Part 28 - Membuat Keputusan? (Revisi)

965 Kata
(POV Genta) *** "Gimana, Mas? Kamu sudah bilang ke Genta?" "Bilang apa?" "Tuh, kan. Lupa. Ya bilang dia gaboleh cuma numpang. Kita juga makan gak gratis, Mas. Aku udah gak kerja. Masa tanggungan lebih banyak?" Cecar Istrinya. "Kamu yang sabar dulu. Kita kan belum tau dia sudah ditrima atau belum. Nanti pasti aku sampein. Sabar dulu, ya." "Kamu dari dulu sabar-sabar trus. Makanya gak kaya-kaya," celetuknya. "Lagian sekarang anaknya dimana coba? Sampai sore belum pulang." "Kita tunggu aja, yah. Mungkin ada perlu sama temennya." "Temen? Dia baru di sini beberapa hari. Mana ada orang yang mau temenan sama pengangguran." "Husshh, jaga bicaranya. Kalau ada Genta gimana? Sabarlah sedikit." Ahsan mulai tak bisa menahan emosinya. Namun, bisa ditenangkannya kembali. *** "Enak, Ta?" "Enak, Fan. Makasih, ya. Sudah nraktir makanan enak gini." "Sekali-kali yakan?" "Pokoknya kamu jangan putus semangat, ya. Kalau ada apa-apa bisa hubungin aku. Ok?" "Jadi ngrepotin kamu." "Aku udah anggep kamu seperti Kakak aku sendiri, Ta. Entah kenapa saat pertama liat, aku langsung teringat Kakakku." "Kakak? Aku baru tau kamu punya Kakak, Fan." "Iya. Dulu. Dua tahun yang lalu." "Hum?" "Dua tahun lalu meninggal karena suatu penyakit. Dia memilih merantau ke luar pulau. Entahlah, padahal kota ini saja sudah terkenal tujuan orang merantau. Tapi Kakak memilih di luar pulau. Lama tak berkabar, sekali berkabar dia sakit parah. Komplikasi." "Aku pikir... karena dia tak ada orang lain yang menjaganya. Tak ada yang perhatian saat dia sakit. Karena memang tak ada saudara di sana." "Makanya, entah kenapa saat aku melihat kamu, aku langsung keinget Kakak. Tak segan mengenalkanmu ke tempat kerja Bapak. Aku yakin, kamu orang baik. Pasti akan dapat sesuatu yang baik. Semangat, ya, Ta!" "Aku pasti bantu kamu." "Maaf ya, Fan. Kamu jadi sedih." "Nggapapa. Kan biar kamu tau juga." "Makasih banyak, ya. Aku banyak berutang budi sama kamu nih." "Ah, gapenting. Ayuk, udahan." "Iya. Aku pulang dulu, ya." *** Meski semesta seakan menyajikan pilihan yang tak terduga, tapi selalu ada sisi syukur bagi Genta. Bisa dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Pak Adi, Irfan dan bapaknya pun suatu hal yang perlu disyukuri. Setidaknya, ia tak lagi terlalu cemas memikirkan. Terutama memikirkan bagaimana menjawab pertanyaan dan pernyataan tentang "Tahu diri." Genta pulang mendekati senja. Seharian bekerja, makan, cukup jadi nikmat tersendiri untuk anak perantauan. "Naah... itu dia anaknya, Mas. Sana gih bilang!" Mia begitu membujuknya setengah kesal. "Assalamualaikum..." "Waalaikumsalam. Baru pulang?" Ahsan menegurnya. "Iya, Mas. Tadi sama temen." "Ouh iya. Syukurlah sudah punya kenalan di sini." "Iya, Mas." "Oh ya. Gimana, pengumumannya? Sudah ada pengumuman resmi 'kan?" "Sudah, Mas. Tadi pagi." "Trus, hasilnya?" "Ehm, belum diterima, Mas." "Naah, tuh kan. Apa aku bilang, Mas. Dia cuma pengangguran yang gak tahu diri!" "Hussst!" Ahsan hampir saja memukul istrinya. Tapi ditahannya. "Mas, maafin saya ngrepotin disini." Ahsan menghela napas panjang. Matanya mencari sandaran untuk menatap Genta. Seakan perasaan malu sudah kian memenuhi halaman wajahnya. "Genta... saya minta maaf ya." "Gak, Mas. Saya yang salah. Saya ngrepotin di sini. Emang benar, saya yang gak tahu diri." "Tapi tolong, boleh ijinkan saya tinggal sampai akhir bulan ini? Saya gak tau dimana tempat tinggal lagi kalau bukan di sini." "Trus mau bayar pake apa, hah? Ngaca, dong. Gak ada yang gratis!" "Kamu bisa diem nggak? hah?" Ahsan membentak Mia. Tak tahan dengan sikapnya yang meledak-ledak. Selalu marah dan sangat kasar. "Saya bisa sisihkan sebagain uang untuk bayar ganti biaya kehidupan saya selama disini nanti. Saat sudah gajian." "Genta... " "Gapapa, Mas. Kebetulan ada kenalan yang ngasih kerja ke saya. Meski bukan bekerja di perusahaaan, setidaknya ini bisa buat biaya ganti selama saya di sini." "Genta..." "Maafin saya yah, Mas. Sudah bikin gak nyaman." "Kamu gak salah, Genta. Saya yang meminta maaf." Genta tersenyum. Berusaha menenangkan cuaca yang seperti mendung setelah datang petirnya berkali-kali. Genta berusaha memasang wajah baik-baik saja. *** "Ta, besok berangkat kesini lebih cepet, ya! Kata Bapak, ada pesanan banyak." "Ok. Siap, Bos!" Pagi yang cukup meredakan ketidaknyamanan Genta. Setidaknya, ini juga kabar baik agar ia tetap semangat menjalani hari. Entah apa yang kusemangati. Diri sendiri bukan? Dan, hari ini bertambah lagi. Pengangguran yang gak tahu diri. Barangkali, kalimat itu hari ini dirasakan begitu sakitnya. Meski ia tak pernah membalasnya dengan air mata. Namun, ada goresan tersendiri baginya. Bagi seorang laki-laki sepertinya. Hanya berusaha apa yang ia bisa, yang coba dilakukan. Terus. Terus. Sampai ia tahu apa itu berhenti. Apa itu menyerah dan putus asa. "Gimana, Ta? Udah mau jalan kesini?" suara Irfan kembali sudah menelponku lagi. "Iya, Fan. Aku lagi jalan nih. Gak telat 'kan?" "Enggak ko. Cuma ini Bapak nanyain trus. Biasa, kalau ada pesanan banyak, tambah semangat banget. Yaudah, aku tunggu ya, Ta!" "Siap, Bos!" Klik. Telepon dimatikannya. "Mau kemana, Genta?" Ahsan menegurnya. "Ehm, mau ke temen dulu, Mas. Gak jauh dari sini ko." "Temen?" "Lebih tepatnya, tempat kerja sementaraku, Mas. Jadi ini punya Bapaknya temenku." "Ouh begitu. Syukurlah. Harus sepagi ini berangkatnya?" "Biasanya sih agak siangan. Tapi ini katanya ada pesanan lebih. Jadi suruh kesana lebih pagi, Mas." "Sukses, ya! Jangan nyerah." "Iya, Mas. Saya pamit dulu, ya." "Tunggu, Ta." "Ya, Mas?" "Soal kemarin sore. Saya minta maaf atas sikap istri saya. Saya malu sebenernya. Tapi entah, istri saya perlu kesabaran lebih saat menghadapinya. Sekali lagi, saya mohon maaf, ya." "Nggakpapa, Mas. Istri Mas bener, ko. Saya yang minta maaf udah ngrepotin. Udah bebanin. Saya janji, akan berusaha ganti." "Genta... jangan dimasukkan ke hati semua omongan istri saya." Genta hanya tersenyum. "Yasudah, kalau ada apa-apa, berkabar yah. Kamu masih tanggung jawabku di sini." "Iya, Mas. Makasih, ya." "Untuk?" "Sudah baik ngasih tumpangan. Dan semua perhatian Mas Ahsan." "Kamu sudah tak anggap adik sendiri di sini." "Terimaksih, Mas. Saya pamit dulu, ya." "Akankah aku harus membuat keputusan sesegera mungkin, biar keluar dari sini? Rasanya sudah tak tahan lagi." Gumam Genta. *** Sampai mana kesabaran Genta bertahan di sana? Apa yang akan ia lakukan untuk selanjutnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN