Matanya melihat wa story. Singkat, dipilihnya yang sekiranya membuatnya termotivasi. Jemarinya menyimak story dari seorang akun pengusaha makanan--yang diketahui mindsetnya brilian. Pelan Naya baca.
"Bukankah hakekatnya di dunia ini kita tak akan pernah merasakan nikmat kala sakit? Bahkan sedari kecil kita sudah diajarkan itu. Saat akan tumbuh gigi, betapa sakitnya. Tapi saat tumbuh, kita merasakan nikmatnya mengunyah."
Sejenak mensenyumi. Lalu menaburkannya di langit-langit hati. Yang semoga tetap semangat layaknya pagi. Itulah Naya. Perempuan yang selalu punya cara membuat senyum di wajahnya. Meskipun, perihal rasa raut wajahnya tak bisa berdusta.
***
Rasa nyilu dirasakan Naya sore itu. Gerimis dan hujan yang menyertai pulangnya beberapa hari ini—agaknya mempengaruhi kondisinya. Tangan kirinya—bekas patah tulang itu sesekali masih terasa.
Saat kondisi cuaca tertentu, terlalu capek, kerap menahan sakitnya sendiri. Sejenak, ia teringat kejadian itu. Masa pemulihan kesembuhannya. Matanya sayu tak bisa terpejam. Tangan kanannya menahan tangan kirinya. Sesekali merintih—menahan sakit nan perih. Ia ingin mengambil pena dan kertas sendiri. Ia rindu menulis.
"Aw! Sakit sekali ya Allah," tangan kanannya memang tak patah—separah tangan kirinya. Tapi bekas kecelakaan itu juga masih meninggalkan luka.
Alih-alih menulis, gelas yang berada di dekatnya tersikut jatuh. Matanya kian meraba sedih. Lebih sedih karena sahabat yang paling ia rindukan—menghilang entah kemana.
"Kamu kemana, Ta? Aku ngrepotin kamu, Ta?" rintihnya menahan sakit.
"Bu, Genta ga kesini lagi, ya?" tanya Naya kala itu.
"Sejak kemarin belum kesini. Kamu istirahat aja, ya," "Kalau perlu apa-apa, kamu bisa panggil Ibu. Yah?" Ibunya menenangkan.
"Naya bosen, Bu. Pengin jalan-jalan. Biasanya Genta paling tau tempat yang indah," desir Naya.
"Ibu juga gatau Genta kemana. Kamu sabar, ya. Ibu yang temenin kamu jalan-jalan."
Begitulah. Memori ingatan bekerja pada perempuan. Selalu ada celah menjenguk ingatan tanpa lengah.
Ya. Memori dimana saat itu Ibu tak terlalu membenci Genta seperti ini. Entah, apa yang membuat Ibunya membenci Genta. Ekonomikah?
***
Genta baru saja ke sebuah pabrik. Cuaca yang terik, cukup membuatnya kian pelik. Ada perasaan rindu dan penyesalan yang tergambar dari wajahnya. Sesekali menatap langit, untuk secepatnya menjatuhkan di halaman yang sulit.
"Maafin aku pergi begitu saja, Nay. Aku cuma pengin kamu gak kawatir." Desirnya bersama angin.
Sesampainya di indekost—lelah tak tertahankan. Dipandanginya poster joko pinurbo, sapardi djoko damono, dan soe hok gie. Mereka seolah ingin menghibur lelahnya. Dan tak berapa lama pun Genta tertidur begitu saja.
Teriknya kesibukan, mengantarkan matanya di bunga lelah. Entah tiba-tiba ia seperti dibawa peri-peri rindu. Mereka berisik sekali mengajak jemarinya mengunjungi suatu rumah berwarna biru. Peri-peri rindu itu tertawa malu saat menghadapkannya di ujung pintu. Setelahnya mereka pergi tanpa ba-bi-bu. Angin dari pohon magnolia menerbangkan surat tepat di hadapan Genta. Harum mewangi.
"Silahkan masuk, duhai pemilik rindu."
Wangi bunga yang lembut kian menenangkan Genta. Keheranan kian menyerbu. "Ini rumah siapa? Warna biru? Kenapa harus semuanya biru? Pemilik rindu?" Gemerisik lirihnya.
Langkah, diayunkan pelan. Tiada salam yang menyambut. Sebelum beberapa menit kemudian, bunga di atas meja tamu itu bicara.
"Salam wahai pemilik rindu. Nikmatilah rindumu. Semoga selalu diberi yang terbaik," tutur dengan begitu ramahnya.
"Aamiin. Terimakasih, bunga." Genta balas tutur sopannya.
Genta langkahkan kaki kembali. Sepi. Sunyi. Sampai pintu belakang rumahnya. Tak terduga. Sajian ombak dari semilir pantai terpapar lembut di matanya. Saking derasnya ia mengalir menjadi buku-buku. Buku-buku yang terpajang rapi di etalase belakang. Tepat di samping ruangan—yang sepertinya tempat istirahat pemilik rumah biru ini.
Genta membuka pelan beberapa lembar bukunya. Mawar biru. Mawar merah muda. Mawar merah. Lily. Dan matahari.
"Apakah pemilik rumah ini penyuka bunga?" Kenapa selalu ada gambar bunga?"
Sejenak ia menengadah ke langit-langit jendela tepat di sampingnya. Genta jatuhkan tepat di buku yang terbuka. Tak jauh dari jendela.
Ada prosa di dalamnya. Hampir jatuh saat Genta tak sadar membalikkan salah satu halamannya.
Kubuat rumah biru, untuk pemilik rindu
Dari untaian sedih yang tak terhitung minggu
Kubuat aroma pantai di belakangnya
Tepat di dekat peristirahatannya
Agar saat lelah menyapa, kubisa menawarkan ketenangan padanya
Dan tak luput, kuhiasi dengan berbagai aroma bunga.
Maaf, untuk bunga itu yang kusuka
;matahari,
Semoga riangnya juga kau suka
Biarkan ia bicara
Sebab aku merasa agak capek membicarakan bagaimana baiknya mengutarakan cinta yang belum pantas tersampaikan kata.
Biarlah ia hidup dalam kehidupan rasa.
Sebelum akhirnya, kulihat ia
Menatap bunga megah di luar sana
Tak sampai hati aku merasai luka
Sudah kucoba menemani luka, tapi tak kunjung sembuh juga
Barangkali memang ini saatnya
Cinta membiarkan dengan segala takdirnya
Biarlah ia hidup dalam kehidupan rasa.
Biarlah ia hidup dalam kehidupan rasa.
Biarlah ia hidup dalam kehidupan rasa.
Aku pergi. Entah dengan tujuan apa.
Biarlah ia hidup dalam kehidupan rasa.
Biarlah ia hidup dalam kehidupan rasa.
Aku pergi. Entah dengan tujuan apa.
Untuk tak tahu, apakah kau akan mencariku? Bahkan sekedar tau apa yang kubuat dengan diam-diam untukmu?
Biarlah. Barangkali benar, kata Ibu. Kehidupan selalu mengajari luka sebelum bahagia. Meski entah kebahagiaan mana yang kan kudapat setelah ini?
Tapi aku akan pergi.
Tetap pergi.
Meninggalkan biru, riuh ombak, dan aroma bunga di halaman rindu.
Genta seperti merasai pilu membasahi ruang hatinya. Tak dirasa, air mata telah membasuhi halaman pipinya. Hati perempuan mana yang begitu lembut mencintaiku?! Sementara bunga megah yang ia lihat? Barangkali ini hanya dugaannya yang keliru.
"Aku harus mencarimu, bunga. Dimanapun. Maafkan aku." Lirih Genta ucap pelan dengan dirinya sendiri.
Ia balikkan halaman setelahnya. Hanya ada gambar cahaya.
"Aku akan kesana! Biarkan aku berteduh di matamu. Selamanya."
Tiba-tiba darah jatuh tepat di tangannya yang mengenggam semangat. Genta terperanjat. Pergi menjauh—meninggalkan bunga dan rindu di sana.
***
"Astaghfirullah ..., mimpi apa? Kenapa jadi keinget Naya?"
Genta segera ambil ponselnya, tapi ia teringat permintaan Ibunya Naya. Ia batal menghubungi Naya.
"Arrggh... kenapa aku jadi pengecut gini? Apa yang terjadi sama kamu, Nay?"
Genta terbangun. Mengarungi ingin yang dibiarkannya diterpa angin. Matanya meraba dinding-dinding kamarnya. Seolah orang asing—yang keheranan di tempat berbeda.
Genta menuliskan mimpi yang sama di buku hariannya. Untuk seorang pemimpi sepertinya—tanya adalah nyata. Kenyataan memang selalu penuh tanya. Sebab itu, apa yang membuat ia bertanya-tanya—akan selalu dicari dalam kehidupannya.
"Naya? Apa itu kamu?" "Kehidupan rasa seperti apa? Kamu baik-baik saja di sana?"
"Kamu baik-baik saja 'kan?" Deretan tanya menghantui jiwanya sendiri.