Part 25 - Langkah Baru (Revisi)

1060 Kata
(POV Genta) Sementara, Genta masih merantau dengan segala ketidakpastian menu kehidupan. Bagaiamanapun, ia tetap berusaha berjalan. "Sudah? Kamu sudah bilang ke dia, Mas? Hah? Kondisi sekarang sudah beda. Aku sudah di-PHK. Ditambah satu beban di rumah. Uang darimana?"" "Sssst, kamu jangan keras-keras. Gaenak sama Genta." Terdengar, Ahsan berusaha menenangkannya. "Biar! Biar dia dengar dan tahu diri!!" "YaAllah... aku harus bagaimana?" Drrttt... Ponsel Genta bergetar. Sebuah pesan w******p dari nomor baru. "Hei, Ta. Ini aku Irfan. Yang sempat ketemu tadi di warung makan. Mau ngabarin nih. Bapakku ngijinin kamu bantuin dia. Besok, kalau mau sudah bisa kesini. Kabarin segera, ya. Ditunggu." "Alhamdulillaah... ya Allah semoga ini jadi jalan peredanya." Lirihnya. "Iya. Aku mau, fan. Besok aku kesana." "Ok. Ini alamatnya aku kirim. Ditunggu besok jam 9 pagi, ya." "Thank, Fan. Ok." "Sama-sama, Bro." Tahu diri. Beban. Dan... sekarang bertambah kata yang menyayat Genta sewaktu-waktu. Tahu diri. Apa sebenernya makna tahu diri? Apakah serupa kepasrahan yang dibiarkan berjalan begitu saja tanpa tuannya yang sebenernya? Beban. Pun apa makna makna beban sebenarnya? Apa ia serupa benda-benda yang jatuh tiba-tiba dari langit ke tubuhmu tanpa penopang apapun? Atau ia hanya rekaan manusia yang belum mampu mengerti dirinya sendiri? *** Seperti rahim ibu. Barangkali setiap orang ingin lingkungan yang seperti rahim Ibu. Merawat yang lemah dan layu. Merawat segala kehidupan yang lemah dan rapuh. Hati Genta pun sama. Genta senantiasa berharap tempat sekelilingnya begitu. Meski realita? tak jarang berbeda. "Gimana, Ta? Udah mau jalan kesini?" suara Irfan sudah menelponnya. "Iya, Fan. Aku lagi jalan. Kamu share loc, ya. Masih belum hapal daerah sini soalnya." "Siaaap!" "Mau kemana, Genta?" Ahsan menegurnya. "Ehm, mau ke temen dulu, Mas. Katanya si gajauh darisini." "Temen?" "Oh iya saya lupa cerita. Jadi kemarin pas setelah tes, aku dapat kenalan orang sini. Jadi ini mau main." "Yakin cuma main?" "Iya, Mas." "Yasudah, kalau ada apa-apa, berkabar yah. Aku juga bentar lagi berangkat." "Iya, Mas. Makasih, ya." "Untuk?" "Sudah baik ngasih tumpangan." "Ah, bukan apa-apa. Oh ya pengumumannya hari ini?" "Kalau sesuai jadwal sih iya, Mas." "Semoga diterima, ya. Sukses!" "Aamiin. Makasih, Mas." "Saya pamit dulu, ya. Assalamualaikum." *** Sukma berjalan menunduk. Bunga bougenvil di depan rumahnya yang tersenyum, tak disapanya. Acuh begitu saja. Sepatunya dilepas begitu saja. Tak diletakkan di rak sepatu depan pintu. "Uhgg... ," keluh Sukma. "Yaampun, kamu kenapa, Nak?" "Sukma capek, Bu." "Di luar memang panas banget. Kamu capek karena jalan dari g**g sampe rumah ya?" Cahya menggeleng. "Kalau itu Cahya kan udah biasa, Bu." "Lalu?" "Sukma pengin berhenti sekolah aja." "Naak, kamu bentar lagi lulus. Mau masuk SMA 'kan?" "Iya. Maksudnya Sukma gausah lanjut sekolah aja. Sukma capek, Bu." "Pelajaran sekolah bikin pusing?" Sukma menggeleng, "itu cuma sedikit. Tapi bukan karena itu. "Lalu?" "Cahya pengin Ibu gausah kerja. Biar Sukma aja." "Naak, Ibu cuma jualan kue. Biar kamu bisa sekolah." "Sukma ngrasa ngrepotin, Bu. Sukma malu sama Ibu. Sama Kak Genta. Emang Sukma sebegitu ngrepotinnya ya, Bu?" "Ssstt, kamu ngomong apa si, Nak?" Ibu memeluknya. "Ibu, kata temenku di sekolah. Kemarin dia lihat Ibu bawa bakul kue di jalanan. Pas terik kegini. Dia ngrasa kasian. Aku malu, Bu. Bukan karena Ibu jualan kue. Tapi Sukma malu belum bisa bahagiain Ibu." "Kamu pengin Ibu gimana, sayang?" "Ibu gausah jualan keliling lagi, ya? Sukma gatega." "Ibu jualan di rumah aja. Yang gak usah keliling lagi. Kalau ada apa-apa di jalan gimana, Bu? Sukma takut Ibu kenapa-napa." "Kak Genta pas pergi selalu bilang agar Sukma jaga Ibu. Sukma gamau jadi adik yang gabisa jaga amanah Kakaknya. Tolong ya, Bu. Ibu gausah jualan keliling lagi." Sukma terisak. "Sukma bakal bantuin Ibu. Sukma mau kok bantu jualan Ibu pas nanti ke sekolah." "Ibu tinggal bikin kue seperlunya. Nanti biar Sukma yang promoin ke temen-temen di sekolah. Bisa pesen dulu. Jadi tetep Ibu bisa jualan, dan minim modal juga. Gimana? Ibu setuku 'kan?" "Naak, Maafin Ibu ya." "Sukma yang minta maaf sama Ibu. Belum bisa jagain Ibu dengan baik." *** "Naah, akhirnya sampe juga." "Hey, Ta! Sini!" Irfan memanggil Genta. "Sini aku kenalin sama Bapak dulu. Ayo masuk." "Pak, Ini temen baru Irfan yang kemarin tak ceritain. Namanya Genta. Dari Brebes, Pak." "Ouh ini... sudah lama di sini, Nak?" "Baru, Pak. Baru beberapa hari." "Ouh jadi sepantaran Irfan yah? Baru lulus SMA?" "Iya, Pak." "Kamu beneran mau bantu-bantu kerja di sini? Saya gabisa memberi upah banyak. Karena masih usaha rumahan. Belum besar." "Iya, Pak. Saya sedang butuh kerjaan." "Di sini sama siapa?" "Ada kenalan, Pak. Kakak temen saya di kampung." "Ouh, iya. Bapak mengerti. Kalau kamu mau, kamu bisa mulai kerja hari ini." "Sekali lagi, terimakasih, Pak." "Sama-sama. Bapak juga berterimakasih sudah bersedia membantu usaha Bapak. Mari, Bapak tunjukin tempatnya." Sebuah ruangan yang penuh kayu. Dari salah satu sisi dindingnya, tertera "IRFAN FURNITURE". Ada tiga orang yang sedang bekerja. Membawa kayu, mengecat, dan satu yang nampak sedang merapikan kursi yang hampir jadi. "Disini yang kerja sudah lama semua. InsyaAllah mereka baik semuanya. Mereka bisa bimbing kamu buat bantu." "Iya, Pak. Terimakasih, Pak." "Sama-sama." "Pak, sini... " Ia memanggil salah seorang karyawannya yang telah meletakkan potongan kayu. "Ini ada Mas Genta. Dia sekarang yang bantu usaha kita semua di sini. Saya titip ya, Pak "Iya, Pak Haji." Ia tersenyum ramah. Dan bersegera masuk ke rumah. Meninggalkanku dengan seorang Bapak yang lebih muda beberapa tahun dari bapaknya Irfan, sepertinya. "Nah, Mas Genta. Saya pamit dulu, ya. Silahkan... semoga betah." "Iya, Pak. Terimakasih." "Mari, Mas. Darimana?" "Brebes, Pak." "Ouh, kenal Pak Haji darimana?" "Pak Haji?" "Kami semua memanggilnya begitu. Karena memang sudah haji. Tak lain menghormati beliau. Beliau orang baik, Mas." "Ouh... iya." "Saya kebetulan temennya Irfan, Pak." "Ouh, kenalannya Mas Irfan." "Iya, Pak." Genta ditunjukkannya ke sebuah papan kayu. Ia mengajariku cara memperhalusnya. Ya, hari ini aku mulai menempuh jalan kehidupanku. Entah, ini yang terbaik atau tidak. Genta berusaha menjalaninya dengan gembira. Dan tetap merahasiakannya dari Ibu dan Sukma. Mereka tak boleh tau kondisinya. Genta merasa seperti beban yang begitu tak tahu diri. Kalau ia hanya menumpang di Mas Ahsan. Tak sedikitpun berusaha membantunya. Saat ini bukan lagi tentang mengurusi rasa sakit hati—merasa diperlakukan tak enak, dan semacamnya. Tapi bagaimana berusaha senantiasa mengurainya sebagai suatu realita yang harus diterima. Menyenangkan ataupun menyedihkan. Toh, baik senang atau sedih, keduanya tetap merdu bukan? Lagi, Genta hanya ingin menabung sedihnya sendiri. Ibu dan Sukma? Cukuplah mereka tau Genta baik-baik saja. *** Bagaimana perjalanan Genta selanjutnya di perantauan? Apakah ini langkahnya menuju keberhasilan? Setidaknya, mampukah ia bertahan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN