"Kelas Nathan yang mana? tau nggak kalian?" tanya Viola kepada dua temannya.
"Eh ... bawa apa? Mau dong ..." balas Elora melihat isi paperbag yang di letakkan di meja.
"Bukan makanan, itu jaketnya si Nathan kemarin dipinjemin," balas Vi.
"Makanan aja yang ada dipikiran lo, mbul," ledek Olin sukses membuat Elora nyengir. "Kelasnya dilantai tiga, kelas dua belas IPA 1."
"Ooh, oke."
"Lo yakin mau ke sana sendirian?" tanya Elora ragu-ragu.
"He'em, kenapa?"
"Serem-serem tauk di sana!"
"Emang ada hantunya?" tanya Vi polos.
"Bukaan, ceweknya yang serem, hahaha ..." kelakar Olin kemudian menutup mulut melihat sekeliling.
Semua teman mereka sudah keluar kelas untuk istirahat.
"Alah, orang cuma balikin ini doang, mau ikut?" ucap Vi bangkit, meraih paperbag.
"Gak, ah! Mending ke kantin aja, ya kan Lin?" balas Elora bergidik.
"Hehehe ... ngomong aja lo takut, El. Gue sih pilih ngisi cacing-cacing diperut gue sih, Vi, sorry ya gue gak nganterin," balas Olin berdiri.
"Oke, sampe ketemu di kantin," balas Viola melangkah pergi, mereka berdua lalu pergi ke kantin.
Viola berjalan terus mencari kelas Nathan melewati kelas-kelas yang tak ramai penghuninya, mereka kebanyakan berada di luar kelas, di depan kelas, pergi ke kantin, atau entah ke mana.
"Suiiittt-suuuiiiittt, cantik!"
"Kenalan dong, anak baru ya?"
"Mau ke mana, yuk aku anterin."
"Minta nomer hapenya dong."
Sepanjang jalan suitan dan ucapan-ucapan nakal itu menghiasi pendengarannya, membuatnya risih, Viola mengabaikannya karena ingin segera mengembalikan jaket Nathan dan pergi ke kantin.
Nah, yang dicari ketemu juga. "Kelas XII IPA 1"
Ia tersenyum lalu melangkah ke arah pintu, dan ...
Tak ada Nathan hanya ada beberapa perempuan sedang berdandan, mereka menoleh dan langsung bertanya pada Viola.
"Nyari siapa?" tanya salah seorang dari mereka.
Viola menjawab tergagap, "Na-Nathan," jawabnya.
Mereka saling lempar pandang dan terlihat kaget, yang paling cantik berdiri melangkah mendekat diikuti tiga orang di belakangnya.
"Yaudah, nggak ada orangnya aku mau cari ditempat lain aja," ucap Viola buru-buru pergi namun belum juga melangkah tangannya dicekal, ia menoleh.
"Lo siapanya?" tanya perempuan itu lagi.
"Bukan siapa-siapanya, lepasin!" Tangan kirinya berusaha melepaskan cengkraman tangan perempuan itu.
"Tunggu dulu, jangan bo'ong deh, lo anak pindahan? kelas apa? dan bawa apa lo? jangan sok kecakepan deh kayak cewek-cewek lain yang ngejar-ngejar Nathan!"
"Eh, siapa juga yang ngejar orang gue cuma mau balikin jaketnya."
"What? lo bawa jaketnya Nathan?"
"Iya, mang kenapa? lepasin! gue mau pergi!" Viola melepas paksa cengkraman dipergelangan tangannya. Ia melangkah cepat tanpa memerdulikan kakak kelasnya yang meneriakinya.
"Berani lo ya, gue belom selesei ngomong udah main pergi aja! Awas aja lo, Nathan itu punya gue!" teriaknya.
Viola terus berjalan, menuruni tangga dan sampai dilantai dua, ia berjalan lagi ke ruang OSIS karena ingat kalau Nathan itu ketua OSIS, barangkali dia berada di sana.
Ia melihat jam tangannya.
"Waduh, udah jam segini aja, mana laper belum makan apa-apa udah mau bel aja," gumamnya mempercepat langkah, mencari dimana ruangan OSIS yang menjadi tujuannya sekarang.
Dari jauh dia melihat ke sebuah ruangan ujung dan ada plakat OSIS, ia berlari agar cepat sampai.
Di depan pintu ada dua perempuan sedang berbincang, ia bertanya pada mereka.
"Huh ... huh ... Na-nathannya ada?"
"Nathaaaan dicariin penggemar looo!" teriak salah satu dari mereka.
Viola membelalakkan mata lalu menggeleng berulang kali.
"A-aku cuma mau balikin ba-"
Dari dalam ruangan muncul Nathan dengan senyum lebar yang manis menghipnotis Viola.
"Siapa?" tanyanya tanpa menatap Viola.
"Tuh, fans lo kali," jawab perempuan satunya. Nathan menoleh menatap Viola.
"Ooh, kamu ..."
"Emm-iya, nih aku udah cuci, makasih ya aku buru-buru," ucap Viola mengangsurkan jaket langsung diterima Nathan, lalu ia berlari meninggalkan mereka.
"Aneh banget," ucap dua perempuan itu serempak.
"Hehe, wangi nih, gue suka." Nathan masuk ke ruangan lagi menenteng paperbag berisi jaketnya.
"Ih, cengar-cengir lagi lo," ucap salah satu mereka, karena keduanya terkesan berbeda dari sebelum-sebelumnya. Tak seperti adik kelas lain yang mengejar-ngejar cintanya Nathan.
"Ho'oh."
Viola sampai di kelasnya.
"Duh, jantung gue kenapa masih kenceng banget kenapa sih semenjak ketemu Nathan tadi jadi begini!" rutuknya memukul dadanya sendiri agak kencang.
"Lo udah dapet izin buat camping?" tanya Olin mengingatkan Vi.
"Oh iya, gue lupa!" Viola menepuk jidatnya sendiri. "Kalian udah?" baliknya bertanya.
"Udah, gue udah ngumpulin tadi," balas Olin.
"Iya, gue juga," sahut Elora.
"Gue telpon mama aja deh," balas Vi menekan tombol hijau dilayar ponselnya.
"Hallo, Ma ..."
"Iya, Sayang. Ada apa tumben telepon?"
"Aku izin buat camping boleh kan?"
"Camping? acara sekolah atau bukan?"
"Besok minggu, Ma, acara sekolah ... nggak lama mungkin tiga atau empat harian, ya kan guys?"
Keduanya saling lempar pandang, lalu menjawab serempak, "Yo'i!"
"Oh, gitu ... boleh, asal kamu izin sama nenek juga ya, tanya pendapat nenek."
"Iya, Ma. Tapi perlu tanda tangan orangtua, sama nenek aja?"
"Iya, nenek suruh tandatangan. Kalo dibolehin kamu ati-ati campingnya ya, salam buat nenek."
"Oke, Ma."
Viola selesai menelpon dan ia mendapatkan izin dari mamanya. Mereka lantas pulang ke rumah masing-masing, Viola sendiri sudah membawa motor matic ke sekolah.
Sesampainya di rumah, Viola berteriak mencari Neneknya.
"Nek ... Neneek ..." ucap Viola masuk ke dalam rumah yang pintunya tak dikunci.
Tak ada sahutan, ia menoleh ke sana kemari, lalu berganti pakaian setelahnya makan siang. Ia keluar rumah, siapa tahu ia menemukan neneknya, namun setelah berkeliling rumah rupanya hasilnya sama ia tak menemukan neneknya di manapun.
"Nyari siapa?" tanya seorang laki-laki tanpa menatap Viola duduk dikursi teras rumahnya, tepat di samping rumah neneknya. Memainkan ponselnya, sesekali berteriak maupun bergumam.
"Lo nanya gue?"
Vi mendekat, tak ada pagar pembatas di antara rumah keduanya.
"Iyalah, kan lo yang lagi bingung emang ada orang lain selain elo," balasnya ketus.
"Ooh," ucap Viola kesal lalu berbalik melangkah pergi.
"Lah, malah minggat."
Viola tak berhenti, berniat masuk ke dalam rumah.
"Kalo lo nyari nenek lo, dia metik teh di kebun, pulangnya sore, tiap hari begitu!" teriak laki-laki tadi tanpa memperkenalkan diri.
Viola mundur selangkah, mencerna ucapannya. Lalu mengangguk karena ingat, ya ... dia lupa kalau pekerjaan neneknya pemetik daun teh, bagaimana dia bisa lupa.
"Oke, thank's."
Belum Viola melangkah laki-laki sebayanya tadi menawarkan sesuatu.
"Lo nggak bosen?"
Viola mengurungkan diri untuk masuk ke dalam rumah, karena memang nyatanya dia bosan karena tak ada pekerjaan atau kesibukan.
"Emang kenapa?" tanya Viola berdiri mematung.
"Mau ke hutan?"
"Mau ngapain? jangan aneh-aneh deh," balas Viola berpikir yang tidak-tidak.
Lalu muncul perempuan dan menjitak kening laki-laki itu.
"Eh, kelepasan ada Viola ya, kenalin aku Flora dan adikku Chris,"
"Eh, kok udah tau namaku," balas Viola agak kaget.
Flora lalu bercerita panjang lebar, mereka mengobrol ke sana kemari, perbincangan semakin seru karena menemukan persamaan, dan ternyata mereka sebaya. Chris bercerita tentang manusia serigala dan vampir dalam film-film yang ditontonnya dan mengait-ngaitkan dengan kehidupan nyata, Flora melarang namun Chris tak bisa diam.
"Mau ke sana gak?" tanya Chris tersenyum penuh arti.
"Jangan mulai deh, Chris!" sentak kakaknya.
"Emang ada apa sih di sana? gue jadi penasaran."
Flora menatap Vi dan adiknya bergantian.
"Nggak usah dengerin si Chicken ini, Vi," ucap Flora tegas.
"Alah, lo juga penasaran kan?" sahut adiknya.
"Lo itu yang bakal ngerepotin orang nantinya!" cemooh Flora kesal.