(POV Genta)
***
Musim apa yang mendatangkan cinta?
Pernahkah kamu bertanya, mengapa orang bisa merasakan jatuh cinta? Dan saat ditanya kenapa engkau jatuh cinta? Orang itu tak bisa menjawabnya. Hanya tergugu. Kelu. Seakan baru belajar bicara. Yang keluar hanya kata, "Aku juga gak tau."
Orang-orang berkata jangan pernah menasehati dua hal di dunia ini. Kalau kamu tak ingin capek hati. Satu, orang orang patah hati dan kedua orang yang jatuh cinta. Hahaha.
Entahlah, kenapa hal itu jadi semacam nasihat turun temurun. Sedangkan... barangkali aku juga merasakannya. Bedanya aku sendiri bingung. Apakah aku pantas merasakan sakit hati untuk orang-orang yang harusnya kucintai?
Sebuah musim tak pernah menunggu kotanya siap sedia. Kota itu sendirilah yang harus selalu siap sedia. Apapun musimnya yang menyapa. Hari itu, sebuah musim semi. Dimana bunga-bunga mekar indah.
Pun harum mewangi, dari berbagai bunga yang kutahu ataupun belum kuketahui. Langkahku pelan. Mataku melihat sekitar pohon-pohon lebat. Rerumputan liar, yang entah bagaimana seperti pagar hutan. Tumbuh begitu lebatnya. Jalanan desa adalah pemandangan favoritnya.
Hari ini jadwal observasi Genta Sebut saja begitu. Genta memutuskan untuk mencari loker kembali. Dan kemarin, ia mendapatkannya. Lebih tepatnya, dari Irfan. Masih sama, sebuah loker di PT di Bekasi. Kenapa harus aku? Apa wajahku terlihat menyatu dengan alam? Atau... memang aku terlihat pemberani? Berbagai tanya sempat menyergap Genta.
Setelah mengurusi perijinan dari Bapaknya Irfan, Genta berangkat pagi itu. Ditemani seorang yang pengalaman mengurusi perijinan. Hal ini mengingatkannya saat sebelum berangkat merantau.
Ya, tepatnya saat meminta bantuan seseorang untuk mengurusi surat-surat yang diperlukan.
Sempat ia bertanya-tanya padanya tentang proses pembuatan surat-surat yang dibutuhkan. Namun, jawabannya cukul mengejutkan. "Jaman sekarang susah kalau gak pake calo, Mas. Memang begitu sistemnya. Seakan dipersulit. Jadi mau gak mau ya pake calo."
Tapi, ia fokuskan lebih pada apa yang kulihat. Sebab prinsipku tetap kupegang "Ragukan apapun yang kamu dengar dulu, Ta!" Dengan tak sepenuhnya memercayai apa yang didengar, itu akan lebih membuka peluang untuk membaca. Membaca berbagai kemungkinan.
Fakta-fakta mengerikan, bahkan yang memang berkebalikan dari awalnya. Itu sangat mungkin terjadi. Pun, kalaupun nanti hasilnya sama dengan apa yang didengar dari awal, itu tak akan salah. Justru makin menguatkan kebenaran itu sendiri.
Orang yang menemaninya adalah Pak Kardi. Ia adalah warga sekitar tak jauh dari rumahnya. Cukup terkenal di desanya kala itu. Entah atas nama apa, ia memilih jadi calo. Meski terdengar salah, tapi aku coba tetap mendengarkan berbagai sisi lainnya.
"Pak, sudah berapa lama Pak Kardi jadi calo gini?"
"Sudah hampir tujuh tahun, Mas." Ia menjawab dengan suara beratnya. Tapi tetap terdengar begitu sopan dan lembut
"Wah... sudah lama juga, ya. Kalau boleh tahu, kenapa Bapak mau? Maksudnya, Bapak kan pasti bertani seperti warga lainnya. Kenapa mau serabutan jadi calo gini?"
"Kalau ingat itu, pasti tiap orang punya kesibukannya masing-masing, Mas. Benar, mayoritas memang berkebun. Petani. Tapi saya juga perlu tambahan." Jawab Pak Solikhin ramah.
"Maksud Bapak?" Genta pura-pura tak tahu.
"Iya. Bertani saja tak cukup. Apalagi kalau lagi kena hama. Gagal panen. Deuh, bukannya untung malah buntung. Hitung-hitung skalian bantu orang lain. Kayak Mas-mas ini kan pasti perlu cepet kan bikin surat-surat gini?
"Hehe iya sih, Pak."
"Makanya, calo-calo itu tetap bisa makan."
Genta hanya tersenyum mendengarkannya. Kalau urusan idealis dan realita dibenturkan—kadang-kadang, memang cukup diam. Kita tak bisa mudah menjudge mereka tak berguna. Hanya mengotori administrasi. Tapi nyatanya, persoalan membuat surat-surat kepentingan seperti ini memang cukup rumit.
Entah mengapa, Genta begitu mengingat jelas berbagai puzzle ingatan. Dan entah bagaimana, ia seperti muncul dengan sendirinya. Keluar begitu saja.
"Kehidupan, bukankah memang penuh banyak sisi begini? Tak ada yang sepenuhnya hitam putih."
***