Part 39 - Kalian Percaya (Keajaiban) Takdir? (Revisi)

651 Kata
"Iya dulu sempet. Tapi semenjak Ibu sudah biasa masak sendiri, jadi gak beli lagi deh." "Udah, cuma itu?" Kembali Genta pancing ia cerita. "Trus?" "Ya apa gitu." "Apaan si. Hayukk, masuk dulu. Mau sarapan 'kan?" "Tapi aku bawa makanan, gimana?" "Kebetulan Ibu dan Bapak pergi tadi. Ada keperluan." "Ouh, jadi lo tadi di depan nunggu sarapan yah?" "Apaan sih. Bentar ya. Tak ambilkan minum." Irfan pergi ke dapur. Genta duduk di tempat makan seperti kemarin. Ya, sebuah tempat makan yang sama saat bersama orangtua Irfan. "Motornya baru nih." Irfan kembali dengan segelas air putih dan teh anget. "Haha nggak. Dikirim dari kampung. Biasa." "Jadi ngabarin Ibu di rumah gitu, Ta?" "Iya. Ya mau gimana lagi. Kan gamungkin jalan kaki terus. Barangkali ada keperluan mau kemana, jadi lebih enak 'kan? Lagian di rumah gak dipake." "Ouh gitu. Adik, ada?" "Ada." "Cewe or cowo?" "Cewe." "Uhm, Kakak?" "Gak ada. Kalau ada, aku udah nebeng di kakak sendiri lah. Makanya ikut Mas Ahsan karena gapunya sama sekali saudara di sini, Fan. Ya mau gimanapun, aku tetep berterimakasih sama dia." "Bener, Ta. Jangan pernah lupain kebaikan orang lain. Termasuk gue." "Udah ah, makan-makan. Setengah jam-an lagi, otw yah." "Oh ya, emang jauh dari sini?" "Ada deh. Rahasia. Nanti juga tau sendiri." "Apaan sok rahasia-rahasiaan." "Oh ya, kok bawa ransel segala? Kan mau liat-liat dulu." "Ya... skalian pamit aja tadi sama Mas Ahsan dan istrinya. Rencananya mau titipin di sini dulu aja. Kalau nanti cocok, biar langsung pindah. Gitu." "Ehm, ok. Gamasalah." "Setelah makan, langsung berangkat aja yah?" Genta mengangguk. Dan melahap sesuap demi suap nasi bungkus yang telah dipesan. *** Kalian percaya keajaiban? Takdir baik? Agaknya, Genta mulai percaya. Untuk tak menyebut berlebihan bahwa ia takjub dengan takdir. Begitu percaya dengan segala ketentuan terbaik-Nya. "Pake motor baru nih?" "Boleh. Ayuuk. Nanti kesiangan." "Udah dikabarin kita mau kesana 'kan?" Tanya Genta memastikan. "Udah si, semalem." "Lah ini gak ngabarin lagi?" "Kan semalem udah bilang jamnya juga. Udah, ah. Banyak nanya. Kuy aja gass." Genta yang menyetir motor. Irfan mengarahkan dimana kontrakan kosong yang akan ditinggali. "Nah... setelah ini, belok kiri." "Ini bukannya arah berangkat aku tadi ya?" "Bener." "Trus masih jauh nggak?" "Ehm, nggak ko. Deket. Satu menit lagi paling nyampe." Terlihat seorang Ibu berdaster merah mengemasi barang dagangannya. Seperti aktivitas biasa seorang pedagang. Bedanya, kali ini tak ada Wulan di sana. Tak ada Wulan yang biasa dijadikan obyek kemarahannya. "Eh, Nak Irfan. Nyari Wulan?" "Eh, Iya, Bu. Sama Ibu sebenernya." Irfan menyambut sapaannya. Kali ini berbeda seratus delapan puluh derajat. Ibu berdaster merah itu memasang wajah lain. Wajah yang berusaha ramah. Untuk tak menyebut wajah yang diramah-ramahkan "Ibu?" "Iya. Ada keperluan sama Ibu." "Oh gitu. Mari, masuk dulu. Mangga... mangga." Ibu Wulan ini tetap sama ramahnya. "Ini temennya?" Ia menatap ke arah Genta. Seolah memastikan ingatannya. "Kalau gak salah, ini yang tadi beli sarapan di sini 'kan?" "Iya, Bu. Bener." "Ganyangka ketemu lagi." Genta masih jauh tak menyangka. Kenapa rumah Wulan? Rumah Ibunya Wulan. Kenapa Irfan menunjukkanku kesini? "Oh ya, Bu. Begini, kemarin saya minta tolong Wulan untuk tanyakan kontrakan kosong. Nah itu buat teman saya ini rencananya, Bu." "Namanya siapa, Nak?" "Genta, Bu." "Nama yang aneh." "Seaneh orangnya, Bu." Canda Irfan. "Genta itu jaman saya kecil kayak nyebut Gentong. Yang bulat besar itu, buat nyimpen air," celetuk Ibunya Wulan. "Ehem." "Eh, maaf ya. Maksudnya yang ini mah ndak. Ganteng!" Lanjutnya memuji Genta. "Oh ya, jadi gimana, Bu? Apa masih ada yang kosong kontrakannya?" "Nah, kebetulan ada. Mau lihat-lihat?" "Iya, Bu." Genta dan Irfan mengikuti langkah perempuan berdaster merah itu. Perempuan yang beberapa kali dilihat sedang memarahi gadis bermata teduh itu. Yang tak lain adalah Wulan. Ya, Wulan yang sama dengan pertama Genta melihatnya saat di rumah Irfan. Terlihat dari beberapa foto yang sempat dilihat sebelum memasuki kontrakannya. Kontrakan ini menyambung dengan pemiliknya. *** Entah kenapa dalam kondisi seperti ini, ingatan tentang Ibu kembali muncul. Seolah hendak mewawancaraiku. "Kamu yakin akan menambah rahasia lagi, Genta?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN