(POV Genta)
***
Setelah diputuskan, Genta makin mantap. Bagaimanapun, ia tak mungkin membiarkan Ibu dan adikku hanya menahan diri. Menahan dari jeratan ekonomi yang pas-pasan. Bapak yang sudah sudah tiada. Secara alami, tanggung jawab itu beralih ke pundaknya. Seorang Pria.
"Pria yang baik tak boleh menangis. Cukup menitikkan air mata." Tegarnya kala itu.
"Kalau menuruti keinginan, aku ingin sekali lanjut kuliah, Bu. Tapi...," lanjutnya sendiri kala itu.
"Ah, sudahlah. Seperti nasib yang dipilih Pak Kardi, barangkali memang kehidupan begitu. Memilih pasrah atau menyerah. Tak peduli suka atau tidak."
Sesampainya di rumah, Ibu sudah menantinya Duduk di teras, seakan begitu merindukan anaknya.
"Darimana, Nak?" Tanyanya lembut.
"Ada keperluan, Bu. Tadi habis muter-muter sama Pak Kardi."
"Ouh yasudah... pasti capek 'kan? Ibu buatin minum dulu, ya." Ia segera beranjak dari tempat duduknya.
"Gausah, Bu. Genta bisa ambil sendiri."
"Ndakpapa." Namun, Ibuku tetap berkeras hati membuatkan minum.
"Eh, Kakak habis darimana aja? Cahya cariin ko gak ada? Huh!" Keluh Sukma yang muncul tiba-tiba dari balik pintu.
"Eh, kamu, Dek. Dari luar tadi. Kenapa? Hum? PRnya susah? Uang jajannya kurang?"
"Enggak tau. Tapi kurang bangeeet. Eh."
"Ssssttt, nanti Ibu denget."
Sukma segera duduk mendekatinya.
"Kak, Sukma boleh jujur 'kan? Kata Kakak kalau ada masalah apapun mesti cerita."
"Iya. Emang harus cerita. Emang kenapa, Dek?"
"Jadi... bukannya uang jajan yang kurang. Tapj sebenernya Adek belum beli buku LKS dan buku paket lainnya. Sama SPP juga belum dibayar. Adek udah coba nyicil harian kalau LKS. Tapi masih belum cukup. Gimana ya, Kak? Adek gaenak bilang sama Ibu...," tutur Sukma.
"Ssttt, udah Adek tenang, ya. Kakak ada uang. Nanti bisa pake uang Kakak dulu. Jadi, tetep semangat belajarnya 'kan? Gak ngeluh lagi karena ditagih hutang?"
"Beneran, Kak?"
"Emang mau diboongin?"
"Ih seriusss."
"Iya. Kakak juga serius. Udah, buruan masuk. Nanti Ibu lihat lho."
"Siap, Kak! Makasih Kakak keliatan keren, deh!" Wajahnya yang kelu, berubah jadi ceria.
"Bisa aja ngrayunya. Udah, sana!"
"Iya, iya. Adek masuk. Jangan lupa, ya. Adek tunggu lho." Iapun segera terburu masuk ke rumah.
"Eh, eh ada apa nih? Apa yang ditungguin?" Ibunya berpapasan dengan Sukma di pintu—hampir saja menabraknya.
"Eh, Ibu. Enggak papa, Bu. Sukma cuma kangen berantem sama Kakak. Makanya Adek tunggu berantem lagi. Hehe."
"Eh, apaan Kakak Adek gak boleh berantem."
"Becanda, Bu. Biasa. Urusan Kakak Adek. Sukma masuk dulu ya, Bu."
"Eh, anak-anak. Ada-ada saja."
"Biarin, Bu. Lagi seneng dia."
"Emang ada apa si? Tadi cerita apa emang? Dapat duit dari sekolahnya? Menang lomba? Atau apa?"
"Haha enggak ko, Bu. Gak penting."
"Masa gak penting sampai segitunya."
"Beneran, Ibuku sayang. Pria mau minum kopinya dulu, ya."
"Hmmm, ada-ada saja. Bikin Ibu bingung."
"Hehe... Ibu sehat 'kan?"
"Tumben nanya begitu. Kayak orang jauh aja kamu, Nak. Kan sudah lihat Ibu sehat."
"Ya gapapa 'kan? Biarpun lihat Ibu tiap hari, tapi Genta juga harus pastiin. Ratu di rumah selalu sehat dan bahagia." Ucapnya tenang.
"Bu... sebenernya memang aku ingin pergi jauh. Tapi aku masih belum yakin. Apakah Ibu akan setuju?"
"Tapi lebih dari itu, apa ada pilihan lain melihat kondisi begini, kalau bukan dengan merantau?" Batinnya seperti ingin menangis. Tapi ia tahan. Senyum Ibu sore itu, terasa sakit dan menguatkan.
"Ingatan selalu berbaik hati menyuguhkan kenangannya. Dan semakin berusaha melupa, justru menjadi hal paling percuma."
"Namun, setidaknya dengan suguhan ingatan sebelum aku merantau itu, cukup memacuku. Makin mantap memutuskan untuk mendaftar di loker yang Irfan kasih."
"Pun, tekadku untuk tak mengabari Ibu dulu. Apa aku bisa?"
"Bukankah doa Ibu seharusnya mengiringi langkahku?" Genta gamang.
"Bismillah... ya Allah, ridhailah langkahku." Genta berusaha menekadkan diri.
***
Apakah Genta akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik nantinya?