Bagaimana mungkin, seseorang akan menyerah pada keadaan? Apalagi kondisi yang sangat tak memungkinkan untuk bernapas lega?
Jendela rumah yang lebih mirip istana itu, tak sebebas yang Naya lihat. Pun, dengan setiap ruangan rumah itu luas tapi terasa begitu sempitnya.
"Sampai kapan aku akan bertahan di sini? Kenapa Ibu tak kunjung kemari? Ada apa sebenarnya?" gumam Naya yang sedang duduk di bangku taman.
Tak jauh dari tempat Naya duduk, terlihat seseorang memerhatikannya. Matanya penuh tanya dan curiga. Namun, juga rasa kasihan yang seperti seorang ibu pada anaknya.
Sesekali ia melangkah lebih dekat. Memerhatikan Naya dari belakang. naya tak merasa ada yang memerhatikannya.
Sampai akhirnya, perempuan itu mendekat padanya. Dengan wajah lembut dan penuh kasih ia menyapa Naya yang duduk termangu di sana.
"Non, ada apa sendirian di sini? Ada yang sedang dipikirkan Non Naya?" sapa Bi Darsih, seorang pembantu rumah tangga yang lebih mirip tangan kanan Nata dalam urusan mengurus rumah dan mengurus Naya.
"Ndak papa, Bi. Naya cuma merasa sendiri aja. Naya kangen Ibu," tuturnya kelu.
"Non Naya memang kenapa? Disini kan sudah ada bibi. Anggap saja bibi seperti ibu non Naya. Lagian bibi juga ndak punya anak di sini. Senang rasanya, kalau dianggap seperti ibu kandung," tuturnya khas seorang orang tua pada yang lebih muda.
"Iya, Bi. Makasih, ya. Naya gak tahu lagi gimana kalau ndak ada bibi di sini.Pasti sangat sepi."
Bi Darsih pun tersenyum. Ia mendekatkan dirinya. Seraya mendekap Naya dan mengusap rambutnya perlahan.
"Nak... sekarang kamu boleh mengira nasib begitu malangnya. Merasa dibuang orangtua sendiri hanya karena materi?" tutur Bi Darsih menasehati.
"Tidak apa merasa begitu. Tapi ingat satu hal, Nak. Ada hal berharga yang dimiliki anak muda," lanjutnya.
"Maksudnya, Bi?"
"Ya. Ada satu hal berharga yang hanya dimiliki oleh anak muda. Tidak ada di orang seperti Bibi ini. Makanya Non harus semangat," tuturnya lembut.
"Bi, bisa panggil Naya aja? Gausah pakai nona. Naya gaenak."
"Tapi... sudah kewajiban bibi menghormati Non Naya."
"Ndak usah BI. Lagian ndak ada Mas Nata juga kan? Bibi boleh panggil seperti itu kalau ada Mas Nata aja, yah?" pinta Naya.
Bi Darsih tersenyum. Seolah melihat senyum yang begitu ia rindukan.
"Bi..."
"Iya?"
"Tadi yang dimaksud Bi Darsih apaan? Yang hal berharga itu."
"Non tadi sudah bisa nebak kan?"
"Maksudnya?"
"Semangat. Semangat bermimpi. Cita-cita. Non Naya pasti punya cita-cita kan?"
"Ehm... ada sih, tapi...."
"Jangan ada tapi itu. Belajar semangat. Rawat semangat itu, Non. Cuma dengan begitu anak muda bisa lebih hidup dalam keadaan apapun."
Bi Darsih begitu semangat menyemangati Naya. Angin sore yang kala itu berhembus, kian menyejukkan siapa saja yang ada di sana. Terlebih taman itu berada tepat menghadap hijau pemandangan di luar. Sawah dan perbukitan terasa sekali begitu meneduhkan.
Setiap pandangan mata, adalah tarikan kesejukan tersendiri bagi siapa saja yang memandangnya. Hal apa yang paling berharga di dunia ini selain mata air? Katanya, hal paling berharga kedua setelah mata air adalah air mata.
Ya. Air mata. Barangkali itu yang senantiasa Naya rawat agar tak terbuang percuma. Kali ini, bukan hanya air mata yang harus ia rawat. Namun, satu lagi; cita-cita. Sore itu, Bi Darsih mengingatkannya satu hal berharga itu. Meskipun Naya hampir saja membunuh cita-cita itu, tapi ia seperti mendapatkan energi tersendiri.
"Bi..."
"Ya?"
"Menurut Bibi, apa Naya masih pantas memiliki cita-cita? Naya sudah malu menyapa teman-teman, apalagi lingkungan rumah. Pasti Naya disangka macam-macam," ucapnya nampak pesimis.
Sesekali mendongakkan kepala ke langit, enmtah apa yang dicarinya. Lalu ditundukkannya kembali. Apa yang sebenarnya ia cari?
"Bi..."
"Ya, Non? Eh Nak... Naya."
"Nah, panggil seperti itu aja."
Naya mendekap erat Bi Darsih. Seolah menahan sesuatu yang ingin ia luapkan, tapi sulit tersampaikan.
"Kenapa, Nak? Ada sesuatu yang mengusik hatimu?"
"Katakan saja. Siapa tahu Bibi bisa bantu. Minimal, biar lega."
"Sebenarnya... Naya masih penasaran. Kenapa Ibu sudah tak terlihat lagi kesini? Sekadar menjenguk Naya?"
"Naya penasaran, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa begitu terasa ah....," Naya menjedakan kalimatnya. Mata dan mulutnya terasa berat mengucapkannya.
"Kenapa, Nak?"
"Naya gak habis pikir, kenapa Ibu gak jenguk Naya lagi? Apa ibu sakit? Apa ibu bahagia sampai lupa dengan anaknya sendiri?"
"Kenapa di dunia ini masih saja ada ibu berlaku seperti itu pada anaknya?"
"Naya gak tahu lagi, Bi."
Naya terlihat mulai sesenggukkan. Matanya tak kuat menahan bulir mata. Pun, bulir matanya seolah tak kuasa menahan pilu dan lukanya.
"Sabar, Nak..."
"Sabar... lebih baik doakan saja Ibunya, yah? Semoga baik-baik saja di luar sana."
"Nak Naya kangen ibu?"
Naya menganggukkan kepala. Tangan kirinya berusaha mengusap sisa-sisa bulir mata yang masih membekas di pipinya yang lembut.
"Naya kangen Ibu. Meskipun entah apakah
ibu kangen juga sama Naya?"
"Tapi... ada yang tak pikirkan lagi sekarang," ucapnya memantik penasaran Bi Darsih.
"Apa, Nak?"
"Yang tadi diucapkan Bi Darsih."
"Cita-cita."
"Mimpi."
"Semangat."
"Makasih, Bi. Naya hampir lupa bagaimana kembali merengkuh hal berharga itu. Meskipun... Naya gak tahu lagi gimana caranya merawat semangat mimpi itu."
"Boleh Bibi tahu apa cita-cita Nak Naya?"
"Melanjutkan pendidikan. Naya ingin belajar seperti anak-anak lulusan SMA lainnya yang bisa melanjutkan kuliah."
"MasyaAllah... bagus sekali. Semoga Gusti Allah selalu mengijabahi segala niat baik Nak Naya. Yakinlah, Gusti Allah ndak akan tidur dengan hati hambanya yang tulus seperti Nak Naya."
Suara Bi Darsih bagaikan air di pegunungan yang kini menyejukkan Naya. Entah, apa yang akan dikatakan Naya lagi sore itu.
Kegelapan dan mimpi-mimpi. Pantaskah ia rawat terus sendiri? Akankah cita-cita pantas dihidupkan untuk segala keterbatasan dan ketidakmungkinan?
"Tapi... Naya jujur masih penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi dibalik pernikahan ini, Bi," tutur Naya kembali ke kegamangannya.
"Iya, Bibi paham kecemasan Naya. Sudah, ndakpapa. Nanti pasti Nak Naya akan perlahan tahu."
"Maksud Bibi? Bibi tahu rahasia pernikahan ini? Bibi paham kenapa Ibu Naya gak pernah kesini lagi?"
Deretan pertanyaan kian menyerbu Bi Darsih. Sontak, membuat Bi Darsih sedikit gugup. Ia melepaskan dekapan Naya perlahan.
"Nak...."
"Dengarkan Bibi, ya?" pintanya lembut.
"Apa, Bi? Bibi tahu kan rahasia dari pernikahan ini? Selama ini Bibi tahu segalanya 'kan?" Cecar Naya.
"Tenangkan diri, Nak. Sabar."
"Tapi... Naya perlu tahu, Bi. Bagaimana mungkin Naya akan fokus meraih kembali semangat mimpi Naya, kalau hal ini saja Naya belum tahu?"
"Katakan, Bi. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Ibu Naya gak pernah terlihat lagi kesini?"
***
Naya terus bertanya pada Bi Darsih. Apakah Bi Darsih tahu sebenarnya? Simak episode selanjutnya. Kritik dan saran, dipersilakan.