Part 45 - Loker Baru? (Revisi)

546 Kata
(POV Genta) *** "Gimana, Ta? Betah?" tanya Irfan. "Alhamdulillaah... betah-betah aja." "Syukur deh." "Oh ya, gue ada info loker nih. Mau coba nggak?" "Beneran?" "Iya. Mending sekarang baca-baca dulu nih syaratnya. Lumayan kan kalau diterima." Irfan mengirim sebuah pamflet lowongan kerja. Genta yang masih bekerja di mebel bapaknya Irfan pun langsung tertarik. Matanya menatap penasaran. Begitu antusias. "Genta..." "Hum? Kenapa?" Irfan bertanya memecah diam. "Lo yakin bakalan ngilang dari Ibu dan adik di kampung sana?" "Hum? Kamu tahu darimana?" "Aku ini sahabatmu. Pasti tahu tanpa kamu cerita." "Aku perhatiin sekarang kamu gapernah ngangkat telpon. Atau menelpon. Hampir gapernah." "Sebenernya kenapa?" Genta terdiam sejenak. Matanya mengalihkan fokus. Menatap Irfan. Lalu menunduk. "Inilah caraku berkabar, Fan. Setidaknya, sampai aku yakin bakal berkabar lagi." Jawab Genta setengah yakin. "Kenapa? Karena belum bekerja? Karena istri Mas Ahsan? Atau... karena pindah?" "Semuanya bagian dari rahasiaku pada Ibu. Aku bingung, Fan. Gimana caranya ngabarin Ibu dan Sukma, adikku." "Aku ini satu-satunya laki-laki yang diandalkan. Bapakku lama sudah ndak ada. Aku tak mungkin mengabari Ibu tentang kabarku saat ini." "Hanya membuatnya kawatir. Dan aku tak mau itu, Fan." Irfan menepuk pundak Genta. "Sabar, Ta... Gue akan selalu bantu semampu mungkin." "Apapun keputusan yang dipilih, harus siap dengan segala resikonya." "Aku tahu itu. Akupun sebenernya ragu dengan ini. Tapi setidaknya, inilah yang sepertinya jalan terbaik." "Mungkin, sampai benar-benar aku mendapat kerja yang mapan. Yang bisa Ibu dan Sukma banggain." "Dan.... " "Dan apa, Ta?" "Ndak papa, Fan. Lupakan. Ndak jadi." "Eh, ada seseorang lain yang kamu pikirin?" Genta menggelengkan kepala. "Udah... sekarang jalannya ada di depan mata. Gimana, udah baca 'kan? Tertarik?" "Mau besok temenin?" "Emang gak kuliah?" "Besok libur, euy!" "Oh iya. Lupa." "Maklum jomlo! Malam minggu aja lupa. Haha kita sama." Canda Irfan. "Ok, gue balik dulu, ya? Kalau ada apa-apa kabarin aja. Ok?" "Siap, bos!" *** Wulan tersenyum pada Irfan. Melihatnya melaju pergi dengan motornya. Seperti ada kalimat yang sulit dikatakan. "Teh..." sapa Genta. "Iya, A." "Sudah lama sahabatan sama Irfan?" "Teman kecil, A." "Ouh, pantesan." Wulan tersenyum. Lalu berpamit diri. "Punten... saya masuk dulu." "Mangga..." jawab Irfan sekadarnya. "Dari kemarin lupa tanyain. Sebenernya pas itu dia kenapa? Kenapa saat aku tanya tentang Wulan ronanya berubah?" "Ehm... besok aku harus tanyain!" *** Siang itu, langit cukup begiru terik. Bersama angin, udara memerangkap siapa saja untuk tidur siang. Tak luput, Genta. Genta memarkirkan motornya di depan kontrakan. Dan tiba-tiba tertidur begitu saja. Terbangun, juga karena tiba-tiba. Ya, tiba-tiba ada suara. "Gimana, sih? Belanja gak bener! Emang yang dibeli ini gapake duit, hah?!" suara Bude Wulan terdengar ke telinganya. Genta mencoba melihat apa yang terjadi. Terlihat Wulan sedang jadi obyek kekesalan Budenya. Genta tak tahu bagaimana perasaanya diperlakukan begitu. Pagi dimarahi, siang pun sama. "Apa dia gak coba melawan? Kenapa diam saja?" Gumamnya. Braaangg!! "Sudah, kamu di luar saja! Sebagai ganti hukumannya!!" Suara pintu dibantingnya. Budenya meninggalkan Wulan di luar rumah. Rintik hujan tiba-tiba datang begitu cepat. Di tengah terik yang kian mencekik. Bulir bening jatuh dari langit. Menerpa tanaman yang rindu kesejukannya. Pun, menyejukkan mata manusia yang berharap kesejukan lewatnya. Genta segera merapikan yang sekiranya perlu. Sambil sesekali memastikan Wulan. Dia masih berdiri menghadap pintu yang tadi dibanting begitu rupa oleh Budenya. Bude yang dipanggil Ibu olehnya. Agaknya, panggilan itu terlalu mulia untuknya. "Wulan, kamu begitu menderita. Kenapa tak sedikitpun melawan?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN