(POV Genta)
***
Kalian pernah menebak apa yang akan Genta putuskan? Tetap tinggal bersama Ahsan dan Mia atau benar-benar memutuskan pindah?
Begini, sayangnya kenyataan seringkali tak perlu ditebak. Meski takdir adalah sesuatu yang mirip tebak-tebakan. Bagaimana takdirmu beberapa detik setelah membaca ini? Pun tak ada yang tahu. Seseorang pernah mengatakan, "Jangan pernah menebak isi kepala perempuan."
Namun, agaknya hal itu pun berlaku untuk laki-laki berwajah tegas bernama Genta itu. Ya, itulah dia. Setelah berbagai pertimbangan, ada satu hal yang benar-benar ia putuskan. Genta memilih pergi lebih jauh.
Meski ia sendiri masih meragu bagaimana memakna jauh? Seperti seorang kekasih yang patah hati dan rela pergi sejauh ujung dunia ini? Ah, sebentar bukannya dunia ini bulat, bukan segitiga yang gampang ditebak ujungnya? Apa itu bermakna sejauh apapun pergi, hakikatnya ia tetap berada berputar di satu sisi: ingatan dan perasaannya sendiri.
Genta agaknya merasa demikian. Keputusannya sudah bulat. Esok hari, ia akan pindah. Kebetulan, hari ini adalah saat menerima gaji pertamanya. Lebih tepat disebut upah rasanya. Tak terasa sudah masuk satu bulan. Meski tetap sama. Pagi-pagi sekali sebelum Ahsan membeli sarapan, ia sudah bersiap diri.
"Mau kemana, Ta?" Sapa Ahsan yang akan keluar membeli sarapan, agaknya.
"Kamu belum makan. Nanti dulu berangkatnya." Benar, ia akan membelikan sarapan untukku. Namun, berusaha ditahannya. "Tidak usah, Mas. Aku mesti berangkat lebih pagi. Nanti gampang sarapan di sana." Jawabnya sopan.
"Memangnya ada apa sampai harus berangkat lebih pagi seperti ini? Kamu baik-baik saja, Ta? Ada masalah di kerjaan??" Wajah cemas tergambar dari Ahsan.
"Ndak, Mas. Emang lagi banyak pekerjaan aja. Jadi mesti lebih berangkat pagi. Ndak enak kan kalau ndak pengertian dari aku sendiri."
"Ehm, gitu. Yasudah, semoga lancar, ya. Kalau ada apa-apa bilang ke Mas." Ahsan menepuk bahu Genta. Seolah meyakinkannya masih ada sosoknya yang bisa dipercaya di kota perantauan ini.
"Makasih, Mas. Saya pamit dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Genta segera bergegas. Meninggalkan segala ragu dan cemas. Cemas dan ragu dibisukkan oleh langkahnya sendiri.
***
"Ta, lo di rumah? Bisa kesini lebih cepet?" Sebuah pesan dari Irfan masuk ke ponsel Genta. Tersadar ia berangkat cepat, hanya alibi tak ingin banyak merepotkan Mas Ahsan dan istrinya. Namun, ini agaknya takdir meridhoi alibinya. Kebetulan secara tiba-tiba, Irfan memintanya berangkat lebih cepat.
"Iya, Bro. Lagi jalan ke sana, nih."
"Ok. Ditunggu, ya!"
"Ashiaap!"
Sepanjang jalan, Genta melihat sisi yang berbeda. Biasanya, tak begitu banyak pedagang yang dilihat. Kalaupun ia melihatnya, kebanyakan sudah selesai. Sedang berkemas diri. Kali ini, ia melihat sepanjang rumah dan jalanan penuh pedagang.
Mulai dari pedagang bubur ayam yang baru mulai menjajakan dagangan dengan gerobak dorongnya. Pun, tak ketinggalan Ibu-ibu yang menjual aneka sarapan mulai menata dagangannya. Pagi yang tergambar sibuk sekali.
Genta sempat tergoda dengan aneka makanannya. Namun, berusaha ditahan.
"Aku akan makan setelah dapat upah nanti. Sabarlah, perut! Kumohon!" Hardiknya pada diri sendiri.
"Natanya yang bener, dong ah! Gitu aja gabisa! Gimana sih, cepetan! Keburu siang!!"
Dari arah Genta menjedakan langkah, terdengar suara gaduh. Setelah dicari sumber suaranya, itu adalah pedagang sarapan tepat di depannya. Hanya beberapa meter. Pantas terdengar. Ah, tunggu dulu. Pantas? Apa seseorang yang meninggikan suara di depan umum pantas?
Terlihat seorang yang lebih tua—lebih mirip Ibunya sedang membentak seorang lebih muda—lebih mirip anaknya. Entahlah. Sebut saja seorang Ibu dan anaknya. Ibu berdaster merah itu melotot, matanya membesar saat membentak anaknya. Namun, tak ada jawaban apapun yang keluar dari anak itu.
Perempuan berkerudung hitam dan berwajah manis. Ia seperti begitu rela dimarahi. Bahkan, tak ada gurat kecewa ataupun sedih dari wajahnya.
"Ah, kenapa lagi aku diam di jalan begini? Aku harus segera berangkat ke rumah Irfan. Dia pasti udah nunggu!"
***