Luka (Flashback)

704 Kata
Apa Hakikat Luka? Dering pemberitahuan mengusik lelap tidur Naya. Ironisnya, baru satu jam lalu dia mampu membenamkan diri dalam bantal mimpi. Naya memegangi kepalanya yang terasa pening. "Naya, apa benar kamu sudah menikah?" "Naya, berita itu cuma gosip, kan?" Berderet-deret pesan masuk kembali memberondong Naya. Sebagian pengirim pesan barangkali bertanya karena sungguh peduli. Sebagian lagi nampak jelas sebatas menyuapi keingintahuan dan lentur lidah mereka. Segelas air putih membasahi kerongkongan Naya yang kerontang. Air putih yang diteguk sayangnya tak cukup menyelamatkan hati yang dilalap api benci. Naya melangkah gontai menuju ruang keluarga, di mana hiburan biasa didapatkan. Namun, Naya masih belum bisa mendapatkan peredanya. Pandangannya memang ke layar TV, tapi ingatannya seolah berisik sekali untuk masuk dalam kekawatirannya. Naya benar-benar sedih. Ia terus mengurung diri di kamarnya. Bukan karena tak sayang Ibunya. Namun, ia bingung harus meluapkan seperti apa. Agar Ibunya bisa mengertinya. "Naya!! Sudah pagi! Kamu gak berangkat?" Teriak Ibunya. Naya tak menjawab sedikitpun. "Naya!! Mau jadi anak durhaka kamu? Mau ikut Bapakmu saja yang gajelas itu, hah?" Ibunya kian meluapkan amarahnya. Naya masih diam. Mengusap air matanya. Matanya semakin sembab. Semalaman ia menangis. Pintu kamarnya sedikit dibukanya, ia bersiap diri. "Kenapa Ibu panggil tadi gak jawab?" "Hah?" Naya masih diam dengan seluruh pertanyaan Ibunya. "Dasar, anak sekarang kurang ajar!" Ibunya kian marah menjadi-jadi. Apakah itu luka? Apa itu kesedihan? Apakah keduanya hanya ada karena kita belum terbiasa menerimanya? Apakah hidup benar-benar memaksa kita bertahan dari merasakan keduanya? Sejauh apapun tekad berlari, akan senantiasa ada halangan yang menghampiri. Barangkali, di sanalah kekuatannya diuji. Akankah Naya bertahan dengan keduanya atau hancut karenanya? *** Naya masih teringat bagaimana memori saat masih ada Genta. Genta yang selalu mendukungnya. Terutama dengan hobinya, menulis. Naya teringat memori saat Genta begitu mengapresiasinya. Genta yang pertama kali tahu tulisannya dimuat. Genta pula yang pertama kali mendukungnya. Genta tahu kemauan Naya. Genta tahu mimpi-mimpi Naya. Bahkan, bukan hanya menulis dalam hal apapun. Genta begitu berharga bagi Naya. "Ta... kamu sebenernya dimana? Kenapa menghilang begitu saja?" "Apa malam hujan itu aku membuat kesalahan untukmu?" "Ta... aku butuh kamu." Gumam Naya. Selepas merapikan diri, ia bersiap ke pekerjaan sementaranya. Menjadi admin di sebuah toko kue. "Sudah? Sekarang mau berangkat?" "Jangan lupa setelah kerja langsung pulang! Ibu ada keperluan penting untukmu!" *** Sore itu... Naya pulang dengan segala misterinya. Ibu dan sesosok laki-laki tampan, kulitnya putih bersih, hidung mancung, sangat perfeks dalam tampilan. Senyumnya pun ramah. Tak menyiratkan ada suatu hal menyeramkan darinya. Ya. Dialah Julio. "Nah.. ini Nak Naya." "Hey, Naya. Kamu baru pulang kerja?" Naya tak menjawab sedikitpun. "Naya!!" Bentak Ibunya. Naya terpaksa tersenyum kecil. "Naya beberes dulu, Bu." "Eh, tunggu. Ibu ada kejutan untukmu. Ini." "Apa, Bu?" "Baca saja." Sebuah undangan diperlihatkan Ibunya dengan bahagia. Naya semakin heran. Dilihatlah undangan itu. Wedding Invitation Nata & Naya "Hah? Menikah? Ibu!!" Geram Naya. Naya segera menjatuhkan undangan itu. Ia segera berlari ke kamarnya. Praaaak!!! Praaankk!!! "Haaaaaaaah!!" Berbagai benda dijatuhkan Naya begitu saja. Disusul suara teriak dan isak tangisnya. Ia sudah tak tahan lagi dengan paksaan Ibunya. Beberapa tetangga yang kebetulan lewat pun melihatnya. "Waah... Ibu... ada apa tuh rame-rame." "Itu tuh... Ibu Kinanthi, kabarnya anaknya mau dijodohin sama anak bos kaya. Buat lunasin hutang lagi. Ihh amit-amit." "Ko tega banget yah." Kinanthi yang melihat beberapa tetangganya berkerumun, menatapnya sinis. "Ngapain di sana Ibu-ibu? Iri, yah?" "Hihh sereem. Ayo pulang Ibu-ibu." Mereka pun membubarkan diri. *** Beberapa hari kemudian, kabar akan menikahnya Naya dan Julio tersebar luas. Sampai terdengar ke telinga Genta. "Nak..." "Iya, Bu?" "Kamu sehat-sehat saja di sana?" "Alhamdulillah sehat, Bu. Ibu sendiri? Sehat 'kan?" "Alhamdulillah, sehat. Ibu ada kabar kurang baik untukmu, Nak. Kamu yang sabar, yah." "Kenapa, Bu?" "Bu... gausah kabarin Kakak." Suara Sukma, adiknya merengek minta ke Ibunya untuk tak mengabari Genta. "Bu... ada apa? Cerita saja." "Naya, Nak... Naya." "Naya? Naya kenapa, Bu? Bu... tolong jangan bikin Genta kawatir." "Naya..." "Naya kenapa, Bu?" "Naya akan menikah tiga hari lagi, Nak." Terdengar sedu Ibunya. "Hah? Naya..." "Nak... Nak Genta..." Tiba-tiba suara tak terdengar. Ponsel Genta terjatuh. Pandangannya kosong. Ia seakan tak percaya dengan kabar ini. "Naya... Naya... kenapa?" "Kenapa harus sekarang?" "Maafkan aku yang pengecut ini, Nay." Gumam Genta. "Apa yang harus aku lakukan, Nay?" "Arrrrghhhhh!!" Praaankk!! Beberapa benda di sekitarnya dilemparkannya. "Pengecut kau, Genta!! Pengecut!!" Geramnya pada dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN