(POV Kinanthi/Ibunya Naya)
Kinanthi duduk di kursi tamu. Pandangannya sayu. Sepertinya sedang menunggu sesuatu.
"Kemana Naya? Kenapa belum pulang?"
"Ya Tuhan... bagaimana kalau dia gak pulang?"
"Sebentar lagi dia harus menikah dengan Nata."
Dering telepon berkali-kali ia layangkan. Namun, tak ada jawaban.
"Naya, kamu dimana?" Puluhan pesan terkirim. Namun, tak ada balasan satu pun.
Wajahnya mulai panik. Matanya yang sayu kian tergugu. Giginya mulai terdengar sedikit gertakan, karena kawatir tak berkesudahan.
"Naya... kamu sebenernya dimana? Pulang, sekarang!!"
"Pulang, sekarang, Naya. Ibu tunggu!!"
"Kalau gak pulang..."
Srttt
Suara pintu terbuka terdengar di telinga Kinanthi.
"Kok pintu belakang seperti terbuka?"
Jemarinya yang masih sibuk akan mengetikkan pesan, kini tertunda begitu saja. Langkahnya antusias ingin mengetahui siapa sebenernya yang membuka pintu belakang rumahnya. Setengah mengendap, Kinanthi berjalan menuju ke arah pintu belakang itu.
Praankk!!
Suara kaleng jatuh terdengar mengagetkannya.
"Naya?" Kinanthi melihatnya amat heran
"Kamu bener Naya 'kan?"
Yang ditanya masih tak menjawab.
"Heh!! Naya!! Tungguin Ibu. Mau kemana lagi, hah?!! Sebentar lagi kamu akan menikah! Jangan pergi keluar rumah sering-sering!"
"Naya!! Naya!!" Teriaknya.
"Bu. Naya capek. Mau istirahat."
"Ingat, Naya. Dua hari lagi kamu akan menikah. Ingat itu! Jangan sering keluar rumah tanpa tujuan! Apalagi tanpa ada urusan yang penting!"
Klik
Pintu kamar dikuncinya.
Play list lagu di ponsel kembali dimainkannya. Seperti biasa, lagu Am I Wrongnya Nico and Vins mengalun ke telinganya.
Am I wrong for thinking out the box from where I stay?
Am I wrong for saying that I choose another way?
I ain't trying to do what everybody else doing
Just cause everybody doing what they all do
If one thing I know, I'll fall but I'll grow
I'm walking down this road of mine, this road that I call home
So am I wrong?
For thinking that we could be something for real?
Now am I wrong?
For trying to reach the things that I can't see?
But that's just how I feel,
That's just how I feel
That's just how I feel
Trying to reach the things that I can't see
Am I Wrong-nya Nico and Vins mengalun keras di telinga gadis berkerudung merah. Bola mata coklat dan tatapan tajamnya seakan serius menggeser-geser layar handphonenya. Pendar senja menyapa melalui genteng kaca di ruang tengah. Alunan musik kian memamerkan sajiannya.
Gorden yang terbuka seakan mempersilahkan angin sore berbisik bebas. Menemani mereka yang kini duduk saling menatap. Berhadapan dengan perempuan yang rahimnya pernah dijadikan rumah pertama selama sembilan bulan itu pun terasa berbeda. Napas seakan begitu banyak sekat. Jantung terasa berdetak lebih cepat. Dalam petang yang kian begitu pekat.
Pandangan pemilik bola mata coklat itu sesekali menatap perempuan berdaster motif mawar di sampingnya. Sebelum sekejap kemudian ditenggelamkannya. Entah rasa gugup apa yang menimpa seketika. Lalu pandangannya sengaja dialihkan menuju jendela. Namun ekor mata tak bisa membohongi. Batinnya meluruhkan cemas, ada apa ini? Tumben sekali?
"Kamu yakin mau melanjutkan kuliah?"
"I--i--iya, Bu. Rencananya begitu. Maaf, Naya belum ngabarin, Ibu. Rencananya nanti malam, tapi Ibu malah sudah tahu duluan," suaranya terbata.
"Ibu tak akan pernah setuju, Naya!"
Kernyit di dahi dan sorot mata tajam yang diikuti alis meninggi melukiskan kemarahannya. Seakan jelas sudah membuktikan. Ibunya memang benar-benar tak suka dengan keputusan Naya yang ingin melanjutkan studi kuliahnya.
"Tapi, Bu. Naya hanya ingin menjalani apa yang Naya pengin. Bahagiain Ibu dengan kesuksesan nanti. Ibu gak pengin lihat anaknya sukses?" Nadanya berusaha meyakinkan.
"Sudah Ibu bilang. Ibu tak akan pernah setuju! Berani sama Ibu?" Alisnya kian meninggi. Terlukis begitu nyata menggambarkan kemarahannya.
"Tidak, Bu... Naya cuma ingin mengikuti mimpi Naya. Dan ini, bagian dari mimpi itu."
"Kalau kamu mau mengikuti mimpimu itu. Hiduplah di mimpimu saja! Anggap saja Ibu tiada!" Tangannya secepat kilat menggebrak meja di sampingnya.
“Bu, sekali ini aja Naya pengin nentuin pilihan sendiri. Tolong...” Gadis berbola mata coklat itu memelas diri. Namun, Ibunya tak mendengarkannya.
Perkataan Ibunya sore itu sungguh terasa mencekik. Tak pernah ia semarah itu. Semilir angin yang menjumpai dari balik jendela turut membisukan mereka. Diam. Tiada kalimat yang mencuat setelah itu. Sebelum Ibunya menimpali Naya dengan pertanyaan lagi.
"Emang gak bisa nurut sama Ibu, Hah?" Tanya Ibunya memecah diam.
Naya tau itu hanya pertanyaan kekecewaan. Naya pun hanya mengangguk seolah mengiyakan.
"Ngapain buang waktu sekolah hanya untuk kuliah? Sadar diri, Naya. Kamu itu perempuan! Bakal jadi Ibu rumah tangga juga!"
"Jika kamu lebih memilih mimpimu daripada Ibu, Pergilah!" Seraya melangkah masuk ke ruang dapur.
Lagi, tak bisa dirinya menjawab rentetan pertanyaan itu. Seakan interogasi kian menderu. Seketika, bayang langkah Ibu berlalu. Meninggalkan gadis berkerudung merah itu--yang kian pilu, dirundung waktu.
Naya pun kembali membisu.
Tertunduk lemah tak seriang rona wajah yang ditampakkan saat menikmati alunan musik di ruang tengah tadi. Begitu dahsyat batinnya terkoyak. Linangan air mata tak tertahankan lagi. Bagaimana bisa memilih melanjutkan keinginannya melanjutkan kuliah atau tetap memilh tetap diakui sebagai anaknya?
Senja di ruang tengah yang tersorot atap kaca pun pulang ke peraduannya. Saat Naya beranjak melangkahkan kaki menuju ruang tengah. Senada bayangan Ibunya yang marah. Sifat pemberaninya pun luluh, tak sekuat warna kerudungnya. Ia pun mematikan Handphone. Menatap atap genteng kaca yang tak lagi jingga. Tiada senja. Namun, bagaimana menjalani pilihan hidupku? Pertanyaan yang kian mengganggu benaknya.
"Kalau mau tetap kuliah, cari uang sendiri!"
Suara yang cukup meninggi mengagetkan Naya yang berusaha menenangkan suasana hati. Segera langkah kaki menemui Ibunya yang sudah terduduk kembali di ruang tamu.
"Kamu dengar suara Ibu tadi, kan? Tinggal nurut Ibu aja, gausah kuliah! Sudah, mikirin yang pasti aja. Siapin diri untuk Julio nanti!"
"Tapi, Bu. Naya pengin belajar lagi." Suaranya begitu pelan.
"Kamu lebih milih mimpimu itu? Pergilah!"
"Bukan, Bu. Bukan begitu maksud Naya. Ibu juga tau, Naya penginnya bisa kuliah. Di sana lebih banyak banyak hal yang Naya pengin. Ada jurusan yang Naya suka." Kian pelan ia menjelaskan.
"Ah, alasan! Terus saja membangkang! Hidup saja sana di mimpimu!"
Sontak meja ruang tamu bergeser cepat. Kaki Ibu menyentuh keras dan sempat akan menjatuhkan vas bunga di atasnya. Lukisan kemarahan ibunya kini tergambar nyata sekali di depan Naya. Sukses mengundang diam. Pun seolah cicak ikut terundang untuk diam. Juga semut-semut yang berjalan di pojok dinding rumahnya. Semuanya membisu. Sebelum suara adzan maghrib sayup-sayup terdengar merdu.
“Bu...”
“Apalagi, Nak? Apa susahnya cukup bekerja di rumah lalu nikah?”
“Gitu aja enak kan?" Ibunya kini tak bersuara lebih tinggi dari sebelumnya.
“Bu... Ibu pengin lihat Naya bahagia ‘kan?”
“Tolong, Bu. Kali ini saja Naya yang tentuin pilihan hidup Naya.” Laras memohon lagi. Seakan belum pernah mengenal kata menyerah.
“Ibu gaminta apa-apa dari kamu, Nak. Ibu Cuma minta kamu manut. Gak susah, ko. Gak perlu kuliah. Sama saja.” Ibunya tetap kekeh dengan keinginannya. Kemudian beranjak, dan meninggalkan Naya sendiri.
Tak selera memutar playlist di handphonenya lagi. Naya pun mengalihkan kegiatan. Seleranya adalah musik-musik ceria. Bukan melankolis. Dibukanya foto-foto jurusan sastra inggris yang ia impikan. Banyak sekali. Sengaja didownload menjelang kelulusan SMAnya.
Kini cahaya harapannya untuk melanjutkan kuliah itu seakan sudah tiada. Luruh seketika. Tertimpa oleh deru amarah perempuan yang mana surga dititipkan di telapak kakinya. Apa Naya salah? Apa harus menuruti semua perintah Ibu agar layak mendamba surga-Mu?
Linangan air mata pun kian deras tersembunyi di balik punggung perempuan yang tak lagi berdaster mawar, namun siap keluar rumah dengan mukena putihnya. Bukan tentang keterpaksaan mengalihkan mimpi, tapi apa salahnya berjalan sesuai keinginan sendiri?
***
Dug... dug.. dug...
"Bu Kinanthi..." Suara laki-laki terdengar mengetuk pintunya dengan keras.
"Maaf, ada apa, yah Pak?" Naya membuka pintu untuk laki-laki yang entah siapa. Wajahnya seperti memendam marah. Bersiap meledak kapan saja.
"Kamu pasti anaknya, yah. Mana Ibumu?! Hah?!"
"Sebentar, Pak. Ibu belum pulang dari warung. Silakan masuk dulu."
"Ah... gausah! Cepat telfon Ibumu!"
"Maaf, emang ada perlu apa ya, Pak?!"
"Pake nanya lagi. Hutang Bapakmu itu sudah banyak sekali. Nunggu terus saya. Capek tau! Buruan!!"
Baru saja Naya akan menelpon Ibunya, ia sudah melihat berjalan di depannya.
"Nah... ini dia. Mana uangnya?!"
"Maaf, Pak. Saya belum bisa. Saya janji setelah anak saya menikah, pasti saya lunasin semuanya."
"Janji trus, sampai kapan hah!?"
"Maaf, Pak."
"Yasudah!! Saya tunggu dua hari lagi. Kalau tidak, saya sita rumah ini! Ingat itu!!"
Bentaknya sebelum akhirnya pergi.
Wajah Ibu seakan makin meluruh dihajar waktu. Naya merasa bersalah dengan semuanya. Namun, ia juga tak tahu apakah ia mampu menjalaninya?
"Kamu lihat kan, Nak... nasib kita ada di tanganmu. Mau lihat Ibu diusir dari rumah ini atau menikah dengan Nata?!" Ucap Ibunya lirih tapi tegas. Sembari menahan air matanya. Lalu tak berapa lama masuk ke rumah.
"Ibu... Maafkan aku." Gumam Naya.