(POV Genta)
***
"Nak, gimana? Sudah bisa dihubungi?" Ibu Sekar bertanya pada Sukma.
"Ibu kok kawatir sekali dengan Genta, Nak. Kenapa ia ndak kabarin Ibu?" Cemas kian menggelayutinya.
"Ibu tenang, ya. Mungkin hp Kakak mati. Jadi susah dihubungin.
"Gimana kalau dia ada apa-apa?"
"Apa dia sudah makan?"
"Kenapa sampai saat ini tak berkabar?"
"Kan seharusnya motornya sudah sampe. Dia bisa kabarin Ibu. Kenapa sampe sore begini, belum juga kabarin Ibu?"
"Ssstt, Ibu tenang, ya. Kakak pasti nggakpapa. Ibu istirahat dulu aja, ya. Biar nanti sorean Genta telpon Kakak lagi."
"Nak, tolong kabarin terus Kakakmu. Dia tak punya siapa-siapa di sana. Ibu kawatir dia kenapa-napa."
"Iya, Bu... Ibu tenang, ya."
"Ya Allah, Kakak kemana aja si? Kenapa gak berkabar juga?" Genta ikut cemas.
***
Terik mentari siang itu cepat memudar. Setelah Genta melihat kondisi kontrakan, segera bergegas pulang. Ada sedikit kelegaan yang dirasa. Setidaknya, beban itu kian menunjukkan tanda menemukan solusinya. Pindah? Tak mengapa!
"Terimakasih ya, Bu. Saya antar temen dulu berkemas."
"Iya. Hati-hati, Nak."
Langkah kaki yang cukup capek, tak membuat mulutnya mengucapkannya. Tiada keluh untuk seorang pria. Pun, Genta. Sampai di belokan dari indekos milik Ibunya Wulan—dari kejauhan, Genta melihat perempuan bermata teduh itu. Jauh dan kian mendekati halaman matanya.
"Teh, sudah pulang?" Yang disapa tersenyum kecil. Entah, apa yang dirasakannya.
Baru saja kelegaan menyelimuti, kini terasa lebih bertumpuk.
"Ada apa? Kenapa Wulan tak menjawabku? Bahkan ekspresinya. Itu cukup aneh sekali. Itu bukan senyumnya." Lirihnya.
Yang tak kalah aneh justru Irfan. Dia sama sekali tak menegurnya. Sama-sama mengeluarkan segaris senyum yang aneh.
Perempuan berjaket abu itu terus berjalan. Tak sedikitpun menoleh kembali. Apalagi menengok ke sumber suara di belakangnya. Tak lain adalah aku sendiri.
Semilir angin yang sayup menerpanya pun tak digubrisnya. Ia terus melangkah ke depan. Memasuki rumah perempuan berdaster merah itu.
Genta ambil ponsel dari saku celananya. Ingin mengabari Mas Ahsan juga karena nasihatnya untuk memberi tahu.
"Ahh, lowbat. Aku lupa." Mau tak mau, Genta pun segera kembali ke rumah Irfan.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa dia ? Apa ia marah padaku karena melihat fakta bahwa aku menumpang di kontrakannya? Atau sebenernya karena Irfan?" Ragam pertanyaan cemas kian mengemasi pikiran Genta.
"Aku harus segera pulang! Saatnya pindah, dunia!"