Part 35 - Pamit? (Revisi)

815 Kata
(POV Genta) *** Terik mentari siang itu cepat memudar. Setelah Genta makan siang di warteg, segera bergegas pulang. Ada sedikit kelegaan yang dirasa. Setidaknya, beban itu kian menunjukkan tanda menemukan solusinya. Bekerja di mebel? Apapun! Langkah kaki yang cukup capek, tak membuat mulutnya mengucapkannya. Tiada keluh untuk seorang pria. Pun, dengan Genta. Sampai di belokan menuju indekos, Genta melihat istri Mas Ahsan pulang. Ya, Mia. "Mba, sudah pulang?" Yang disapa hanya menoleh. Entah, apa yang dirasakannya. Baru saja kelegaan menyelimuti, kini terasa lebih bertumpuk. "Ada apa? Kenapa istri Mas Ahsan tak menjawabku? Bahkan ekspresinya. Itu menakutkan sekali." Lirih Genta. Perempuan berjaket abu itu terus berjalan. Tak sedikitpun menoleh. Apalagi menengok ke sumber suara di belakangnya. Tak lain adalah Genta sendiri. Semilir angin yang sayup menerpanya pun tak digubrisnya. Ia terus melangkah ke depan. Ingin rasanya Genta segera menelpon Mas Ahsan. Setidaknya, Genta yakin. Apakah ia harus pulang sekarang atau tidak? Diambilnya ponsel dari saku celananya itu. "Ahh, lowbat. Aku lupa." Mau tak mau, Genta pun menyusul langkahnya. "Sebenarnya ada apa? Kenapa dia? Apa masih marah padaku karena aku menumpang di kontrakannya? Tahu diri? Apa aku kurang tahu diri?" Ragam pertanyaan cemas kian mengemasi pikiran Genta. "Aku harus segera pulang!" *** Beberapa menit ponsel sudah dalam proses pengisian. Genta membukanya. Dan, sebelas kali panggilan tak terjawab dari Sukma. "Astaghfirulloh... aku lupa kabarin Ibu." Tanpa memedulikan ponsel yang masih dalam pengisian baterai, Genta segera menelpon balik Sukma. "Assalamualaikum, Dek. Kamu apa kabar?" "Waalaikumsalam... Adek baik, Kak. Kakak yang apa kabar? Kenapa telpon adek gak diangkat? Kenapa baru ngabarin?" Terdengar Sukma begitu cemas dari suaranya. "Alhamdulillah Kakak juga baik. Tadi batere lowbat, Kakak lupa ngisi baterainya." "Lupa? Masa dari kemarin lupa?" "Ehm, critanya panjang adekku yang bawel. Yang penting baik-baik aja 'kan? Tolong telponnya kasih ke Ibu, ya. Kakak mau bicara sama Ibu." "Ehmm. Iya, bentar." "Ada apa, Nak?" Bu Sekar sedang memasak di dapurnya. "Kak Genta udah telpon balik. Katanya mau ngomong sama Ibu." "MasyaAllaah... kamu apa kabar, Nak? Kenapa baru berkabar? Kata Sukma nomer hpnya juga ndak bisa dihubungi. Kamu kenapa, Nak?" Suara cemas kian terdengar jelas. "Ssst, Ibu tenang, ya. Alhamdulillah Genta sudah sampe. Aman. Dan baik-baik aja. Iya, hpnya lowbat. Maaf ya, Bu." "Syukurlah kalau baik-baik saja. Gimana Kakak temenmu itu? Dia baik 'kan? Kamu nyaman kan, Nak?" "Genta...," Ia terdiam memikirkan akan menjawab apa. "Kamu baik-baik saja, Nak?" Suara Ibu masih menunggu jawabnya. "Alhamdulillah, semuanya baik, Bu. Oh ya, tadi motornya sudah sampai. Terus doain ya, Bu. Biar bisa bahagiain Ibu dan Sukma." "Alhamdulillah. Aamiin. Ibu selalu do'ain kamu, Nak." "Oh, ya. Sudah dulu ya, Bu. Genta mau beberes. Genta baik-baik aja di sini. Jadi Ibu di sana tenang, ya. Jangan kawatir." "Yasudah, pokonya kalau ada apa-apa kabarin ya, Nak? Jangan seperti kemarin. Bikin Ibu kawatir. "Iya, Ibuku sayang." "Dek, titip Ibu, ya. Jaga dia baik." "Assalamualaikum." "Iya, Kak. Waalakumsalam. *** "Sudah? Kamu sudah bilang ke dia, Mas? Hah? Kondisi sekarang sudah beda. Aku sudah di-PHK. Ditambah satu beban di rumah. Uang darimana?" "Sssst, kamu jangan keras-keras. Gaenak sama Genta." Terdengar, Ahsan berusaha menenangkannya. "Biar! Biar dia dengar dan tahu diri!!" "Punten, Mas." Suara Genta menjedakan keributan mereka. "Ya, Genta? Ada apa?" "Ada yang kurang dengan motornya?" "Ndak, Mas. Motornya bener. Ndak ada yang kurang." "Syukurlah... " ia nampak lega. "Begini, Mas. Saya sepertinya cukup sampai bulan ini saja di sini. Saya begitu berterimakasih sudah ditolong dan diberi tumpangan sampai sekarang." "Terimakasih aja mana cukup." Istrinya berceletuk. "Huss!!" Mas Ahsan menegurnya. "Ini, Mas. Diterima ya." Genta mengeluarkan amplop dan memberikan pada Mas Ahsan. "Apa ini, Genta?" "Anggap saja buat sedikit ganti biaya selama saya disini, Mas. Maaf, sudah banyak merepotkan." "Ndak usah. Saya sudah menganggap kamu seperti adik saya sendiri." Namun, istrinya langsung mengambil amplop dari tangan Mas Ahsan yang berusaha mengembalikannya pada Genta. Segera direbutnya. "Syukur deh tau diri. Mana ada yang gratis!" Hardiknya. Mas Ahsan tampak kesal pada istrinya. Tapi menahan amarahnya di depan Genta. Suasana seperti ini membuat Genta makin bertekad diri. Pergi. Iya, dia harus pergi dari sini. "Saya akan pindah besok, Mas, Mba. Sebelumnya terimakasih banyak sudah rela membantu." "Ya-ya-ya." Istrinya berkata tetap dengan nada ketusnya. "Genta... saya minta maaf, ya." "Ndak, Mas. Saya yang sudah merepotkan." "Saya ijin pamit dulu ya, Mas. Mau ngecek motor." Di luar, suara gemericik air mulai terdengar di telinga. Suaranya bernada indah dengan sempurna. Sejuk. Angin menghembus pelan. Rona jingga mulai memamerkan diri di langitnya. Teduh. Kuning. Ingatannya seolah menyuguhkan nama satu perempuan di hatinya. "Ah, kenapa aku harus memikirkannya? Apa peduliku sekarang?" kesal Genta merutuki dirinya sendiri. "Ouh, Nay... Naya, kamu apa kabar di luar sana? Lama sekali kita tak berjumpa." Lanjutnya. *** Ingatan Genta kembali teringat Naya. Perempuan yang pernah ia cintai itu. Namun, bagaimanapun menu kehidupan sudah berbeda. Ia sudah menentukan pilihannya. Apakah rencana kepindahannya akan berjalan lancar? Akankah suatu saat mereka berdua bisa kembali berjumpa lagi? Dan... sampai kapan ia terus membohongi diri pada Ibu dan Sukma, adiknya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN