Part 42 - Pertanyaan Rahasia (Revisi)

539 Kata
"Kamu merasa seperti Gadis Pantai di buku itu?" Gleek!! Sebuah pertanyaan yang kembali membuat Naya terhentak. Sesungguhnya, karena itulah ia mau membaca buku itu. Meskipun jarak masanya berbeda. Namun, dunia ternyata tak pernah begitu benar-benar berubah. Pernikahan paksa masih saja dapat ia rasakan. Setidaknya, seperti itu yang Naya barangkali rasakan. Meskipun yang dirasakan selama menjadi istri Nata, tak ada satu hal yang menjurus ke dalam k*******n. Justru sebaliknya. Ia memerlakukan Nata dengan sangat bijaksana. Naya hanya terdiam mendapati pertanyaan dari Nata. "Nay, dunia ini tak ada yang pernah-pernah berubah," tutur Nata. Naya masih belum mengerti apa yang dimaksud suaminya itu. "Hari ini, krisis mulai terjadi dimana-mana. Hampir di semua lini. Termasuk usaha penerbitan warisan orangtuaku," Nata masih menuturkannya. Naya pun dengan sigap mendengarkannya. "Perusahaan penerbitan itu, terancam kolaps, Nay. Itu satu alasan kenapa aku pulang cepat. Penat sekali." "Rasanya... aku perlu membuat jarak sebelum memutuskan mau mengambil langkah apa." "Mas?" "Ya?" "Kamu capek?" Nata tersenyum dan menyingkap poni Naya yang tertiup angin. Dipandanginya mata yang bulat itu. Sepasang mata bulat dan sepasang mata yang tajam tapi teduh itu bertemu. Kian mendekat. Cupp!! Sebuah kecupan di kening Naya dari Nata, suaminya. Kehangatan bertabur kesejukan angin yang menerpa kian meneduhkan jiwa. "Mas gak capek setelah melihatmu, Sayang." Ucap Nata pada istrinya. Naya terdiam. Perlahan sebuah garis senyum terpancar dari bibirnya. Tangan Nata kian erat mendekapnya. "Kalau capek, istirahatlah, Mas," ucap Naya lembut. "Boleh?" "Tentu." "Kalau istirahat di pangkuanmu, juga boleh?" Sebuah pertanyaan yang kembali membuat Naya kebingungan. Nata yang melihat wajah Naya bingung, sontak tertawa. "Ih, kenapa ketawa, Mas? Emang ada yang lucu?" "Pipimu sampai merah gitu." "Oh ya? Enggak!" "Haha... bercanda." "Tapi boleh ndak? Sebenarnya sih capek. Dikit." Naya menganggukkan kepala. Tak perlu waktu lama, Nata menyandarkan kepalanya di pangkuan istrinya itu. "Ah... rasanya kembali tenang. Capek sekali hidup dengan banyak target pencapaian," celetuk Nata. Naya mengelus rambut suaminya itu. Semilir angin kian meneduhkannya. "Mas, tadi kamu bilang perusahaan penerbitan? Jadi, kamu sering bersinggungan sama banyak buku?" "Ehm, nggak juga. Tapi dikit-dikit tahu lah." "Sebenarnya aku bukan tipikal penggemar buku sepertimu. Hanya saja ini warisan usaha orangtuaku. Aku ingin merawatnya," jelas Nata. "Kamu baik, Mas." "Baru nyadar, yah? Emang aku keliatan jahat selama ini?" Gelak tawa sempat memenuhi taman itu. Sebelum akhirnya kembali hening. "Kita sudah dua bulan, Mas. Aku tak menyangka. Bisa menjalani ini semua. Barangkali benar katamu, Mas. Hidup ini sangat capek kalau hanya memikirkan taget pencapaian berlebihan," Naya mulai menuturkan yang ada di benaknya perlahan. "Pada akhirnya, penerimaan dengan segala takdirlah yang membuat damai jiwa. Dalam kondisi apapun. Bahkan, yang mengancam naluri manusia untuk hidup itu sendiri." "Kamu sedang memikirkan sesuatu, Sayang?" "Ya. Tapi aku belajar tidak terlalu memikirkannya. Aku sudah berusaha tiap hari menimbunnya." "Kalau boleh tahu, apa itu?" "Sesuatu yang sangat mustahil meraihnya untuk sekarang. Entah, sampai kapan." "Gapapa, Mas. Aku gak menyesal. Aku bahagia menjadi istrimu." Nata sontak mendekap Naya seperti anak kecil yang merindukan Ibunya. "Maafkan aku kalau caraku mengambilmu dari Ibumu terlihat kurang etis. Tapi aku tak pernah memiliki niat jahat apapun." "Suatu saat, kamu akan mengerti kenapa aku melakukan ini. Kamu percaya, Sayang?" Pertanyaan di taman itu seolah angin segar tersendiri bagi Naya. Setidaknya, satu tahap penguatan dirinya sendiri. Apakah ucapan Nata memang bisa dipercaya? Dan apa maksud dari rahasianya itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN