Keluarga Irfan menyelesaikan sarapannya. Begitu juga dengan Genta.
"Nak Genta, saya sekeluarga pamit dulu. Sebentar lagi paling karyawan lain sudah masuk. Silahkan bekerja, ya."
"Iya, Pak. Terimakasih banyak."
"Semangat, Bro!" Irfan menepuk bahunya. Genta pun mengikuti langkah mereka keluar rumah.
Saat Irfan dan keluarganya melesat jauh dengan mobil putih, Genta terdiam sendiri. Mematung. Entah, seperti menunggu seseorang menyapanya.
Genta lihat sekelilingnya. Belum ada tanda-tanda karyawan lain sudah berangkat. Dilihat jam di ponselnya. Pukul tujuh lebih dua puluh menit.
"Pantesan belum pada berangkat," Celetuknya seraya memeriksa amplop upah pertamanya.
"Tiga juta lima ratus ribu rupiah. Ah, sepertinya ini cukup untuk mengganti biaya hidupku. Sisanya bisa buat nyari kontrakan baru."
Datang seorang perempuan berkerudung hitam. Berkulit kuning langsat, dan bermata teduh mendekati Genta. Ia pun bergegas menaruh amplop di saku celananya.
"Punten, apa Irfannya ada?"
"A Irfan sudah pergi barusan dengan Bapak dan Ibunya, Teh. Ada yang perlu disampaikan?"
"Ouh, Ndak. Saya mau bicara langsung dengan A Irfan."
"Iya. Kebetulan baru saja pergi."
"Kira-kira sampai kapan?"
"Saya kurang tau, Teh." Jawab Genta sekedarnya.
Perempuan itu diam sejenak. Seolah mempertanyakan sesuatu pada dirinya. Lalu kembali bersuara.
"Nuhun, A. Kalau gitu saya pamit dulu. Assalamualaikum."
"Ouh iya. Waalaaikumsalam. Hati-hati, Teh."
Saat perempuan bermata teduh itu berjalan keluar, suara Genta tiba-tiba menjedakan langkahnya. Begitu saja.
"Teh... ," panggilnya.
"Iya?"
"Maaf, dengan Teteh siapa? Barangkali saya bisa sampaikan ke Irfan nanti."
"Wulan."
"Nuhun. Nanti saya sampaikan ke Irfannya."
Perempuan itu hanya menunduk. Membuat segaris senyum lalu pergi. Meninggalkan bayang-bayang di halaman mata Genta yang terus mencari sosoknya.
"Astaghfirulloh... Genta!"
"Tapi, perempuan itu bukannya perempuan yang tadi sedang dimarahi Ibu berdaster merah yang kulihat di seberang jalan sebelum berangkat? Kenapa dia kesini?"
Tak sabar menunggu Irfan pulang, Genta segera menanyakannya lewat ponsel.
"Hei... tadi ada cewek dateng nyariin kamu."
"Hah? Siapa?"
"Wulan."
"Trus? Dia bilang apa?"
"Dia gabilang apa-apa. Cuma katanya mau bicara langsung. Trus ko bisa lo tau namanya?"
"Ya aku tanya lah. Kalau gak tanya, gimana ngabarinnya."
"Ouh gitu. Yaudah."
"Udah, gitu doang?"
"Iya, kenapa emang?"
"Gapapa. Aku penasaran aja, Fan."
"Gausah penasaran. Bahaya deket-deket sama dia."
"Maksud lo?"
Namun pesan bernada penasaran itu tak dibalasnya. Membuat Genta makin penasaran saja. Ia menggerutu kesal.
"Mana bisa dekat-dekat dengan perempuan seteduh dia bisa jadi bahaya?"
***
"Nak, kamu sudah kabarin Kakakmu? Sudah berapa minggu ini dia ko gak nelpon ya?"
"Iya, Bu. Mungkin Kakak sibuk. Maklum kan masih baru. Mungkin aturannya ketat, gabisa asal pegang hp."
"Iya juga ya, Nak. Tapi nanti sore coba kamu telpon lagi. Siapa tau sudah bisa dihubungi."
"Iya, Bu."
"Oh, ya. Temennya Kakakmu, sudah pastiin motornya sampai, 'kan?"
"Sudah, Bu. Katanya siang ini sampai di alamat yang Kak Genta berikan."
"Syukurlah. Nah nanti sore skalian tanyain. Buat mastiin. Kakakmu sedang butuh-butuhnya motor itu."
Sukma mengangguk. Sambil tangannya merapikan daun-daun bougenvil yang menguning.
***
"Genta... kamu bawa motor ke kontrakan?"
Sebuah w******p melayang ke ponsel Genta dengan foto motornya. Pesan dari Mas Ahsan.
"Iya, Mas. Maaf, sebelumnya saya lupa ngabarin. Tolong ditandatangani bukti terimanya ya, Mas. Saya belum bisa pulang."
"Hmm, ada-ada saja kamu ini. Ngirim barang berharga gak ngabarin. Yaudah, saya tandatanganin tanda terimanya."
"Ibu... terimakasih." Lirih Genta.
***
"Nak, gimana? Sudah bisa dihubungi?" Ibu Sekar bertanya pada Genta.
"Ibu kok kawatir sekali dengan Genta, Nak. Kenapa ia ndak kabarin Ibu?" Cemas kian menggelayutinya.
"Ibu tenang, ya. Mungkin hp Kakak mati. Jadi susah dihubungin.
"Gimana kalau dia ada apa-apa?"
"Apa dia sudah makan?"
"Kenapa sampai saat ini tak berkabar?"
"Kan seharusnya motornya sudah sampe. Dia bisa kabarin Ibu. Kenapa sampe sore begini, belum juga kabarin Ibu?"
"Ssstt, Ibu tenang, ya. Kakak pasti nggakpapa. Ibu istirahat dulu aja, ya. Biar nanti sorean Sukma telpon Kakak lagi."
"Nak, tolong kabarin terus Kakakmu. Dia tak punya siapa-siapa di sana. Ibu kawatir dia kenapa-napa."
"Iya, Bu... Ibu tenang, ya."
"Ya Allah, Kakak kemana aja si? Kenapa gak berkabar juga?" Sukma ikut cemas.
***
Bagaimana kelanjutan kepindahan Genta? Apakah ia benar-benar mengucapkannya pada Mas Ahsan dan istrinya?