya, alias Nata? Apakah memang dia pengusaha muda yang baik, tapi kenapa dia mau membantu keluarganya dari jeratan hutang? Bukankah itu sama saja ia membeli Naya?