(POV Genta)
***
Apakah di dunia ini orang-orang selalu punya topengnya masing-masing? Gadis berkerudung hitam dan berwajah manis tadi, bukankah ia pun sedang mengenakan topeng yang apik sekali? Dan, apakah aku juga? Aku selalu berusaha terlihat baik-baik saja saat Ibu dan Sukma bertanya kabarku.
Seorang bapak berbaju rapi itu membangunkan lamun Genta.
"Heh... pagi-pagi sudah melamun. Sudah menunggu lama, ya?" Bapaknya Irfan mengagetkan Genta.
"Eh, ndak, Pak. Punten." Jawab Genta gugup. Membenarkan posisi duduknya.
"Maaf, ya jadi menunggu."
"Ndakpapa, Pak. Baru dateng tadi, ko."
"Gini, Nak Genta. Kebetulan hari ini saya sekeluarga ada perlu. Karena kawatir nanti pulang malam, dan kamu sudah berhak dapat upah."
"Makanya saya minta Irfan menghubungi kamu berangkat lebih pagi. Biar saya yang langsung kasihkan upah kamu sebulan ini. Semoga berkah ya, Nak."
Ia menaruh amplop di tangan Genta. Membuat garis senyum bangga di depan wajahnya. Seperti seorang ayah yang begitu bangga dengan prestasi anaknya.
"Nak... kamu betah bekerja disini?"
"Eh... Iya, Pak. Saya betah ko."
"Alhamdulillah... Bapak berterimakasih sekali sudah dibantu pekerjaannya. Saya bangga sekali ada pemuda yang mau bekerja seperti ini. Secara, kelihatannya kurang bergengsi."
"Ndakpapa, Pak. Yang penting halal."
"Syukurlah. Semoga betah, ya. Dan dapat pekerjaan yang lebih baik. Mau bicara dulu sama Irfan?"
"Aamiin. Boleh, Pak."
"Oh, ya. Saya sudah siapkan sarapan di dalam. Sengaja, biar Nak Genta juga sarapan di sini. Sebentar, saya panggilkan Irfannya."
"Fan... Naaak, ini sudah ada Genta."
"Iya, Pak. Sebentar." Terdengar suara menyautnya. Datanglah Irfan dengan pakaian rapinya. Rambutnya klimis. Lebih rapi dari biasanya.
"Eh, lo udah dateng, Ta?"
"Iya. Baru aja ko. Kebetulan tadi ketemu Bapak dulu."
"Ouh yaudah. Langsung masuk aja gapapa kan, Pak? Biar sarapan bareng."
"Kamu gapengin ngobrol dulu?"
"Gampang nanti aja, Pak. Ngejar waktu. Barangkali macet. Yuk, Ta. Sarapan dulu."
"Anak muda yang perencana." Lirih Bapaknya.
Genta mengangguk. Mengikuti langkahnya.
Rumahnya tak begitu kecil atau besar. Sedang, tapi terlihat luas. Penataan interior dan segala peralatannya membuatnya terlihat begitu luas. Genta duduk di kursi kayu bercat emas. Berbagai aneka makanan tersaji di atas meja persegi panjang itu.
"Ini meja makan paling tua dari semua peralatan yang di rumah ini, Nak. Saya sendiri yang buat."
"Waah, pantesan bagus, Pak. Terlihat klasik dan menarik."
"Saya senang merawat benda bukan karena benda itu bagus. Meski itu juga jadi faktornya. Tapi lebih kepada ceritanya. Ya kan, Bu?" Ia menoleh ke seorang perempuan berkerudung biru dan berkulit kuning langsat itu.
Yang ditanya hanya menjawab dengan segaris senyum.
"Meja ini jadi saksi perjuangan saya mendirikan mebel yang Nak Genta bisa bekerja sekarang. Dulu, dulu... sekali istri saya pengin sekali punya meja makan. Bisa makan di meja makan, sepertinya jadi cita-cita hidup saja."
"Maklum, dulu masih susah sekali. Boro-boro meja makan, Nak. Bisa makan tiap hari saja sudah bersyukur sekali."
"Tapi karena saya sangat mencintai istri saya, saya bertekad mengumpulkan modal sedikit demi sedikit. Belajar sana sini bagaimana membuat furniture yang baik. Jadilah seperti sekarang ini. Meski belum besar-besar amat, masih usaha rumahan. Setidaknya ini lebih baik dari dulu."
"Bisa membantu beberapa orang disini bekerja saja sudah kelegaan tersendiri bagi saya, Nak. Nyari kerja susah. Bisa membantu mereka, rasanya senang sekali."
"Makan dulu atuh, Pak. Jangan cerita terus." Istrinya meledek.
"Gapapa toh, Bu. Skalian ngingetin anak kita yang mau kuliah ini. Biar terus bersyukur. Selalu inget darimana ia berasal."
"Irfan masih hafal semuanya, Pak. Bapak selalu cerita tiap hari."
"Itu bentuk kasih sayang orangtua, Nak."
Istrinya tertawa kecil. "Sudah, sudah. Ayo, makan dulu."
***
Sebuah keluarga kecil yang amat bahagia. Tanpa kecuali. Genta ada di dalamnya. Bersama angin sejuk yang mereka beri.
Sejenak Genta seolah teringat. "Apa disana sudah makan, Bu? Sukma, apa kamu baik-baik saja, Dek?"
***
Apakah Genta juga jadi pindah? Bagaimana sikap yang ia ambil setelahnya?