(POV Naya dan Nata)
***
Naya menganggukkan kepala. Sekilas, senyum kembali dikembangkan dari bibirnya.
"Kamu masih capek, Mas?"
"Masih. Masih nyaman di dekatmu," Nata merajuk begitu saja.
"Kamu ini kenapa, Mas? Jadi gini, kalau capek jadi mudah ngerajuk?"
"Biarin. Bodo amat sama wibawa. Di depan kamu, aku tetap suamimu, kan? Hum?"
"Kamu ini lucu, Mas."
"Gapapa. Yang penting kamu sayang."
Bunga-bunga romansa kian terpancar di antara keduanya. Naya pun agaknya sudah mulai bisa menempatkan rasa dendam pada Ibunya. Lebih tepatnya, kekecewaannya itu.
Terlebih, ia mulai kuat hati menerima takdirnya. Agaknya, mungkin ini cara Tuhan menempatkan diri dalam tempat dan lingkungan yang lebih baik.
Saat bersama Ibunya, Ibunya kerap kali sangat labil. Terkadang begitu lembut. Tapi sekaligus sekali marah, ia begitu menyeramkan. Mungkin ini cara Tuhan menyelamatkan dirinya? Entahlah.
"Mas...."
"Iya?"
"Aku boleh mengatakan sesuatu?"
"Apa itu?"
"Aku senang mendengarmu mau bercerita seperti ini. Jujur, ini sangat membantuku menerima takdirku."
"Takdir yang kadang tak semua orang bisa memahami kenapa dan kenapanya."
"Tapi disini... terutama dengan segala sikap baikmu, aku berusaha belajar, Mas."
"Berusaha jadi istri yang baik. Meskipun, aku tentu masih banyak kekurangan."
"Namun, bukan itu yang akan kukatakan, Mas."
"Lalu?"
"Ada satu keinginan yang sangat kuharapkan. Tapi aku tidak memintamu, Mas. Aku hanya ingin meluapkannya saja. Sebagaimana kamu berani meluapkan capekmu. Tidak apa, bukan?" tutur Naya sembari menatap wajah suaminya itu.
"Tentu. Katakanlah. Aku akan mendengarkanmy dengan baik."
"Aku ingin melanjutkan pendidikan, Mas. Rasanya... dunia ini begitu hampa tanpa belajar. Tanpa sesuatu baru yang melegakan."
"Bukan sekadar melegakan seperti halnya lapar lalu kenyang. Tapi benar-benar naluri seseorang yang ingin begitu terus belajar, Mas."
"Ah, entahlah. Tapi tak usah risau, Mas. Aku hanya ingin meluapkannya saja. Setidaknya, biar aku sedikit lebih lega."
"Kamu sudah merasa lega setelah mengatakannya?" tanya Nata sembari memegang pipi istrinya dengan lembut.
Tangan Naya memegang tangan suaminya yang mengusap lembut pipinya itu.
Naya tersenyum seraya menuturkan ucapan penuh kasih.
"Aku bahagia, Mas. Aku lega. Lebih tenang sekarang."
"Alhamdulillah... kamu tak penasaran dengan pertanyaanku sebelumnya?"
"Tentang?"
"Oh ya, maksudnya alasanmu mengambilku dari Ibu?"
Nata mengangukkan kepala.
"Sebenarnya penasaran. Tapi aku tak ingin kamu mengatakannya dengan terpaksa. Jadi biarkan saja. Bisa menjalani hari dengan saling mengerti ini saja sudah cukup bagiku sekarang, Mas."
Dalam hidup ini, apa yang benar-benar kita bisa kendalikan? Apa yang benar-benar kita prediksi dalam segala lini?
Bahkan, rencana-rencana yang sudah kita tentukan jauh hari lamanya, bisa gagal hanya sekian detik setelah dituliskannya. Barangkali, dalam hal ini angin takdir memperjalankan Naya begitu anehnya. Namun, sekali lagi tak pernah ia sangka.
Takdir barangkali serupa jembatan untuk berbagai kesempatan.
Kesempatan-kesempatan baru yang perlu ia cari tahu. Termasuk di dalamnya kesempatan untuk sepenuhnya menerima takdir itu sendiri. Meskipun perihal menerima, agaknya akan selalu beriringan dengan rasa sakit yang tak bisa dinafikkannya.
Sejauh mana sekarang Naya mampu menerima takdirnya itu? Kini, keinginan terbesarnya dalam hidup, yakni ingin melanjutkan pendidikan, sudah ia lontarkan. Naya hari ini, bisa jadi lebih kuat dari dua bulan yang lalu itu.
"Terima kasih sudah mau meluapkannya, istriku."
"Aku yang semestinya berterima kasih padamu, Mas."
"Kamu sudah begitu baik. Kalau ada yang bisa aku bantu, jangan sungkan kembali menceritakannya padaku, Mas," tutur Naya.
"Aku pasti akan lebih merasa berarti kalau bisa membantumu. Dalam hal apapun yang sekiranya baik dan aku mampu."
"Benarkah begitu?"