Part 36 - Kekuatan Keajaiban dan Percaya (Revisi)

523 Kata
(POV Genta) *** Kabar menyejuk sabar. Setidaknya, dua kabar telah ditenangkan hari ini. Motor yang sudah sampai dengan selamat. Dan mau tak mau, Genta mengabari Ibu. Dengan tetap menyembunyikan rahasianya. Ya, Genta kembali berdusa. Berdusta bahwa ia diterima kerja. Dan berdusta bahwa ia baik-baik saja. Pun, berdusta karena tak menceritakan luka-luka. Ucapan-ucapan istri Mas Ahsan. Kembali, tapi ia ini Genta. Seorang pria. Kini, rahasianya bertambah. Genta memilih tak mengabari Ibu tentang kepindahannya. Tak ada sedikitpun keinginan mengabari. Itu hanya akan membuatnya kawatir dan cemas setiap hari. Ibu memiliki riwayat darah tinggi dan jantung—yang harus senantiasa dijaga emosinya. Ini sebagian alasan Genta terlihat selalu baik-baik saja. Toh, kalau benar-benar tak kuat, ia lebih memilih menghindar. Diam. Pergi jauh. Kau pernah dengar kisah pengembala dan tuannya di Alkhemisnya Paulo? Dia tetap bahagia. Bergembira dengan perjalanannya. Menikmati hari demi hari dengan domba-dombanya. Mengunjungi berbagai benua, lautan, dan keindahan dunia sendiri. Tidak, maksudnya bersama domba-dombanya. Bahkan, menganggapnya seperti tujuan hidup. Begitu amat dinikmatinya. Padahal, orangtuanya menginginkannya menjadi seorang biara. Namun, karena anaknya tetap ingin jadi pengembala, orangtuanya pun mengikhlaskannya. Pengembala itu tak pernah menyesal sedikitpun. Ia begitu menyukai bertemu dengan orang baru. Dan itu, hanya ada saat kita mau menikmati perjalanan. Dengan bertemu orang-orang baru, kita tak akan terlalu terikat hanya dengan satu dua orang. Yang mana, biasanya keterikatan itu, cenderung menjadi keinginan yang terlalu berambisi. Begini, misalnya. Ketika kamu hanya mempunya sahabat dua orang. Tak ingin membiarkan siapapun masuk dalam ruang kehidupanmu, kamu akan merasa kamu berhak masuk ke kehidupan dua orang sahabatmu. Berhak menentukan baik dan buruknya. Pantas dan tidaknya. Ambisius menginginkannya dia berubah sesuai keinginanmu, dsb. Si anak pengembala itu tidak demikian. Ia ingkin wawasannya semakin terbuka. Meskipun perjalanan kerap kali hadir dengan berbagai resikonya. Namun, bukankah itu tantangannya? Seperti halnya seseorang yang memercayai keajaiban. Ia hanya perlu percaya. Itu saja. "Besok aku sudah pindah. Apa sebaiknya aku kabari Irfan dulu? Siapa tau dia ada info kontrakan murah." Pikir Genta. "Fan, gimana udah pulang?" "Udah, nih. Baru aja. Kenapa? Tanya Wulan lagi?" "Ouh, ndak. Mau tanya punya info kontrakan yang murah ndak? Kalau bisa yang gak jauh dari tempatmu, Fan. Biar berangkatnya lebih deket." "Lo mau pindah?" "Iya." "Serius?" "Yaiya serius." "Ehm... ." "Gimana?" "Bentar, ya. Gue ada kenalan yang biasa tau tentang kontrakan. Nanti tak kabarin lagi." "Kalau bisa malam ini udah ada, ya. Biar besok langsung bisa kesana." "Nyari kontrakan apa nyari makan? Cepet amat." "Nyari kontrakan buat tempat makan!" Celetuknya Terdengar suara tawa Irfan memutus ponselnya. *** "Lan... ," Irfan menelepon Wulan. "Iya, Fan?" "Tadi ke rumah, ya?" "Iya." "Maaf, ya. Aku tadi ada perlu sama orangtua. Kamu ada perlu apa?" "Ehm..." "Gimana? Atau mau ketemu aja, ya?" "Sudah sore, Fan. Nanti Ibu marah." "Oh ya. Aku lupa. Yaudah, gini aja deh. Kalau besok gimana? Kebetulan aku free." "Ehm, dimana?" "Kedai kopi gak jauh dari g**g. Nanti aku kabarin." "Iyaudah dh." "Oh ya, Lan. Aku mau skalian tanya. Budemu masih punya kontrakan kosong ndak? Ada temenku yang lagi nyari nih." "Kayaknya sih udah penuh. Tapi nanti aku tanya lagi deh. Sebentar, yah. Jangan dimatiin dulu." "Ok... " Wulan mencari budenya yang ia sebut sebagai Ibu. Kalian bingung? Tak perlu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN