"Viiii!"
Dengan sigap Max menangkap Viola. Semua pasang mata tertuju pada Viola dan Max. Viola dan Max sekejap saling tatap, jantung mereka berdegup dengan kencang. Angel yang bukan siapa-siapa Max menjerit tak percaya dengan pemandangan di depan matanya.
"Max!" bentaknya.
Keduanya terkesiap, Max langsung menurunkan Viola. Angel mendekat ke Viola untuk merebut amplop dari tangannya. Viola yang kesal langsung menyambarnya kembali lalu membuka dan membacanya lantang.
"Kalian hebat, setelah ini jalan terus dan lalui jembatan gantung"
"Yuk, El!" ucap Viola menatap Elora sekilas, keduanya pergi meninggalkan Max dan Angel, Gracia sudah berjalan di depan mereka.
Mereka terus berjalan, anehnya mereka tak bertemu kelompok lain, dan keadaan hutan benar-benar sepi, tak ada kakak kelas yang berjaga disebuah pos ataupun lainnya.
Tak lama setelah itu mereka sampai pada jembatan gantung tanpa pegangan dikanan kiri, terbuat dari tali besar, terbentang dari utara ke selatan, di bawahnya sungai mengalir tak begitu deras dan juga mungkin tak terlalu dalam.
"Jadi kita harus lewatin sungai ini?" tanya Angel dengan logat manjanya.
"Iyalah!" ketus Viola.
"Nyamber aja lo!" sengit Angel.
"Berani nyebrang gak lo?!" ejek Viola.
Udah-udah, gue jalan duluan mastiin semuanya aman, kalo gue udah nyampe kalian gantian nyusul satu persatu, jangan barengan karena gak kuat talinya," pesan Max sebelum menapakkan kakinya pada tali bawah.
Mereka memang tak melihat jembatan karena memang tak ada jembatan dalam hutan. Juga guru dan panitia yang lain karena mereka sedang bersembunyi.
"Abis Max gue, lo jangan nyela duluan!" peringat Angel pada Viola.
Ia tak menjawab, hanya menanggapinya dengan senyuman, memandang ke arah lain.
Max berjalan perlahan, saat mereka tak menatapnya atau hanya sekedar memalingkan muka dan berkedip, Max sudah sampai di seberang.
"Lah, cepet banget sampeknya," kata Elora menunjuk Max. Viola menoleh melihat Max, benar saja, ia sudah sampai sana.
"AYO! KALIAN SATU-SATU KE SINI!" teriaknya kencang.
"Okee!" balas Angel dengan senyumnya, langsung melangkah dan berpegangan erat pada tali atas.
Ia melangkah perlahan, pastinya takut jatuh dan hanyut. Viola yang tak sabaran menyuruh Angel untuk cepat-cepat, karena mereka menunggu lebih dari lima menit, dia bukan melangkah melainkan merayap, talinya sampai bergoyang-goyang dan dia terlihat sangat takut.
Viola melangkah untuk menyusul Angel yang masih sampai ditengah-tengah, ia berjalan perlahan dengan hati-hati.
"Ati-ati, Vi!" teriak Elora cemas.
"Ngapain sih lo nyusulin! Kuping lo budek, Max udah ngomong cuma satu-satu, napa lo ngeyel!" hardik Angel menatap tajam Viola.
"Banyak omong lo, cepetan jalan!"
Angel dengan langkah takut-takut melangkah, namun sayang dia tergelincir dan untungnya Viola memegang satu tangannya, alhasil berhasil selamat nyaris saja tercebur.
Angel tak berterimakasih, mukanya kesal dan langsung melangkah menuju pinggir.
Viola dengan cepat menyusul dan mereka lalu menunggu Elora dan Gracia menyebrang. Tak berapa lama mereka semua sudah berkumpul lagi, terlihat kelompok lain datang, seorang lelaki tampak menyebrang.
Max sudah membawa bendera kecil warna merah.
"Jadi kita udah berhasil?" tanya Angel sumringah.
"Nggak tau gue, harusnya sih udah," balas Max.
"Terus sekarang kita ke mana, gak ada petunjuk sama sekali gitu?" tanya Viola.
"Eh, tuh ada petunjuk, kita ke sana," tunjuk Gracia ke arah barat.
"Mana? gue gak liat tuh!" sengit Angel.
Gracia yang di sekolah ikut ekskul Pramuka ia menunjukkan arah panah yang terbuat dari susunan batu membentuk panah ke kanan. Mereka percaya setelah Max mengiyakan perkataan Gracia, tak lama setelah itu, ular besar ada ditengah-tengah jalan setapak yang akan mereka lalui. Mereka semua menjerit ketakutan, membuat ular itu sadar akan keberadaan musuh.
Max memerintahkan mereka semua untuk menjauh, Max berjongkok sesaat dan setelah itu ular tersebut tak ada, aneh semua perempuan termasuk Viola terkejut melihat pemandangan barusan. Mereka saling pandang, kemudian langsung berlari mengikuti Max.
"Lo pawang ular ya?" tanya Angel mendekat ke Max.
Max tak menjawab, terus berjalan.
"Sialan, gue dikacangin!" maki Angel kesal, menendang kerikil yang ada di depan kakinya.
Mereka berlima berjalan terus hingga akhirnya keluar dari hutan dan menuju tempat panitia berkumpul. Mereka menyambut ramah dan bangga karena kelompok Max datang pertama. Mereka lantas beristirahat, Viola dan Elora duduk di atas rerumputan hijau kekuningan.
"Aduh, capek banget gue ... huh ... huh," keluh Elora mengibas-ibaskan tangan kanannya di depan wajahnya.
Max sudah pergi entah ke mana, wajah mereka kemerah-merahan akibat kepanasan. Viola melamun, memikirkan keanehan-keanehan yang terjadi setiap dengan Max. Tadi saat Max berjongkok, seperti ia sedang berbicara saja dengan ular tersebut, tidak mengusir ataupun melukai. Atau mungkin dia pawang binatang buas, reptil atau ...
"Nih." Max memberi minuman gelas ke tangan Viola, ia awalnya merasa tersanjung namun ternyata Angel dan yang lain juga diberinya air mineral.
'Ah, ke geeran gue,' batin Viola malu.
***
Malam yang dingin sekali, suara binatang malam sangat jelas terdengar dipendengaran, mereka semua sudah tidur, Viola sakit perut, bukan karena ingin ke toilet namun ia tahu apa penyebabnya, tamu bulanannya datang.
Nasibnya sial, dia pikir tamunya tak akan datang secepat ini, ia membuka tas untuk mencari pembalut, namun setelah barangnya dikeluarkan, tak nampak satupun dia bawa, sungguh membuat frustasi.
"El, Lin!" Viola membangunkan kedua temannya pelan-pelan, Elora tak bangun, sedang Olin mengerjapkan matanya ikut duduk.
"Apa?" jawab Olin sambil mengucek matanya.
"Lo bawa pembalut nggak?"
"Hah? lo mens sekarang?"
"Iya, lo bawa nggak? Gue pikir nggak bakal dateng pas di sini, eh, taunya dateng," keluh Vi menunduk.
"Bentar-bentar, seinget gue, gue masukin beberapa, gue cariin dulu deh," balasnya mengambil tasnya.
Olin mengeluarkan barangnya satu-persatu dan Viola menontonnya, nasib sungguh sial. Olin tak membawa juga meski hanya satu, Viola semakin bingung.
Olin membangunkan Elora.
"El, lo bawa pembalut gak?" tanya Olin agak keras, mendekat Elora.
"Hah, hmmm ..."
El tak menjawab dan malah tidur lagi, mereka bingung karena sudah malam dan tentunya tak ada warung satupun.
Viola pergi ke toilet untuk berganti celana karena bocor, ia pergi sendirian karena Olin mencari pembalut di tas Elora barangkali ada.
Di dalam toilet Viola juga mencuci celananya sekalian. Ia sibuk mencuci namun terdengar langkah kaki di luar.
"Siapa?" teriak Vi dari dalam.
Tak ada jawaban dari luar, namun langkah kaki itu terdengar jelas, ia menyalakan keran, dan segera membilasnya, berfikir positif mungkin orang diluar tak mendengarnya.
Max berjalan menuju toilet untuk buang air kecil, ia melihat ada seorang lelaki yang tak dikenalinya, bukan juga teman satu sekolahnya. Dia mondar-mandir di depan toilet, sekilas ia melihat taring giginya muncul, ia mendekat melesat seperti kilat. Mencengkram leher lelaki tadi.
"Siapa lo? beraninya lo ke sini? mau gue habisin lo?" ancam Max.
Lelaki dihadapannya menyeringai, menarik taring giginya menyeringai tipis.
"Sorry, gue cuma penasaran sama orang didalem, ada makanan lezat nggak pengen gue lewatin dong, haha ..."
Max langsung menonjok pipi lawannya hingga terlihat retakan di sana, lalu dengan ajaibnya utuh mulus seperti awal. Dia menyeringai lagi, mereka lantas pergi ke dalam hutan untuk berkelahi. Setelahnya terdengar lolongan serigala, Viola keluar dan bulu kuduknya meremang mendengar lolongan serigala itu.
'Serem ih, kemarin kayaknya nggak ada, jadi jangan-jangan di sini ada serigala ...' batinnya, ia buru-buru berlari menuju tenda. Setelah menjemur celana ia bergegas masuk ke dalam tenda. Olin tersenyum dan menunjukkan penemuannya.
"Taraaa!" ucapnya.
"Waaah, makasih ya, Lin," balas Vi memeluk sahabatnya.