(POV Naya dan Genta)
***
Nata bangkit dari pangkuan istrinya. Ia sandarkan kepala Naya di pundaknya. Mendekapnya dengan penuh kelembutan.
"Terima kasih. Aku beruntung bisa memiliki perempuan sekuatmu," ucap Nata dengan lembut.
"Maafkan aku yang mungkin caraku mengambilmu tidak begitu baik."
"Aku tak perlu berjanji akan memerlakukanmu dengan baik. Aku tak suka berjanji. Janjiku pada Tuhan saat menikahimu, itu sudah sangat cukup jadi peganganku untuk menjagamu, Nay."
Tanpa sadar, Naya mulai menitikkan air mata. Entah, apa yang dirasakannya saat itu.
"Kamu, kenapa nangis? Apa ini mengingatkanmu?"
"Kamu masih merasa sakit?"
Naya menggelengkan kepala.
"Maaf, kalau aku menyakitimu."
"Tidak, Mas. Aku cuma terharu."
"Aku sempat mengiramu begitu jahat. Meskipun kini aku sadar, tidak ada yang benar-benar jahat. Barangkali mungkin Ibu juga."
"Maksudnya?"
"Kamu pasti tahu kenapa Ibu tak pernah mengunjingiku lagi kan, Mas?"
"Kamu sudah tahu, Nay?"
"Maaf, aku tak sengaja melihat surat perjanjian itu di ruangan pribadimu."
"Disana tertera jelas Ibu memang tak bisa menemuiku kan? Awalnya aku semakin kesal padamu, Mas. Tapi mendengarmu hari ini. Rasanya, aku tak perlu lagi sekecewa itu."
"Aku mulai yakin dan belajar menerima. Terutama memercayaimu."
"Meskipun aku sendiri belum tahu alasan kenapa kamu membuat perjanjian seperti itu, Mas."
Nata kembali menyandarkan kepala Naya.
"Terima kasih sudah percaya padaku."
"Aku tak seperti tokoh di buku Gadis Pantai yang mengambil paksa perempuan seperti barang. Aku paham setiap perempuan pasti punya perasaan," jelas Nata.
"Aku hanya belum siap mengatakan alasannya. Suatu saat, kamu akan mengerti dengan sendirinya kenapa aku membuat perjanjian itu."
"Ini semua demi kebaikanmu. Termasuk barangkali kebaikan masa depanmu."
"Aku percaya, Mas. Aku akan belajar untuk itu. Menerima segalanya tanpa dendam atau kecewa berlebihan."
"Syukurlah kalau kamu mau mengerti."
"Kamu bosan di rumah?"
"Sedikit."
"Mau keluar?"
"Kemana?"
"Ke tempat yang bisa meluapkan kecewamu. Meneriakkan segala emosi yang masih tersisa di hatimu."
"Sejak kapan kalimatmu jadi romance gitu, sih, Mas?"
"Haha... sejak aku di dekatmu."
"Gombal."
"Gimana? Mau?"
"Tapi... bukannya kamu lagi capek? Gimana dengan perusahaan?"
"Sekalian refreshing nyari ide. Sebuah masalah tak akan selesai dengan pikiran yang tak jernih. Nanti sore kita pergi. Ok?"
"Beneran, Mas?"
"Iya dong."
"Kemana?"
"Sudah. Pokoknya ikut saja. Gak akan diculik, kok," canda Nata.
"Lagian siapa yang mau nyulik. Orang sudah diculik kamu, Mas."
"Kamu boleh juga bercandanya."
Gelak tawa kembali menyeruak di taman itu. Sepasang kekasih mulai merajut benang-benang asmara. Akankah itu pertanda kebahagiaan menerpa Naya dan masa depannya?
"Oh ya, Mas. Kita nanti pergi pakai apa?"
"Aku mabokan lo, Mas."
"Kalau sama aku emang mabokan juga?"
"Ya kan gak gitu."
"Mas tahu kok. Sekarang kamu juga lagi mabok 'kan?"
"Mabok asmara!" ledek Nata.
"Ih, apaan!" Naya refleks mencubit pinggang Nata.
"Aww! Sakit tahu."
"Biarin! Wee!" Ledek Naya.
"Seneng liat kamu ceria begini. Baru kali ini kita berdua seperti ini 'kan?"
"Aku terlambat menyadari. Ah, ini jadi kelemahanku."
"Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali."
"Dua bulan, yah? Itu waktu yang lama atau tidak?"
"Ehm, tergantung."
"Tergantung?"
"Ya. Katanya waktu itu bukan ukuran jam, hari, atau tahun. Tapi seberapa dalam kita mengolah rasa dalam setiap kesempatan yang Tuhan berikan," jelas Naya sok tahu.
"Heh! Sejak kapan istriku ini kesurupan kek Filsuf?" Ledek Nata.
***
Penerimaan. Agaknya mulai membuat Naya sadar akan titik keberadaan dan tanggung jawabnya. Ia juga mulai lega telah mengatakan keinginannya itu. Nata pun menyambut baik. Meskipun perihal pertanyaan alasan kenapa dibuat perjanjian dimana ibunya tak bisa menemuinya itu, masih jadi rahasia.
Setidaknya, satu kegembiraan dan kelegaan dirasakan Naya. Akan kemana pula Nata mengajak istrinya itu? Akankah Nata selamanya berlaku baik dan benar-benar laki-laki yang baik?