Part 31 - Kabar Ibu (Revisi)

344 Kata
(POV Genta) *** "Assalamualaikum, Bu. Gimana kabar, Ibu?" "Waalaikumsalam... Alhamdulillah Ibu baik-baik aja, Nak. Kamu di sana gimana? Lancar, kerjanya?" "Alhamdulillaah, Bu. Sukma sekolahnya lancar juga 'kan, Bu?" "Alhamdulillah, Nak." "Syukurlah. Senang rasanya denger kabar baik dari rumah." "Bu... Genta ada perlu. Lagi butuh sesuatu." "Apa, Nak? Kamu kenapa?" "Genta kan masih numpang sama orang. Genta juga belum gajian. Jadi buat ongkos sehari-hari mepet. Rencananya motor di rumah biar dikirim kesini, Bu. Biar hemat ongkos transport. Jadi lebih enak kemana-mana juga." "Bener, Nak. Gapapa. Di sini juga gak dipake kan. Trus gimana, Nak? Mau dititipin sama siapa? Ibu gatau kegituan." "Nanti Genta minta tolong sama temen buat ngurusinnya, ya. Kalau ada temen Genta kesitu, Ibu kabarin aja. Adik yang sekarang Genta numpang di kostannya, Bu. Ihsan, namanya." "Baik, Nak. Kamu jangan lupa sholat, ya. Semoga sukses selalu, Nak." "Aamiin. Makasih, Bu." "Ibu jaga diri baik di rumah, ya. Terua doain Pria." *** Genta tergugu karena telah berbohong dengan Ibu. Namun, ia tak lagi tahu bagaimana caranya menenangkan orang-orang di rumah. Minimal, agar mereka tak kawatir lagi tentang sehari-harinya. Keseharian penuh tekanan. Ketidakpastian, penerimaan, dan segala kesepertiituan. "Maafin aku, Bu. Aku terpaksa berbohong. Biar Ibu kira aku sudah nyaman bekerja di sini. Maafin Genta,"lirihnya menguatkan diri. "Ya Allah, apapun nanti yang terjadi di sana. Ridhoilah usahaku. Aku seorang pria. Ada tanggung jawab pada Ibu dan Genta. Berkahilah untuk mereka." Lanjutnya. Memori pertama kali menginjakkan kaki di Bekasi, kembali mengingatkan Genta. "Ada hal yang harus aku capai. Apapun yang menimpanya. Tak lain, semata untuk Ibu dan Sukma. Aku akan senantiasa berusaha, Bu." "Belajar lebih menerima? Modal usaha? Punya usaha sendiri? Agaknya tiga hal yang mengingatkannya pada pesan Pak Adi. Namun, ia sendiri tak tahu. Apa yang akan terus diusahakan selain ini?" Kita memang tak bisa memilih angin takdir. Namun, bukankah arahnya bisa kita usahakan? Bukankah dengan itu, layar di perahu bisa digerakkan lewat tangan manusia dan angin takdirnya? "Tuhan, bolehkah kupesan satu saja arah takdir yang cukup untuk membuat Ibu dan Sukma bahagia? Aku tak peduli arahnya, meski harus menghilangkan diri pun aku bisa." Tekad Genta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN