Part 23 - Menemukan Jawaban Rahasia (Revisi)

1034 Kata
Aku tak tahu lagi bagaimana semua ini terjadi. Bagaimana mungkin? Apakah mungkin, Bi Darsih memang mengetahui rahasia itu? "Sudah, ya, Nak... Bibi buatkan minum dulu saja, ya?" "Tapi, Bi." Naya menahan tangan Bi Darsih yang beranjak akan pergi ke dapur. Bi Darsih tersenyum. Meyakinkan Naya tentang segala kecurigaannya kini. "Bi, ndak usah repot-repot." "Ndak, Nak... Cuma minum. Biar lebih enakan. Yah? Sebentar ko." "Baiklah. Hati-hati, Bi." Naya kembali duduk sendirian di taman. Namun, agaknya ia masih berkutat dengan rasa penasarannya itu. "Aku tak boleh diam. Aku harus bergerak! Aku harus cari tahu alasan Ibu tak pernah kesini lagi!" gumam Naya. Matanya yang bulat, seolah pertanda kian bertekad. "Apa kabar dunia luar?" "Oh ya, aku kan bisa cari tahu kabar di medsos." Naya beranjak ke kamarnya mengambil ponsel. Dalam perjalanan itu, ia tak sengaja melihat Bi Darsih masuk ke ruangan pribadi Nata. Di rumah itu, memang ada ruangan khusus. Naya tak boleh memasukinya, selagi tak mendapat ijin dari suaminya itu. Entah, Naya pun tak ambil pusing. Namun, karena saat itu melihat Bi Darsih di sana, bukan di dapur, Naya penasaran. Langkahnya mengendap perlahan. Dilihatnya Bi Darsih dari balik pintu ruangan pribadi Nata. "Ada apa dengan Bi Darsih? Bukannya ia seharusnya di dapur buatkan aku minuman?" "Apa ada hubungannya dengan yang aku tanyakan? Gak biasanya Bi Darsih begitu." Tak berapa saat kemudian, Bi Darsih hendak keluar dari ruangan pribadi Nata. Dengan sigap, Naya pun kembali ke taman. "Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Bi Darsih terlihat sangat mencurigakan?" "Apa yang dia rapikan di laci tadi?" Naya semakin penasaran. Ia pun terlintas untuk masuk ke ruangan itu. "Tapi... gimana caranya aku masuk ke ruangan itu? Sementara, hanya Bi Darsih yang pegang kuncinya." Bi Darsih sudah berjalan kembali ke taman. Ia membawa segelas minuman jeruk untuk Naya. Naya pun berpura bermain ponselnya. "Eh, Sudah, Bi?" "Iya, maaf ya lama. Tadi gulanya habis." "Ouh iya, Bi. Ndakpapa. Bi Darsih ada perlu lagi apa ndak?" "Perlu apa maksudnya?" "Ya... mungkin lagi sibuk." "Sebentar lagi paling harus siap-siap masak, Non." "Bibi... sudah bilang, gausah panggil itu." "Kebiasaan, Non. Susah. Sudahlah... begitu saja. Bibi ndakpapa." "Yasudahlah, apa baiknya Bibi." "Non Naya masih betah di sini? Atau mau mandi? Biar Bibi sekalian siapkan air hangat." "Boleh, Bi." "Oh ya, Naya boleh tanya ndak?" "Apa, Non?" "Selama ini kan Naya gak pernah tahu detail kerjaan Mas Nata di luar, Bibi tahu?" "Apalagi Bibi, Non. Tahunya Mas Nata mah juragan saja. Juragan hebat." Naya tersenyum kecil. Ia berusaha memendam kembali rasa penasaran itu. Mengalihkan sejenak dengan hal lainnya. "Ada apa memangnya, Non?" "Ndakpapa, Bi. Naya cuma penasaran saja. Apa terlihat aneh, Bi?" "Ouh ndakpapa. Mungkin itu pertanda Non Naya mulai membuka hati buat Mas Nata, yah?" "Hayo... hati-hati, Non." "Hati-hati apa, Bi?" "Hati-hati jatuh cinta sakit." Ledek Bi Darsih. "Apaan sih, Bi. Bisa aja. Emang Bi Darsih pernah jatuh cinta?" "Wooo ya pernah. Panjang kalau dicritain. Ntar gajadi masak-masak. Yaudah, Bibi siapin air hangat dulu ya?" "Hehe yaudah, Bi. Makasih minumannya ya, Bi." "Iya, Non." "Oh ya, kalau ada apa-apa, panggil Bibi yah?" "Siaap!" Bi Darsih berjalan terburu ke dapur. Menyiapkan air hangat dan memersiapkan makan malam. Tinggallah Naya di taman sendirian. Ia sibuk membuka sosial medianya. Semua akses kontak ponselnya berubah. Ia hanya diperkenankan membuka sosial media. Tidak untuk pesan pribadi yang menggunakan nomor ponsel seperti w******p. Itu aturan dari suamianya, Nata. Mau tak mau sejak menikah, Naya hanya membuka sekilas saja. Hari-harinya diisi dengan membaca buku. "Apa kabar kamu, Ken?" Sebuah pesan terkirim ke Niken, sahabatnya. "Waaaah, ini beneran kamu, Nay? Aku kangen banget sama kamu. Kamu gimana? Sehat? Kenapa ponselnya ndak aktif?" "Alhamdulillah, sehat, Ken. Iya, sekarang kita hanya bisa komunikasi lewat pesan f*******: aja, ya? Ndakpapa kan?" "Yaah kamu kenapa? Gak mau komunikasi sama aku?" "Bukannya gitu, Ken. Ini disuruh sama Mas Nata. Mau gak mau aku cuma nurut saja." "Tapi kamu baik-baik saja kan? Apa aku perlu kesana? Alamatmu sekarang dimana? Aku gatau eh." "Makasih perhatiannya, Ken. Aku baik-baik saja, ko. Doakan semoga selalu baik-baik saja." "Kamu sendiri gimana, Ken? Lanjut kuliah atau masih kerja?" "Alhamdulillah, Nay. Aku sekarang lanjut kuliah sesuai yang aku pengin. Ini semua berkat kamu." "Aku?" "Iya. Bukannya dulu kamu yang selalu ingetin biar tetap mengejar ilmu? Terus belajar?" Degg!! Dalam hati Naya, ia seolah ditampar dengan dirinya dulu. Suasana bahagia yang sempat Naya rasakan, berubah haru. Apa kabar dengan impiannya itu? Apakah layak ia masih merawat mimpinya untuk melanjutkan pendidikan? "Nay... gimana? Kamu juga masih ingin lanjut kuliah, kan?" "Aku dengar, Nata pengusaha sukses. Dia pasti mau bantu kamu." "Aku tahu. Menikah muda mungkin impian bagi beberapa perempuan di luar sana. Tapi tidak buatmu kan? Aku tahu apa yang kamu rasain, Nay. Tapi aku yakin, kamu bisa ngejalanin ini semua." "Kamu lebih kuat dari Naya yang aku kenal. Kamu masih di sana membaca pesanku, kan?" Tikk... Gerimis mulai turun. Seiring luka bercampur duka yang diam-diam terkumpul dan seolah mendesak keluar dari mata Naya yang bulat itu. "Ken, makasih, ya. Aku turut doakan segala niat baikmu. Semoga sukses ke depannya. Aku tutup dulu. Bye." "Nay?" "Kapan-kapan kita ketemu, ya?" Pesan dengan tanda tanya itu hanya dibaca Naya. Ia berjalan menahan isaknya. Perlahan berjalan menuju kamar pribadinya. Namun, ia tak sengaja melihat ruangan pribadi Nata, terbuka. Terlihat kunci ruangan itu masih menyangkut di gagang pintu. Segera Naya menghapur air matanya. Berjalan perlahan mendekati ruangan itu. Matanya memerhatikan sekilas, tak ada Bi Darsih. Jarak dapur dan ruangan itu memang tersekat beberapa ruangan. Naya masuk mengendap. Menuju laci dimana ia semula melihat Bi Darsih merapikan sesuatu di sana. Naya terus berjalan ke arah laci itu. Setiap langkahnya seolah tangga menuju jawaban atas segala rasa penasaran itu. Penasaran, apakah ini ada hubungannya dengan pertanyaan kenapa Ibunya tak lagi pernah mengunjunginya? Naya membuka satu per satu berkas yang ada di laci itu. Ia baca sekilas yang sekiranya mencurigakan. Ia lalui yang hanya seperti surat pekerjaan biasa. Sampai suatu ketika, ia menemukan sebuah berkas yang menarik mata dan tangannya untuk lebih fokus melihatnya. Sebuah berkas dengan map merah berisi tulisan perjanjian pernikahan. "Perjanjian pernikahan? Apa ini ada hubungannya dengan pertanyaanku selama ini?" Secepat kilat, Naya membuka lembar demi lembar berkas itu. *** Apa yang dilihat Naya dalam berkas itu? Apakah benar berisi jawaban atas penasarannya? Bagaimana sikap Naya kedepannya? Simak di bab selanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN