"Bu... "
Wulan mencari Ibunha ke dapur tapi tak ada. Ternyata, muncul dari pintu depan.
"Astaghfirulloh... . " Wulan kaget.
"Kenapa?"
"Ehm, gini, Bu. Temen Wulan nanyain kontrakan kosong. Apa masih ada, Bu?"
"Masih. Tapi cuma tinggal satu." Ibunya menjawab ketus.
"Gapapa, Bu. Sebentar, Wulan kabari temen Wulan dulu."
Wulan segera mengabari kembali ke Irfan.
Setengah gugup ia berbicara. Masih terkaget dan mengatur emosinya.
"Fan... ."
"Iyah. Gimana, Lan? Masih?"
"Alhamdulillah, masih. Tapi cuma tinggal satu."
"Emang butuhnya satu, ko. Yaudah, besok aku kesitu aja deh, ya. Sebelum kita ke kedai kopi. Ok?"
"Baik, Fan."
"Thanks ya, Lan."
"Sama-sama, Fan." Segaris senyum tergurat dari Wulan. Bola matanya membesar seolah membayangkan sesuatu. Entahlah.
***
"Bro. Ada, nih. Besok kita langsung kesana jam delapan. Ok?"
"Waaah keren. Beneran nih?"
"Iya dong. Irfan."
"Berarti aku packing nih malem nih?"
"Ya terserah lo, si. Tapi gue saranin sih mending packing dulu. Tapi kita kesananya tetep liat dulu. Cocok nggak sama kamu. Baru deh packing."
"Ok. Thanks, ya!"
"Yoi!"
***
Genta segera mengambil ransel navynya. Mengemasi barang-barangnya dengan lekas. Meski tak begitu banyak, ia tetap harus berkemas. Saat cocok, tinggal berangkat.
Tak habis pikir, bisa mendapatkan info kontrakan secepat ini. Irfan. Tak menyangka juga akan bertemu dengan orang sebaiknya. Ia sepertinya diciptakan untuk jadi malaikat penolongnya. Ia memberi Genta pekerjaan, saat ia pas ditolak dan bingung harus kemana. Sekarang, lewat Irfan juga tak segan membantu setiap Genta ada kesulitan. Ah, inikah nikmatnya sebuah keajaiban?
Genta sama sekali tak menyangka akan bertemu orang-orang sebaiknya. Ia berangkat ke kota ini dengan bekal kekawatiran, nasib buruk dicopet, dan kegamangan apa yang akan dilakukan. Namun, Allah memberi keajaibannya lewat bantuan dari Pak Adi. Benar-benar orang yang baru ditemui. Namun, mampu berbuat setulus hati itu. Sejenak, ia teringat akan janjinya sendiri. Sebuah janji untuk melunasi yang pernah ia pinjamkan.
Setelah selesai packing, Genta menghubungi kontak telepon Pak Adi. Namun, nihil. Tak ada jawaban. Sudah tiga kali ia meneponnya, tapi tetap tak ada jawaban.
"Ah, mungkin beliau sibuk. Padahal, aku ingin sekali mengabarinya. Semoga bisa ketemu suatu saat. Toh, masih di bekasi juga." Genta berharap dan begitu ingin mengucapkan terimakasih padanya.
"Kepada siapa saja orang-orang yang tulus mendoakanku, membantuku, aku tak akan pernah melupakannya. Sedikitpun, tak akan." Tekadnya.
"Besok deh. Aku telepon lagi. Capek banget."
Genta merebahkan diri di sebuah kasur lantai biru. Berusaha memejamkan mata, meski atap yang ditatap di atas sana, seolah ingin diajak bicara.
Sejauh apa seseorang memutuskan pergi, tapi apa makna pergi sebenarnya? Sejauh apapun orang membuat jarak, tapi apa sebenarnya makna jarak? Mengapa ada orang-orang yang memilih pergi jauh entah oleh alasan apapun—entah karena patah hati atau justru terlalu mencintai—dan hatinya justru tetap merasa dekat?
Dan mengapa ada saja orang-orang yang memilih membuat jarak sedemikian rupa, tapi jarak itu semakin terasa tak ada? Apa yang dilakukan orang-orang ini sebenarnya?
Terlalu mencintai dirikah? Atau terlalu menyayangi orang lain dengan caranya yang tak benar? Ah, sejak kapan benar dan salah mudah dikaitkan dengan perasaan?
"Apakah pilihanku ini tepat untuk menjauh?"
Genta menatap langit-langit kamarnya. Dan langit-langit kamar itu, menatap mata Genta yang terlelap setelahnya.