(POV Genta)
"Apa aku harus mengabari Ibu?" Genta pandangi ponselnya. Enggan memanggil kontak adiknya. Ragu.
Tapi, ponselnya sudah berdering terlebih dahulu.
"Assalamualaikum, Kak. Kakak sehat?"
"Waalaikumslam. Alhamdulillah, Kakak sehat, Dek. Adek?"
"Sama seperti Kakak. Oh, ya ini Ibu mau ngomong sama Kakak."
"Iya, Dek. Kasihkan saja ke Ibu hpnya."
"Ini, Bu."
"Nak, kamu gimana kabarnya? Sudah ditrima kerjanya?"
"Alhamdulillah, Genta baik, Bu. Iya, Genta ditrima." Genta jawab reflek begitu.
"Alhamdulillah, Ibu seneng dengernya. Lega rasanya."
"Iya, Bu. Makasih buat doa-doanya Ibu. Yang selalu doain Genta."
"Seorang Ibu pasti selalu doain anaknya, Nak."
"Bu, maafkan aku. Aku harua berbohong." Genta seperti menahan tangis. Tapi tidak dengan matanya.
"Nak, kalau ada apa-apa kamu kabarin Ibu, yah. Biar Ibu tenang di sini."
"Iya, Bu. Makasih, ya."
"Oh ya, Nak. Kamu berangkat kerjanya pake apa? Disana kan nda ada motornya."
"Genta jalan kaki, Bu. Kebetukan perusahaannya gak jauh dari tempat kos."
"Kamu yakin, Nak?"
"Iya, Bu. Genta yakin."
"Nak, kalau Ibu saranin. Bawa aja motor yang di rumah. Biar bisa kamu pake buat kerja. Atau kalau kamu mau pergi ada perlu."
"Iya, Bu. Makasih, ya. Nanti Genta pasti kabarin kalau waktunya sudah tepat."
"Syukurlah. Hati-hati, ya Nak."
Berbagai kawatir sukses menyerbu sepagi ini.
***
Matanya memang tak berkaca. Tapi pikirannya seolah sungguh penuh tanya. Apakah nanti di sana baik-baik saja? Di atas cemas Ibu dan adiknya, sebenarnya Genta lebih mencemasi diriku sendiri. Dipungutnya sedih yang tak terlukis di wajah.
Tak dibiarkan wajah jadi kanvas lukisan mendung. Sebab awan mendung, tak pantas jadi pajangan. Begitu, barangkali pikirnya.
Ia balikkan wajah menatap Ibu dan Genta, ditinggalkan senyum penuh tanda tanya.
"Esok?" "Bukankah hari inilah yang harus kulakukan sepenuhnya? Meski entah apa saja yanh akan menimpa?"
"Aku tak membiarkan tanya itu keluar dari bagian tubuhku. Apalagi wajahku. Kembali, kukemasi segala cemas. Segala cemas kukemasi."
"Bismillaah... yaAllah, ridhoilah." Genta yakinkan ayunan kaki. Meski ragu kian mengiringi.
Barangkali memang benar kata penulis novel yang pernah ia baca. Jarak ragu dan yakin pun kadanh hanya setipis benang saja. Dan saat kita merasakannya, sungguh tak ada pilohan lakn selain menjalankannya. Berusaha sekuat mungkin. Itulah yang benar—yang baik untuk dilakukan.
"Maafkan aku, Bu. Aku belum yakin harus bicara jujur saat ini. Doakan aku." Gumam Genta.