(POV Genta)
***
"Aku penasaran dengan perempuan itu."
"Jangan."
"Kenapa?"
***
Irfan masih saja bungkam tentang Wulan. Wajahnya seperti tak ingin mengatakan apapun. Alhasil, pembicaraanpun, Genta alihkan. Biarlah rahasia tetap ada di diri Wulan.
"Fan, tak beli cemilan dulu deh ya. Sama es atau apa kek. Haus 'kan?"
"Ok. Jangan lama-lama."
"Siap bos!"
Terik mentari siang itu cepat memudar. Setelah pamit dengan Irfan, aku segera mencari cemilan. Ada sedikit kelegaan yang kurasa. Setidaknya, beban itu kian menunjukkan tanda menemukan solusinya. Masih bekerja di pabrik kayu? Apapun!
Langkah kaki yang cukup capek, tak membuat mulut Genta mengucapkannya. Tiada keluh untuk seorang pria. Pun, Genta. Sampai di belokan menuju indekos, Genta kembali melihat istri Mas Ahsan pulang.
"Mba, pergi lagi?" Yang disapa hanya menoleh. Entah, apa yang dirasakannya.
Baru saja kelegaan menyelimuti, kini terasa lebih bertumpuk.
"Ada apa? Kenapa istri Mas Ahsan tak menjawabku? Bahkan ekspresinya. Itu menakutkan sekali." Lirihnya.
Perempuan berjaket abu itu terus berjalan. Tak sedikitpun menoleh. Apalagi menengok ke sumber suara di belakangnya. Tak lain adalah Genta sendiri.
Semilir angin yang sayup menerpanya pun tak digubrisnya. Ia terus melangkah ke depan. Ingin rasanya Genta segera menelpon Mas Ahsan. Setidaknya, agar dia yakin. Apakah ia harus pulang sekarang atau tidak?
Genta mengambil ponsel dari saku celananya.
"Ahh, lowbat. Aku lupa." Mau tak mau, Genta pun menyusul langkahnya.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa dia? Apa masih marah padaku karena aku menumpang di kontrakannya? Tahu diri? Apa aku kurang tahu diri?" Ragam pertanyaan cemas kian mengemasi pikiran Genta.
"Aku harus segera beli cemilan! Irfan pasti menungguku."
***
"Ya Allah, apapun nanti yang terjadi di sana. Ridhoilah usahaku. Aku seorang pria. Ada tanggung jawab pada Ibu dan Suk.a. Berkahilah untuk mereka." Desir Genta dalam perjalanan, saat terpikir tentang Ibu dan Sukma.
Memori pertama kali menginjakkan kaki di Bekasi, kembali mengingatkannya. "Ada hal yang harus aku capai. Apapun yang menimpanya. Tak lain, semata untuk Ibu dan Sukma. Genta akan senantiasa berusaha, Bu."
"Belajar lebih menerima? Modal usaha? Punya usaha sendiri? Agaknya tiga hal yang mengingatkanku pada pesan Pak Adi. Namun, ia sendiri tak tahu. Apa yang akan terus diusahakan selain ini?"
Kita memang tak bisa memilih angin takdir. Namun, bukankah arahnya bisa kita usahakan? Bukankah dengan itu, layar di perahu bisa digerakkan lewat tangan manusia dan angin takdirnya?
"Tuhan, bolehkah kupesan satu saja arah takdir yang cukup untuk membuat Ibu dan Sukma bahagia? Aku tak peduli arahnya, meski harus menghilangkan diri pun aku bisa." Tekadnya.
"Apalagi rahasia yang akan kusembunyikan padamu, Bu? Maafkan aku."
Namun, pelan tapi pasti Genta sudah memutuskan menghilangkan diri. Baik itu suka tau tidak suka. Ini lebih bicara pada apa-apa yang bukan sekadar suka ataupun tidak.
Lantas, ia bertanya, "Apakah sebegini sulit pilihan hidupku yang harus kujalani?"
Namun, sebuah kekuatan mengingat memori. Berbagai pertolongan dari arah tak disangka-sangka, menambah keyakinan tersendiri baginya. "Ya, tak ada kekuatan lain selain aku harus yakin sama Allah." Tekadnya.
***
Sampai batas mana Genta akan terus merahasiakan kabar yang sebenarnya dari Ibu dan adiknya di kampung halaman? Bagaimana angin takdir membawa Genta berjalan?