(POV Genta)
Tidak ada yang benar-benar pasti di dunia ini. Selain kepastian adanya kematian. Kita boleh berencana segala yang terbaik. Meski yang terbaik, tetap bagaimana menjalani kenyataannya. Genta mengingat banyak hal. Tapi terasa tak ingin menyimpannya. Meski mengingat dan menyimpan, lebih sering tak kenal tapi.
Hari ini adalah dermaga penantian. Bukan penantian seorang kekasih yang menunggu Pangeran. Atau seorang pangeran yang menunggu tuan puterinya. Namun, seorang pria yang menunggu nasibnya. Ah, sejak kapan seorang pria belajar memangku nasib?
Genta mendapat kabar dari salah seorang teman, tak lain adalah orang kenalannya. Irfan.
"Ta, lo tetep kerja di mebel Bapakku 'kan?"
"Iya, Fan. Emangnya kenapa? Kok tanya begitu?"
"Yaa... gapapa. Cuma mastiin aja, Ta. Eh, udah buka pengumuman? Sudah diumumin lewat website resminya. Buruan, gih."
"Udah, ya? Gimana? Lo ditrima, Fan?"
"Alhamdulillah, Ta. Gue ditrima."
"Syukur, deh. Kalau aku?"
"Liat langsung aja, Ta. Biar lebih enak."
"Ok. Bentar, ya... ," Genta menjedakan telepon dari Irfan. Rasa penasarannya kian membuncah. Segera kubuka website resmi perusahaan. Berbagai ingatan menyelimuti. Bayangan senyum Ibu, Sukma. Ah, semua terasa seperti fiksi yang indah.
"Bismillaah..." Ucapnya sebelum membuka pengumuman itu.
Genta cari namanya. Tapi tak ada. Ia pastikan kembali, tapi tak ada Genta Mahardika di sana.
"Please... ada, ada." Lirih bibirnya refleks mengucapkannya. Berharap senantiasa sesuai harap.
"YaAllah... ini beneran?"
"Beneran aku ditolak? Gimana selanjutnya? Gimana ngabarin Ibu? Sukma?"
"Ta... gimana?"
Suara dari telepon mengagetkannya. Genta hampir lupa belum mematikan telepon dari Irfan.
"Gapapa, Fan. Nanti aku crita pas di sana aja, ya. Ini mau siap-siap dulu berangkat kesitu."
"Ok, deh. Gue tunggu."
"Ciee lah yang ditrima. Mau nraktir nih?" Canda Genta berusahsa mengalihkan sedihnya sendiri.
"Gampang itumah. Ok, gue tunggu pokoknya. Daah, Ta."
"Asiaap, Bos!"
"Bagaimana ini? Gimana aku ngabarin ke Ibu dan Sukma?"
Berbagai kawatir sukses menyerbu sepagi ini.
***
Kebetulan, Ahsan belum pulang. Ada lembur sampai siang katanya. Setidaknya, ini bisa jadi ketenangan untuk Genta tak langsung memberi kabar menyedihkan sepagi ini. Genta memilih berkemas. Sesegera mungkin. Tak peduli belum sarapan.
"Udah berangkat aja. Mau langsung kerja, ya? Syukurlah kalau tau diri." Celetuk suara perempuan dari dapur. Yang tak lain adalah istri Ahsan; Mia.
"Saya pamit dulu, Mbak. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Berbagai ingatan kian menyerbunya. Ucapan istri Mas Ahsan, terlebih jadi pemicunya. Ah, pemicu? Bukankah itu memang sudah keharusannya padanya?
Untuk tahu diri!
"Kenalin, Mba. Saya Genta. Temen adiknya Mas Ahsan. Yang mau numpang di sini dulu. Sebelum dapat panggilan kerja."
"Ouh, iya. Ahsan sudah cerita. Jadi kamu yang namanya Genta." Ia menjawab dengan tanpa jeda. Begitu cepat.
"Sudah dapat panggilan emang?" Wajah penuh curiga itu kembali bertanya.
"Sudah dapat panggilan tes, Mba. Rencananya besok tesnya."
"Lama, dong nunggu panggilannya."
"Trus rencananya mau disini trus sampe berapa lama?" Ia bertanya seperti Ibu kontrakan yang sedang menagih hutang.
"Ehm, rencananya kalau sudah sebulan dapat kerja, Mba."
"Jadi, selama nunggu itu kamu nganggur?"
Genta bingung mau menjawab apa. Sampai ia kembali mencecarnya.
"Hidup di kota itu nggak gampang, Mas. Gak ada yang gratis. Apalagi kamu gak ada saudara di sini. Untung aja Mas Ahsan mau bantuin. Itu juga karena dia sayang banget sama adiknya. Gaakan tega kalau sudah minta tolong dari adiknya."
"Kalau bisa ya cari kerjaan dulu, Mas. Itung-itung buat makan sebulan, lah. Syukur-syukur bisa tau diri."
Degg! "Tau diri?" Genta seperti mendapat anak panah bertubi-tubi. Senakal-nakalnya ia, Ibu di rumah tak pernah mencecarnya seperti itu. Tapi ia tak boleh lembek. Apalagi meneteskan air mata hanya karena omongan orang lain.
Bagaimanapun, ia bagian dari orang yang menolongnya. Genta menahannya. Genta pun berusaha mengikuti sarannya. "Cari kerja dulu? Ya, aku harus cari kerja apa saja setelah besok tes. Apalagi uangku? Ah..., memang benar kata istrinya Mas Ahsan.
"Aku harus tau diri!" Tekad Genta.
Ya, ingatan itu terus menempa Genta sepagi itu. Memang harus semestinya begitu 'kan?
***
Genta segera menuju rumah Irfan. Mengemas segala tangis dan cemas. Agaknya, memang yang paling seru dari mendewasa adalah belajar menangis tanpa air mata.
"Apa yang akan aku kabari ke Ibu dan Sukma?"
"Bagaimana sebaiknya?"
"Apa aku harus pulang?"
Sejenak, nasihat Ibu melintas dalam cemasnya.
"Kak Genta udah telpon balik. Katanya mau ngomong sama Ibu."
"MasyaAllaah... kamu apa kabar, Nak? Sudah sampe di sana? Kenapa baru berkabar? Kata Sukma nomer hpnya juga ndak bisa dihubungi. Kamu kenapa, Nak?" Suara cemas kian terdengar jelas.
"Ssst, Ibu tenang, ya. Alhamdulillah Genta sudah sampe. Aman. Dan baik-baik aja. Iya, hpnya lowbat. Maaf ya, Bu."
"Syukurlah kalau baik-baik saja. Gimana Kakak temenmu itu? Dia baik 'kan? Kamu nyaman kan, Nak?"
"Genta... Nak...," aku terdiam memikirkan akan menjawab apa.
"Kamu baik-baik saja, Nak?" Suara Ibu masih menunggu jawabnya.
"Alhamdulillah, semuanya baik, Bu. Oh ya, tadi Genta sudah tes. Doain ya, Bu. Biar diterima dan cepet kerja. Biar bisa bahagiain Ibu dan Sukma."
"Aamiin. Ibu selalu do'ain kamu, Nak."
"Oh, ya. Sudah dulu ya, Bu. Genta mau beberes. Genta baik-baik aja di sini. Jadi Ibu di sana tenang, ya. Jangan kawatir."
"Yasudah, pokonya kalau ada apa-apa kabarin ya, Nak? Jangan seperti kemarin. Bikin Ibu kawatir.
"Iya, Ibuku sayang."
"Dek, titip Ibu, ya. Jaga dia baik."
***
"Hati-hati kalau jalan, Mas. Jangan nglamun!! Untung gak ketabrak, kalau ketabrak saya juga yang repot!!"
Seseorang yang tak Genta kenal meneriakinya.
"Maaf, Pak."
"Huuhh, Astaghfirulloh... aah pusing." Keluhnya.
Drrrtt
Suara dering ponsel, mengalihkan keluhnya.
"Haloo, Ta. Lo jadi kesini 'kan?"
"Iya, Fan. Bentar, ya. Bentar lagi sampe, ko."
"Ok. Gue tunggu."
"Siaap!"
***
"Naah, kemana aja, ko lama banget?"
"Itu kakinya kenapa?"
"Ouh nggapapa. Tadi jatuh aja di jalan."
"Ishh, latian jadi pria sejati ya?"
"Maksudnya?"
"Terbiasa dengan rasa sakit. Hahaha."
"Ada-ada aja kamu, Fan."
"Itu beneran kakinya aman buat jalan? Buat kerja?"
"Gapapa. Cuma kesleo. Dibawa kerja juga baikan ko."
"Ehm, yaudah deh. Masuk, gih. Bapak di tempat kerja. Nanti kalau udah selesai, kabarin gue yah."
"Mau kemana?"
"Katanya mau traktir."
"Becanda, Fan."
"Gapapa. Emang gue udah niat mau traktir."
"Ok. Oh ya, sampe lupa. Lo gimana, Ta? Ditrima 'kan?"
"Nggak, Fan. Belum takdirnya di sana."
"Serius? Udah pastiin?"
"Iya, Fan. Emang gak ada namaku di daftar yang diterima. Mungkin emang harus kerja serabutan gini dulu." Ucapnya ringan seakan tak ada beban maupun cemas di kepalaku.
"Semangat ya, Ta. Nanti pasti gue bantu nyari loker, daftar atau apapun. Ok? Semangat!!"
"Iya, Fan. Thanks, ya! Berkat lo jadi gak nganggur."
"Aaah, bukan apa-apa. Tenang aja, Ta. Mungkin emang ini belum waktunya. Lebih persiapin diri lagi. Semangat. Jangan nyerah kalau mau disebut Pria. Ok?"
"Pasti!" Ucapnya menenangkan diri.
***
Hari itu, Genta memutuskan kerja serabutan di mebel orangtuanya Irfan. Pun, berusaha merahasiakan apa yang sebenarnya dideritanya dari Ibu dan Sukma. Apa dia akan betah di sana? Perjalanan apa saja yang akan menempanya?