Irfan masih saja bungkam tentang Wulan. Pembicaraan pun, Genta coba alihkan.
"Fan, aku udah beli cemilan nih. Ada es juga. Haus 'kan?"
"Ok. Thank you."
"Siap bos!"
"Oh ya, Ta. Gue langsung pulang aja, ya?"
"Lho, kenapa?"
"Iya, tadi Bapak minta gue balik, Ta."
"Ouh gitu. Yaudah, hati-hati yah."
"Ok. Gue balik yah."
Dari kejauhan, Wulan melihat Irfan. Namun, Irfan hanya tersenyum dan tak menyapanya.
Pertanyaan pernasaran agaknya makin membuntuti Genta.
"Sebenernya mereka kenapa?"
"Ah, lagian kenapa aku terlampau penasaran?"
Genta sejenak tertegun. Ia seperti seorang manusia dengan setengah kesadaran. Matanya menunduk seakan mencari kesalahan. Bukan hanya mencari, tapi mengutuk dirinya.
Wajahnya kian menyedihkan, saat menatap hujan. Menatap hujan membuatnya teringat gadis ajaib penyuka hujan dan malam itu. Ya, tak lain adalah kekasihnya. Lebih tepatnya, kekasih yang sudah menjadi istri orang lain; Naya.
Kekasih? Agaknya itu kata yang sudah harus segera dihapus dari benaknya.
"Ya Tuhan, kenapa perasaan ini masih tumbuh dengan sendirinya? Bukankah dia sudah bersama orang lain? Pantaskah perasaan ini kutumbuhkan?"
Genta berpaling. Kini memegang kertas. Sebuah kertas ucapan ulang tahun dari Naya, dulu kala. Seorang gadis yang selain pencinta hujan dan malam. Iapun penggila buku. Barangkali, lewat itu mereka bertemu. Ah, buku. Sesuatu yang terlihat mewah yang masih bisa digapai Genta saat ini.
Dipandanginya kertas ucapan itu. Wajahnya kian menyedihkan. Ditenggelamkan dirinya sendiri. Layu. Dan semakin layu.
"Naya, maafkan aku. Kamu hanya tak tau. Ini bukan kemauanku," gumamnya.
"Andai saja kau tahu. Ibumulah yang juga menyuruhku menjauh darimu, Nay." Lanjutnya.
"Tahu diri. Barangkali kini, kata itu juga pas untuk perasaanku!"
***
Akankah Genta memilih menghapus perasaan itu pada Naya? Dan perihal Wulan, ada apa sebenarnya? Siapa dan mengapa terasa dekat tapi juga berjarak dengan Irfan?
Simak di bab selanjutnya.
Kritik dan saran silakan dengan bahasa sopan, ya. Terima kasih.