Sepeda motor Genta jedakan dulu di seberang jalan. Ia mengabari Irfan.
"Fan, kesitu sekarang, ya?"
"Eh, kok cepet?"
"Iya. Gapapa kan?"
"Gapapa si. Gamasalah. Ok. Gue tunggu."
"Siap. Otw nih."
Genta tak sadar, berhenti di jalan yang sama kemarin. Tepatnya saat ia dalam perjalanan ke rumah Irfan. Hari dimana ia mendapatkan gaji pertama. Ya, perempuan bermata teduh itu.
Genta amati geraknya. Lakunya. Ia masih sama. Berkerudung hitam, bedanya ada motif bunga di tepiannya. Matanya sama: teduh dan meneduhkan.
"Natanya yang bener, dong ah! Gitu aja gabisa! Gimana sih, cepetan! Keburu siang!!"
Dari arah Genta menjedakan langkah, terdengar suara gaduh. Setelah dicari sumber suaranya, ia adalah pedagang sarapan tepat di depannya. Hanya beberapa meter. Pantas terdengar. Ah, tunggu dulu. Pantas? Apa seseorang yang meninggikan suara di depan umum pantas?
Masih terlihat seorang yang lebih tua—lebih mirip Ibunya sedang membentak seorang lebih muda—lebih mirip anaknya. Entahlah. Sebut saja seorang Ibu dan anaknya. Ibu berdaster merah itu melotot, matanya membesar saat membentak anaknya.
Namun, tak ada jawaban apapun yang keluar dari anak itu. Perempuan berkerudung hitam dan berwajah manis. Ia seperti begitu rela dimarahi. Bahkan, tak ada gurat kecewa ataupun sedih dari wajahnya.
Ada rasa terpanggil ingin mendekatinya, tapi ragu. Ragu tapi terpanggil. Matak Genta sesekali kembali mengamati perempuan bermata teduh itu. Namun, tak ada raut sedih di wajahnya. Aneh sekali.
"Apa aku perlu kesana?"
"Ya! Aku harus kesana?!"
"Ah, kenapa lagi aku diam di jalan begini?
"Aku harus segera kesana. Aku bisa aja pura-pura bertanya sambil membeli sarapan. Ok, tepat Genta!" Ucap Genta sendiri.
Genta menyalakan motornya. Mendekati mereka.
"Punten, nasi lauk telok sama ini, Bu." Genta menunjuk beberapa lauk yang diingin.
"Dibungkus, dua ya, Bu."
"Iya. Sebentar, ya."
"Pedes?"
"Sedeng aja, Bu."
Seorang Ibu berdaster merah itu cekatan membungkus yang dipesan Genta. Ia ragu mengajukan tanya.
"Punten, Bu. Tadi anak Ibu, ya?"
"Kenapa ya?"
"Oh, nggak. Sepertinya saya pernah lihat kemarin."
"Dia sudah tak anggap anak saya sendiri. Meski sebenernya saya males." Ekspresinya kembali ketus. Alisnya tebal dan sesekali terangkat.
"Orang baru di sini, ya?"
"Sudah sebulanan, Bu."
"Ouh, ko baru lihat, ya."
"Iya. Kebetulan baru beli sarapan di sini. Saya baru tau. Terima kasih ya, Bu."
Genta menerima dua bungkus nasi yang dipesan. Bersamaan dengan beberapa lembar rupiah yang diberikan.
"Jangan lupa, beli sarapannya di sini ya, Mas."
"Iya, Bu. Akan saya ingat. Terimakasih, ya."
***
Apakah di dunia ini orang-orang selalu punya topengnya masing-masing? Gadis berkerudung hitam dan berwajah manis tadi, bukankah ia pun sedang mengenakan topeng yang apik sekali?
Dan, apakah aku juga? Aku selalu berusaha terlihat baik-baik saja saat Ibu dan Sukma bertanya kabarku.
"Dan... perempuan bermata teduh itu, jadi dia bukan anaknya?" Genta tak banyak memikirkan lagi. Dilihat jam di ponselnya. Dan segera melaju ke rumah Irfan.
Beberapa saat kemudian, Genta sampai di halaman rumah Irfan. Dia sudah berdiri di depan rumahnya. Seolah menanti Genta.
"Eh, kemana aja, kok agak lama?" Sapanya.
"Tadi beli sarapan dulu."
"Di Wulan, ya?"
"Ouh, iya. Di Ibunya Wulan."
"Kok bisa paham gitu?"
"Gakpapa, nebak aja."
"Ah, pasti dulu langganan di sana, ya?" Genta berusaha memancingnya untuk cerita.