Jemarinya yang ditekan rasa penasaran, kian membuat bergerak tak karuan. Mata bulatnya pun seakan lebih jeli dari biasanya. Tak ada yang bisa dikatakan orang atas rahasia, kecuali waktu yang memersilakannya.
Dan... waktu memersilakan Naya mengetahuinya. Sebuah berkas perjanjian dimana Naya mengerti saat itu juga.
"Jadi... ini alasan Ibu tak lagi menjumpaiku?"
"Ibu tak lagi menemuiku, karena memang keinginan Mas Nata? Tapi kenapa? Kenapa harus dibuat perjanjian seperti ini?"
"Bagaimana mungkin Ibu menyetujuinya begitu saja?"
"Aku tahu. Meskipun Ibu kadang berlaku kasar dan marah, tapi aku yakin dia masih berhati lembut. Bagaiamana ini bisa terjadi?" gumam Naya masih tak memercayainya.
"Non... Non Naya dimana?"
Dari luar, terdengar sayup Bi Darsih memanggil namanya. Sontak, ia letakkan kembali berkas itu. Setelah ia memfoto dengan kamera ponselnya.
Tanpa waktu lama, ia sudah berada di kamarnya. Membiarkan kunci pintu itu tergantung seperti sedia kala.
"Non... Non Naya," suara Bi Darsih kembali memanggilnya.
"Non," panggil Bi Darsih.
"Eh, yaampun lupa saya kunci pintunya."
Bi Darsih terhenti seketika melewati ruangan pribadi Nata. Ia pun segera menguncinya kembali.
"Iya, Bi. Naya dari kamar tadi. Ada apa?"
"Ouh iya. Tadi Bibi cari di taman ndak ada. Makanya Bibi agak teriak. Maaf ya, Non."
"Ouh ndakpapa, Bi."
"Bibi cuma mau ngabarin, air hangatnya sudah siap. Mau saya antar, Non?"
"Ndak usah, Bi. Naya bisa sendiri."
"Yasudah, kabari kalau butuh sesuatu ya, Non."
"Iya, Bi. Makasih, ya."
Apa yang akan dilakukan Naya setelah mengetahui rahasia itu? Apakah kebencian akan makin tumbuh dalam hatinya?
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Apa harus aku ceritakan sama Niken?"
"Ah, tidak. Bagaimanapun, ini masalahku. Aku tak mungkin menceritakan pada siapapun."
"Genta..."
Naya refleks mengucapkan kata itu. Sahabat yang dulu selalu ada untuk berbagi cerita.
"Ta, kamu apa kabar?"
"Ah, kenapa perasaan ini masih saja ada?
Aku benci semua ini!! Arrrgh!!" Geramnya.
Naya berjalan terburu ke kamar mandi. Membersihkan diri. Menyejukkan amarah yang kian tak terkendali.
***
"Bi..." panggil Nata, ia pulang lebih cepat dari biasanya.
"Iya, Den."
"Naya mana?"
"Naya sedang sholat kemungkinan," tutur Bi Darsih lembut.
"Mungkin? Bibi ndak menjaganya?"
"Bukan begitu. Beberapa saat lalu sedang mandi. Makanya Bibi pikir paling sedang sholat setelah itu."
"Yasudah, Bibi tolong buatkan minum, ya. Saya haus."
"Baik, Den."
Nata melepaskan dasinya perlahan tapi tegas. Ia berusaha sandarkan kepalanya di sofa. Memandang langit-langit ruangan keluarga itu.
"Ayah... andai semua ini tak terjadi. Aku tak mungkin menanggung semua ini 'kan?" gumamnya.
"Ibu... ibu dimana sekarang? Apakah ibu baik-baik saja?"
Ada sedih yang tak bisa terluapkan sosok seorang Nata. Naya, pun sebagai istrinya belum sepenuhnya mengerti. Apa yang sebenarnya dirahasiakan suaminya atas dirinya? Atas keluarganya? Atas semua rahasia-rahasianya?
"Ya Tuhan.... tolong tunjukkan padaku agar tabah menjalani semua ini."
Tak lama setelah sholat, Naya keluar. Ia mendapati suaminya sudah duduk di ruang keluarga. Sebagaimana yang sudah diajarkan Bi Darsih, ia mendekati Nata.
Meraih tangannya dan menciumnya. Penuh takdzim.
"Mas, sudah pulang? Mau saya buatkan minum?"
"Ndak usah. Bi Darsih sedang buatkan."
"Maaf, Mas. Saya ndak tahu Mas bakal pulang lebih cepat."
"Iya, ndakpapa. Kamu gimana di rumah? Baik-baik saja kan?"
"Baik, Mas."
"Duduklah. Jangan berdiri begitu."
Naya pun duduk di kursi dekat Nata. Ia sesekali memandang wajah suaminya. Seorang pria yang meskipun usianya di atas dirinya, tapi masih terlihat tampan.
Sorot matanya tajam tapi begitu teduhnya. Hidung mancung dengan wajah tegas. Tak ada alasan yang membuatnya minus kecuali karena telah memilih Naya menjadi istrinya. Satu penyesalan yang kian jadi pertanyaan besar bagi Naya.
"Kamu kenapa? Masih risih sama saya?"
Naya menggelengkan kepala.
"Lalu? Kenapa duduk menjauh begitu? Deketan saja. Saya ndak bakal gigit."
"Ehm..."
"Kamu malu? Baiklah. Temani saya di kamar. Saya capek sekali."
"Hah?"
Sontak, baru kali ini suaminya berbicara lebih dekat dan terlihat begitu manis. Bagaimanapun, naluri seorang perempuan diperlakukan begitu merasa tersanjung. Begitupun Naya saat itu.
Saat keduanya akan berjalan masuk ke kamar, datang Bi Darsih membawakan minumannya.
"Oh ya, Bi. Mas Nata mau istirahat di kamar. Sini, biar minumannya saya yang bawa, ya? Makasih ya, Bi."
"Oh ya, Non. Makasih ya, Non."
Naya tersenyum pada Bi Darsih. Mereka berdua pun segera masuk dan mengunci kamar.
"Nay...." panggil Nata.
"Iya, Mas?"
"Kita sudah berapa bulan?"
"Pernikahan?"
"Ya. Apalagi."
"Ehm, besok masuk 2 bulan, Mas."
"Kamu bahagia, Nay?"
Naya tersenyum.
"Semoga senyummu itu, pertanda kamu bahagia, ya."
"Mas mau minum dulu?"
"Bisa kamu yang bantu?"
Degg!!
"Ada apa dengan suaminya kali ini?"
"Apa mungkin aku juga sudah memiliki rasa padanya?"
"Ah, tidak! Aku tak mau! Semua ini pernikahan terpaksa, Nay!"
"Kenapa, Nay?"
"Ouh ndakpapa."
Naya menyuguhkan minuman itu pada suaminya.
"Maaf, ya. Selama pernikahan kita, mungkin aku tak berlaku ramah padamu. Sejujurnya,
aku terlalu penat dengan semuanya."
"Kamu ada masalah dengan pekerjaan, Mas?"
"Lebih dari itu."
Naya mendekatkan dirinya. Dengan kelembutan, ia menyentuh tangan suaminya. Memegangnya erat. Seraya menatap Nata dengan lembut.
"Mas, apapun dunia luar, aku sudah jadi istrimu. Kalau kamu tak keberatan, ceritakan padaku. Siapa tahu itu bisa sedikit meringankan bebanmu," tutur Naya.
"Makasih, Nay."
Nata mendekatkan wajahnya ke Naya. Sepasang mata yang untuk pertama kalinya baru berbahasa lebih dekat dari biasanya.
Ya, sepasang mata yang kian dekat. Melabuhkan ciuman di kening Naya.
"Terima kasih pengertiannya, Sayang." Ucap Nata penuh kelembutan.
Hari itu, gerimis kembali mengirinya. Gerimis yang semula penuh kesedihan. Kini dalam sekejap, Naya merasakan hal berbeda.
Sebenarnya, sejauh ini tak ada masalah berarti dari Nata, suaminya. Diluar bagaimana cara ia mengambil dirinya. Tentang perjanjian pernikahan yang tak memperbolehkan ibunya untuk menjenguknya. Hanya itu.
Nata sudah berlaku seperti seorang suami pada umumnya. Hanya satu nafkah yang barangkali belum dilakukannya. Yakni, belum menyentuh Naya.
"Maaf kalau saya mengambilmu dengan cara kurang baik. Tapi saya percaya kamu perempuan yang baik," ucap Nata penuh keteduhan tersendiri.
"Mas..."
"Kenapa, Sayang? Kamu marah padaku?"
Naya menggelengkan kepala.
"Lalu?"
"Kamu gamau bebersih dulu?"
"Ouh ya, sampai lupa. Antar aku, sayang. Entah, hari ini aku ingin selalu dekat denganmu."
Naya dibuat luluh dengan Nata. Tak ada sikap kasar yang pernah ditunjukkan Nata padanya. Naya pun berusaha menjalani pilihan yang sudah ia pilih.
"Kamu mau kan, Sayang?"
Nata meraih tangan Naya. Perlahan. Lembut dan menciumnya.
"Tapi... aku sudah mandi, Mas."
"Biar lebih bersih." Ledek Nata.
Seolah hanyut dengan kelembutan Nata, Naya pun mengikuti ajakan suaminya.
"Makasih, istriku."
"Mas... aku belum siap."
"Aku paham. Aku tak akan memaksamu," ucap Nata yang masih memeluk Naya.
***
Apakah ini awal dari penerimaan Naya akan takdirnya? Berlaku baik sebagai seorang istri pengusaha kaya? Bagaimana dengan rahasia yang sudah ia ketahui? Apa yang akan dilakukannya?