Part 41 - Romansa Mulai Bermekaran di Taman

529 Kata
(POV Naya dan Nata) *** "Arrrghhh!!" geram Nata di ruangan pribadinya. Ia duduk sembari tertunduk. Kepalanya dipegang seolah mengantuk. Namun, bukan mengantuk. Sepertinya ada yang sangat mengganggu pikirannya. Tak berapa lama kemudian, datangnya Bi Darsih mengetuk pintu. "Permisi, Den..." "Iya, Bi?" "Silakan masuk." "Ini minumnya." "Oh ya, Bi. Bisa minta tolong panggilkan Naya?" "Ehm, Non Nayanya lagi di taman. Saya panggilkan dulu, ya." "Taman? Lagi ngapain?" Nata memang selama ini tak begitu memahami detail apa yang dikerjakan istrinya di rumah. Ia sibuk mengurusi pekerjaannya. "Biasanya Non Naya memang sering di taman, Den." "Kayaknya memang terlihat lebih tenang di sana," lanjut Bi Darsih berusaha menuturkan. "Oh ya? Yasudah, ndak jadi panggilkan. Saya kesana saja." "Baik, Den. Bibi pamit ke dapur dulu." Nata menganggukkan kepala. Memersilakan Bi Darsih kembali pergi. Hari ini berita di media tersebar kemana-mana. Sebuah masa dimana krisis mulai memercikkan ke segala lini masa. Termasuk perusahaan penerbitan yang dipegang Nata. Meskipun perusahaannya itu bukanlah satu-satunya. Namun, penerbit ini warisan dari orangtuanya. Satu-satunya hal yang membuatnya bertahan, walau tak begitu menyukainya. Semata karena titipan orangtuanya. Nata memerhatikan Naya dari belakang. Terlihat perempuan yang duduk di bangku taman. Di tangannya ada sebuah buku yang masih asik dibaca. Angin segar masih tercium dari taman itu. Ini mungkin salah satu alasan Naya menyukai duduk dan berlama-lama di taman. Dalam kondisi apapun, bahkan yang sangat penat sekalipun, seseorang akan merasa teduh merasakan kesejukan alam. "Nay...." panggil Nata lembut. "Mas? Eh, Mas sudah pulang? Maaf, Naya ndak tahu." Sontak, Naya segera bangkit dari tempat duduknya dan mencium tangan Nata. Suatu tata krama yang juga diajarkan di rumah itu. Ia masih menundukkan kepalanya. Sebelum akhirnya Nata mendekatkan diri dan memeluknya. "Kamu sedang apa di sini?" tanyanya masih mendekap Naya. Naya sempat canggung. Matanya memancarkan tanya. Kenapa tiba-tiba suaminya itu berlaku seperti ini? Apakah karena hari itu, dia tak memperbolehkannya? Atau ini caranya agar dia mau berlaku selayaknya suami istri? "Kenapa diam?" tanya Nata sembari perlahan melepaskan dekapannya. Dilihatnya sorot mata yang bulat dan hitam lekat itu. Tulang pipi yang tak terlalu tinggi, tapi tetap membuat wajah pemilik mata yang bulat itu berseri. Kulitnya yang kuning langsat, bersih terawat. "Eh, nggakpapa, Mas. Naya cuma agak sedikit kaget saja." Nata tersenyum. Berjalan dan duduk kembali di bangku taman. Tangan Nata masih mendekap erat pundak istrinya itu. Sebuah sikap manis yang membuat Naya kian canggung. "Kenapa kamu suka tempat ini, Nay?" tanya kembali Nata. "Ehm, enak aja, Mas. Sejuk." "Kamu suka baca?" Naya menganggukkan kepala. "Baca buku apa itu?" "Ouh... ini? Ini novelnya Pramoedya Ananta Toer, Mas. Gadis Pantai." "Gadis Pantai?" "Tentang apa itu?" "Ehm, Mas mau baca sendiri?" Nata tersenyum tipis dan menatap ke depan. Seolah mencari ingatan yang akan diutarakannya. "Nay, kamu bahagia di sini?" Sebuah pertanyaan yang tak pernah Naya sangka akan keluar dari mulut Nata Najendra. Seseorang yang awalnya ia kira begitu tega mengambil dari Ibunya. Meskipun selama ini, Naya tak pernah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Ia tetap diperlakukan dengan baik. Bahkan, sangat baik. Hanya saja, ia harus rela terbatas dari dunia luar. Satu hal yang Naya masih belum bisa sepenuhnya memahami dari aturan itu. Naya tak menanyakan lebih. Saat ini hanya mengikuti roda berjalannya kehidupan saja. Kemana akan membawanya? Masih jadi misteri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN