Kenangan Naya Sebelum Menikah

1079 Kata
"Kekuatan bertopeng kelemahan itu bernama tangisan perempuan." Tiada ada bunga yang tak suka disiram. Apalagi dipupuk. Bunga anggrek sekalipun—tetap membutuhkan air—kesejukan. Begitupun Naya. Matahari yang tak kunjung lelah. Entah mengapa ia percaya hakikatnya, hati setiap orang lembut adanya. Terlebih perempuan. Ia suka mendengar petuah. Dari siapa saja. Sekelilingnya mengenal Naya sebagai matahari paling tabah hati. Naya sering menostalgiakan rindu. Mendengarkan aneka kisah untuk sebuah kasih. Tentangnya yang sedari dulu katanya pemalu. Pun yang katanya bicaranya lembut. Saat itu, ia disuruh ke warung beli obat. Ia sampai mengucap ulang tiga kali. Dan penjual tokonya sampai terseyum mendekatinya, "Bicaranya lembut sekali, Nak." Ibunya juga terlalu merdu berkisah. Hingga senja mulai tampak di mata. Kini, ia bukan anak kuncup bunga yang baru menetas dari biji. Atau anak yang harus sampai bicara berkali-kali hanya untuk orang lain mendengarnya. Satu hal yang makin subur: Ia nampak merasa lebih kuat dengar mendegar nasehat. Senja kala itu menghadirkan hujan. Ia selalu berbaik hati menyiramkan kuncupnya yang tak kunjung berbunga. "Jadilah bunga yang pandai menjaga diri, ya." Katanya kala itu. Dengan tersenyum lembut, ia terus menyiraminya hingga dirasanya cukup. "Matahari selalu tabah hati. Kamu cocok jadi matahari." *** Langit membawa mendung tak terduga. Mungkin, hujan sedang menyiapkan kejutannya. Tapi justru Naya begitu kawatir kepadanya. Ia tak dapat memungkiri; terkadang takut dia kenapa-napa. Ia rela tak menyiraminya. Asal Genta baik-baik saja. Di pelataran suatu ruangan, ia menyendiri. Membaca buku yang dibawanya. Sesekali memandangi menara bercat hijau yang kokoh memandang langit. Langit yang selalu menerima apa pun penghuni buminya. Setiap detail bangunan di sekitarnya seakan menjelma penuh titik-titik di mata Naya. Setahun ini seperti musim yang tak kunjung berganti. Ia mesti lalui sendiri. Tak melanjutkan studi, membuatnya terus memupuk mimpi. Mimpi yang dengannya—ia merasa lebih hidup dalam dunia yang singkat ini. Rahasia, memang begitu ajaib nyatanya. Langit selalu punya kendalinya. Tak berapa lama setelah wajah kawatirnya memberisiki langit, malaikat memberi kabar. Datanglah seseorang yang memandanginya dari kejauhan—ia datang dengan penuh senyuman. Entah itu senyum sedih atau kegembiraan. "Begini ya matahari kalau lagi murung. Baru ditinggal sebentar saja cemberutnya sudah bikin langit geleng-geleng kepala. Hahaha." Langkahnya kian mendekati Naya. "Genta?" "Kamu tau darimana aku di sini?" "Tau dari langit." "Gak lucu tau!" ucap Naya setengah kesal. "Ciaa ... ngambek! Hey, dengerin. Gak selamanya yang kita harapin akan selalu begitu adanya." Genta mengucapkan dengan santainya. "Hum?" Refleks Naya tertegun. "Ya. Sebentar lagi kau pasti akan mekar. Banyak lebah dan kupu-kupu bertamu kepadamu. Ataupun yang hilir mudik menggodamu." Nadanya kian rendah. "Lalu?" "Emang lupa nasehat itu?" "Jadilah bunga yang pandai menjaga dirinya. Selalu tabah hati." Naya refleks mengucapkannya dengan menunduk. Ia justru tersenyum. Seiring mentari yang mulai menampakkan diri. Serasa ingin bergantian menyapanya. Tak berapa lama, makin mendekat dan mengantarkan hujan pulang dengan sendu di matanya. "Gimana kabarmu? Kemana aja, Ta?" Naya tanyakan sembari mengeja langit. Matanya seakan memaksa bulir air mata masuk kembali ke ruangannya. "Aku ngrepotin kamu ya, Ta? Sampai pergi tanpa permisi." "Heh!" Naya menundukkan wajah. Menyeka kembali bulir mata yang memberontak ingin terjatuh. "Gapapa, Ta. Kalau mau pergi lagi. Aku bisa lalui semua sendiri. Tak perlu hujan." "Heh, Nay. Dengerin dulu." "Iya, aku salah. Aku minta maaf. Sudah beberapa bulan ini tak berkabar apapun. Sekarang tiba-tiba menemuimu di sini." "Aku cuma gapengin kamu kawatir. Kondisiku benar-benar buruk saat itu. Aku terpaksa ke Bekasi. Melanjutkan peruntungan nasib. Maafin aku tak berkabar apapun setelah kamu dirawat itu." "Oh gitu, ya." Naya berpura tersenyum bahagia. "Nay ... aku yakin kamu kuat. Kamu di sini baik-baik aja 'kan?" "Seperti apa yang kamu lihat. Aku bisa ke tempat ini sendiri. Aku tak lagi takut berjalan kemanapun tanpa sahabat sekalipun." "Heh! Gaboleh bilang gitu," Genta berusaha mencegah sendunya. "Gaboleh? Bolehnya aku tersenyum terus? Memang ada bunga yang selalu mekar, Ta? Hum?" Mata Naya berkaca-kaca menatap Genta. "Aku baru pulang kemarin. Maaf, tak langsung menemuimu. Aku sengaja mencarimu ke sini—karena tau Masjid ini jadi tempat favoritmu selain pantai...," "Aku menanggung sedihmu. Kumohon, maafkan aku, Naya." Naya mengambil kunci sepeda dari saku bajunya. Bersiap diri pulang dari Masjid itu. "Nay, mau kemana?" "Maaf, Ta. Ibuku sudah nunggu di rumah. Kawatir nanti marah." "Yaudah, aku ikut yah?" "Jangan. Kamu fokus aja dengan urusanmu. Aku sibuk." "Nay...," Genta berusaha terus memanggil. Meski yang dipanggilnya kian meninggalkan bayang. *** Musim mengabarkan tentang pergantian senyuman. Berbagai kuncup bunga telah siap memamerkan bunga yang mekar sempurna. Tapi tidak dengan Naya. "Ayo bersiap!" Niken sudah di depan Naya. "Ken, kemarin aku lihat Genta," ucap Naya dengan wajah setengah semangat. "Oh ya? Trus gimana? Dia cerita apa aja? Ketemu dimana?" "Ken ... please deh," "Iya aku penasaran, Nay. Beberapa bulan ini ngapain aja tiba-tiba muncul di hadapanmu." "Dia sepertinya nyari kerja di Bekasi." "Itu aja? Kamu ga cerita apapun tentang aktivitasmu selama ini?" "Buat apa, Ken? Toh beberapa bulan ini aku baik-baik aja 'kan?" "Tentang pernikahanmu?" "Kamu tuh ya. Kamu ngediamin aku berapa lama coba? Murung tanpa mengatakan apapun saat Genta ngilang gitu aja. Kamu kerja serabutan kesana-sini. Aku tau kamu capek, Nay...," "Kamu berharap Genta sedikit jadi wadah berbagi ceritamu 'kan?" "Udahlah. Jangan dibahas lagi. Kita berangkat sekarang aja." Niken agak kesal. Melihat sahabatnya menahan sendu sendiri. "Nay... kamu yakin Genta sudah tahu tentang pernikahanmu itu? Tinggal sehari, lho." "Kamu yakin gak mau bicarain tentang ini? Pikirkan dengan tenang, Nay. Genta sudah ada di sini." Tutur Niken. *** Langit malam masih membisu. Naya ingin sekali ia di sisinya saat itu. Tanpa dijeda waktu. "Genta ...," mulutnya mulai reflek mengucapkannya. "Aku rindu." Tetes air mata mulai menjatuhi halaman buku di tangannya. Angin begitu peka dengan tangisnya. Ia berbaik hati mengabulkan tangisnya dengan menyajikan harapan. Ia mulai melahirkan gerimis di sepanjang malam. Dan melahirkan hujan di depan matanya. "Kau kenapa? Besok kau harus mekar. Berbahagialah." "Aku tau." "Heh! Kamu kenapa? Jadilah bunga yang kuat!" "Tau! Aku gamau denger lagi nasehatmu sekarang!" "Heh! Maafkan aku datang terlambat." "Tau! Nyebelin!" "Jangan menangis, kumohon. Aku lemah melihatmu menangis. Tak ada bunga yang menangis malam ini." Gumamnya kesal pada dirinya sendiri. Ia pergi terburu dipanggil waktu. Sedang Naya? Naya tahu, ia tak perlu menangis. Detik tadi, justru saat-saat Naya begitu rindu nasehat indahnya. Meski bibirnya berkata "Aku tak butuh." Namun, dalam lubuk hati terdalam nasehatmu sudah ditanam. Benar katamu. "Tak ada bunga yang menangis malam ini." "Aku akan menjaga diri. Berusaha selalu tabah hati. Bukan untukmu. Tapi untuk keajaiban langit. Takdir. Seutuhnya." "Terimakasih, Genta." Lirihnya memaksa tersenyum. *** Hari kian bergulir. Rentenir yang menagih hutang Bapaknya pasti akan kembali datang. Naya mulai pening. Apa yang harus dia pilih?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN