Mimpi Buruk Naya

1073 Kata
"Naya!! Cepet keluar! Ada tamu penting! Pakaian yang rapi, cepat keluar!!" Naya segera mengusap air matanya. Ia buka pintu kamar sedikit dan bertanya. "Ada apa, Bu? Siapa yang datang?" Ge..." Baru saja Naya akan kelepasan menyebut nama Genta. "Siapa? Genta maksudnya? Kamu masih mikirin dia, hah? Ibu bilang lupain!" "Sudah! Di luar ada tamu penting! Cepet keluar!!" Mau tak mau, Naya menyiapkan diri. Disana sudah ada seorang laki-laki rapi dengan senyumnya yang khas. "Hai, Naya. Saya Nata." Laki-laki itu memperkenalkan dirinya. "Tuh... lihat Nata. Dia begitu ramah. Sopan. Kamu yang sopan juga dong." Tegur Ibunya pada Naya. Naya hanya tersenyum kecil. Dengan wajah terpaksanya. "Maaf ya Nak Nata. Anak saya Naya memang pemalu." "Iya, Bu. Gapapa. Saya suka kok perempuan yang gak agresif. Seperti Naya. Kelihatan lemah lembut." "Oh iya, dia memang halus. Penyayang." Jawab Ibunya. "Nah, sini duduk, Nay." Naya kembali hanya menuruti Ibunya. Namun, begitu satu kalimat keluar dari mulut Ibunya, ia langsung pergi ke kamarnya kembali. "Naya... ini Nata. Nata Najendra. Putra dari Pak Himawan. Dia yang nanti akan jadi suamimu, Nak." Naya begitu kaget mendengarnya. Ia begitu menahan kesal dengan Ibunya. Tanpa basa basi, Naya menarik diri dari obrolan itu. Tak peduli di sana masih ada Nata. *** Braak!!! Pintu kamar ditutupnya begitu keras. Ia nyalakan playlist lagu di hpnya. Am I wrong for thinking out the box from where I stay? Am I wrong for saying that I choose another way? I ain't trying to do what everybody else doing Just cause everybody doing what they all do If one thing I know, I'll fall but I'll grow I'm walking down this road of mine, this road that I call home So am I wrong? For thinking that we could be something for real? Now am I wrong? For trying to reach the things that I can't see? But that's just how I feel, That's just how I feel That's just how I feel Trying to reach the things that I can't see Am I Wrong-nya Nico and Vins mengalun keras di telinga gadis berkerudung merah. Bola mata coklat dan tatapan tajamnya seakan serius menggeser-geser layar handphonenya. Pendar senja menyapa melalui genteng kaca di ruang tengah. Alunan musik kian memamerkan sajiannya. Seketika, perempuan paruh baya berkulit sawo matang mendekati dengan muka masam. "Naya, sini! Ada yang mau Ibu omongin, Nak." Ibunya memanggilnya dibalik pintu. Namun, Naya kali ini tak menjawab sedikitpun. Alunan lagu dikeraskan. Isak tangis Naya kian tak terhankan. Gorden yang terbuka seakan mempersilahkan angin sore berbisik bebas. Menemani mereka yang kini duduk saling menatap. Berhadapan dengan perempuan yang rahimnya pernah dijadikan rumah pertama selama sembilan bulan pun terasa berbeda. Napas seakan begitu banyak sekat. Jantung terasa berdetak lebih cepat. Dalam petang yang kian begitu pekat. "Ibu tak akan pernah setuju kamu kuliah lagi, Naya!" "Ayo cepat temui Nata!" Kernyit di dahi dan sorot mata tajam yang diikuti alis meninggi melukiskan kemarahannya. Seakan jelas sudah membuktikan. Ibunya memang benar-benar tak suka dengan keputusan Naya yang ingin melanjutkan studi kuliahnya. "Emang gak bisa nurut sama Ibu, Hah?" Tanya Ibunya memecah diam. "Ngapain buang waktu sekolah hanya untuk kuliah? Sadar diri, Naya. Kamu itu perempuan! Bakal jadi Ibu rumah tangga juga!" "Jika kamu lebih memilih mimpimu daripada Ibu, Pergilah!" Seraya melangkah masuk ke ruang dapur. Lagi, tak bisa dirinya menjawab rentetan pertanyaan. Seakan interogasi kian menderu. Seketika, bayang langkah Ibu berlalu. Meninggalkan gadis berkerudung merah itu--yang kian pilu, dirundung waktu. Naya pun kembali membisu. Tertunduk lemah tak seriang rona wajah yang ditampakkan saat menikmati alunan musik di ruang tengah tadi. Begitu dahsyat batinnya terkoyak. Linangan air mata tak tertahankan lagi. Bagaimana bisa memilih melanjutkan keinginannya melanjutkan kuliah atau tetap memilh tetap diakui sebagai anaknya? Sayup, terdengar langkah Nata pamit. Naya pun hendak keluar kamar sebentar. Senja di ruang tengah yang tersorot atap kaca pun pulang ke peraduannya. Saat Naya beranjak melangkahkan kaki menuju ruang tengah. Senada bayangan Ibunya yang marah. Sifat pemberaninya pun luluh, tak sekuat warna kerudungnya. Ia pun mematikan Handphone. Menatap atap genteng kaca yang tak lagi jingga. Tiada senja. Namun, bagaimana menjalani pilihan hidupnya? Pertanyaan yang kian mengganggu benaknya. "Kalau mau tetap kuliah, cari uang sendiri!" Suara yang cukup meninggi mengagetkan Naya yang berusaha menenangkan suasana hati. Segera langkah kaki menemui Ibunya yang sudah terduduk kembali di ruang tamu. "Kamu dengar suara Ibu tadi, kan? Tinggal nurut Ibu aja, gausah kuliah!" "Tapi, Bu. Naya pengin belajar lagi." Suaranya begitu pelan. "Kamu lebih milih mimpimu itu? Pergilah!" "Bukan, Bu. Bukan begitu maksud Naya. Ibu juga tau, Naya penginnya bisa kuliah. Di sana lebih banyak banyak hal yang Naya pengin. Ada jurusan yang Naya suka." Kian pelan ia menjelaskan. "Ah, alasan! Terus saja membangkang! Hidup saja sana di mimpimu!" Sontak meja ruang tamu bergeser cepat. Kaki Ibu menyentuh keras dan sempat akan menjatuhkan vas bunga di atasnya. Lukisan kemarahan ibunya kini tergambar nyata sekali di depan Naya. Sukses mengundang diam. Pun seolah cicak ikut terundang untuk diam. Juga semut-semut yang berjalan di pojok dinding rumahnya. Semuanya membisu. Sebelum suara adzan maghrib sayup-sayup terdengar merdu. “Bu...” “Apalagi, Nak? Apa susahnya cukup bekerja di rumah lalu nikah? Lihat Julio. Dia tampan, kaya, ramah. Kurang apalagi?” “Jadi istri bos besar, duduk di rumah, hutang ibu pun lunas, gitu aja enak kan? Apa itu susah, Nay?" Ibunya kini bersuara lebih tinggi dari sebelumnya. “Bu... Ibu pengin lihat Naya bahagia ‘kan?” “Tolong, Bu. Kali ini saja Naya yang tentuin pilihan hidup Naya.” Naya memohon lagi. Seakan belum pernah mengenal kata menyerah. “Ibu gaminta apa-apa dari kamu, Nak. Ibu Cuma minta kamu manut. Gak susah, ko. Gak perlu kuliah. Sama saja.” Ibunya tetap kekeh dengan keinginannya. Kemudian beranjak, dan meninggalkan Naya sendiri. Tak selera memutar playlist di handphonenya lagi. Naya pun mengalihkan kegiatan. Seleranya adalah musik-musik ceria. Bukan melankolis. Dibukanya foto-foto jurusan sastra inggris yang ia impikan. Banyak sekali. Sengaja didownload saat memasuki kelas tiga sekolah menengah pertama. Kini cahaya harapannya untuk melanjutkan kuliah itu seakan sudah tiada. Luruh seketika. Tertimpa oleh deru amarah perempuan yang mana surga dititipkan di telapak kakinya. Apa Naya salah? Apa harus menuruti semua perintah Ibu agar layak mendamba surga-Mu? Linangan air mata pun kian deras tersembunyi di balik punggung perempuan yang tak lagi berdaster mawar, namun siap keluar rumah dengan mukena putihnya. Bukan tentang keterpaksaan mengalihkan mimpi, tapi apa salahnya berjalan sesuai keinginan sendiri? Lagi, bayangan Genta mengetuk-ngetuk pikirannya. "Genta, sebenernya kamu dimana? Kenapa saat seperti ini kamu tak ada? Aku butuh kamu, Ta." Gumam Naya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN