"Waaah, makasih ya, Lin," balas Vi memeluk sahabatnya. "Iya, sama-sama," balas Olin. Mereka lantas tidur lagi karena masih tengah malam, suasana mencekam dan dinginnya malam amat menusuk tulang. Perut Viola seperti diremas-remas, ditusuk-tusuk ... sangat sakit. Ia tahan sampai pagi tiba. *** Pagi yang dingin, mereka yang berada dalam tenda menarik selimut sampai ke leher, tabuhan alat-alat masak memekakkan telinga, penampakannya ada yang penyok. Viola membuka matanya malas, untung saja tugas memasak sudah berakhir kemarin. Ia mengambil baju bersih untuknya berganti pakaian. Bergegas menuju toilet, sama seperti kemarin, banyak yang mengantre untuk mandi. Perut bagian bawahnya tetap saja sakit, ia memeganginya terus sambil meringis. "El, roti lo di dalem tas gue yang ambil, Vi lebih

