"Nak, gimana? Sudah bisa dihubungi?" Ibu Sekar bertanya kembali pada Sukma.
"Ibu kok kawatir sekali dengan Genta, Nak. Apa yang dia alami? Kenapa ia ndak kabarin Ibu?" Cemas kian menggelayutinya.
"Ibu tenang, ya. Mungkin hp Kakak mati lagi. Kakak kan suka lowbat hpnya. Jadi susah dihubungin.
"Gimana kalau dia benar-benar kenapa-napa?"
"Apa dia sudah makan?"
"Kenapa sampai lebih dari sepekan ini tak berkabar?"
"Kan harusnya biasanya dia telpon Ibu. Kenapa sampe siang begini, belum juga kabarin Ibu?"
"Ssstt, Ibu tenang, ya. Kakak pasti nggakpapa. Ibu istirahat dulu aja, ya. Biar nanti sorean Sukma kembali telpon Kakak lagi."
"Nak, tolong kabarin terus Kakakmu. Dia tak punya siapa-siapa di sana. Ibu kawatir dia kenapa-napa."
"Iya, Bu... Ibu tenang, ya."
"Ya Allah, Kakak kemana aja si? Kenapa gak berkabar juga?" Sukma ikut cemas.
***
Terik mentari siang itu cepat memudar. Setelah Genta dan Irfan menaruh lamaran, kami memutuskan makan siang di warteg. Lalu bergegas pulang. Ada sedikit kelegaan yang dirasa. Setidaknya, beban itu kian menunjukkan tanda menemukan solusinya. Masih bekerja di mebel? Apapun!
Langkah kaki yang cukup capek, tak membuat mulut Genta mengucapkannya. Tiada keluh untuk seorang pria. Pun, Genta. Sampai di belokan menuju indekos, Genta melihat istri Mas Ahsan pulang.
"Fan, sudah... sampai di sini aja, ya."
"Beneran? Kenapa emang?"
"Aku lupa ada yang ketinggalan di kontrakan Mas Ahsan. Jadi kamu duluan aja deh ke kostan. Nanti nyusul."
"Yaelah... kan bisa gue anter."
"Udah, gapapa. Duluan aja. Ok?"
"Ehm.. aneh. Yaudahlah. Gue ke kontakan lo duluan ya berarti?"
"Iya. Thanks, ya."
Irfan melajukan motornya. Belok ke arah yang berbeda. Melewati jalan lain yang tak searah dengan Mia berjalan.
Genta mengikuti langkahnya. Berusaha menyapa.
"Mba, sudah pulang?" Yang disapa hanya menoleh. Entah, apa yang dirasakannya.
Baru saja kelegaan menyelimuti, kini terasa sakit itu terulang kembali. Mendapat caci maki Mia, istri Mas Ahsan. Namun, Genta tetap berusaha kembali menyapanya.
"Mba, baru pulang kerja, ya?" Sapa Genta.
"Ada apa? Kenapa istri Mas Ahsan tak menjawabku? Bahkan ekspresinya. Itu lebih menakutkan sekali." Lirih Genta.
Perempuan berjaket abu itu terus berjalan. Tak sedikitpun menoleh. Apalagi menengok ke sumber suara di belakangnya. Tak lain adalah Genta sendiri.
Semilir angin yang sayup menerpanya pun tak digubrisnya. Ia terus melangkah ke depan. Ingin rasanya Genta segera menelpon Mas Ahsan. Namun, ditahan. Setidaknya, Genta yakin. Apakah aku harus kembali sekarang atau tidak?
Genta mengambil ponsel dari saku celananya.
"Ahh, lowbat lagi. Aku lupa." Mau tak mau, Genta pun menyusul langkahnya.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa dia? Apa masih marah padaku karena aku menumpang di kontrakannya? Tahu diri? Apa aku kurang tahu diri?" Ragam pertanyaan cemas kian mengemasi pikiran Genta.
***
"Nah... kemana aja baru nyampe. Jamuran nih."
"Mana jamurnya? Asik dong bisa dipepes." Canda Genta menyapa Irfan yang duduk di teras depan kontrakan.
"Oh ya, Fan. Dari kemarin lupa mau tanya."
"Tanya apa, nih? Kayaknya serius."
"Iya, serius... tapi terserah lo sih... mau jawab apa nggak."
"Iya apa?"
"Wulan."
Irfan seperti terjeda sendiri mendengar nama itu disebut. Namun, berusaha ia memasang ekspresi baik-baik saja.
"Kenapa dengan Wulan, Ta?"
"Ehm... aku kasian sama dia. Selalu kulihat, dia dimarahin sama Budenya itu."
"Katanya, kamu sahabat kecilnya 'kan? Sebenernya apa yang menimpa Wulan sampe sekarang ini? Kenapa tiap kali dimarahi, dia tak pernah memasang wajah sedih segurat pun?"
"Aku penasaran dengan perempuan itu."
"Jangan."
"Kenapa?"
***
Bagaimana perjalanan Genta selanjutnya menghadapi masalah yang menerpa? Akankah ia terus menghilang dari Ibu dan Sukma? Sebenarnya ada apa juga dengan Wulan? Simak kelanjutannya, ya.
Kritik, saran, dan bertegur sapa bisa lewat review atau ig @anaoshibana