"Aku tuh cuma penasaran, Kak ... ada apa di dalem sana sampe orang-orang gak berani ke sana," ucap Chris membuat lawan bicaranya tambah penasaran.
"Yaudah kita liat aja daripada penasaran terus," balas Viola enteng.
"Udah deh nggak usah ladenin 'Chicken' dia itu sok berani aja padahal aslinya 'Chicken'!"
"Yuk, jalan!" Chris tiba-tiba berdiri dengan sumringah.
"Ayok!" balas Vi antusias, dibuku yang dia baca malam itu membuat dia penasaran akan bangsa supernatural tersebut, ditambah lagi Chris juga mengatakan hal yang mendukung. Mereka meninggalkan Flora yang termangu. Chris memimpin di depan karena tahu jalan menuju hutan tersebut.
Flora yang semula melarang mau tak mau mengikuti adiknya yang keras kepala, mengikutinya dari belakang karena takut terjadi apa-apa dengannya.
Mereka berjalan melewati kebun teh, berjalan terus dijalan setapak. Melewati rerimbunan tumbuhan teh lanjut semak-semak belukar.
Tak lama memasuki wilayah hutan luar, pohon-pohon pinus berjajar rapi, ranting pohon kering berserakan, kicauan burung masih terdengar nyaring, berbagai macam serangga juga kerap terlihat, bahkan menemani perjalanan mereka.
"Hey, kalian! Mau sampe mana? ayo pulang sekarang!" teriak Flora dengan napas terengah-engah. Chris dan Viola menoleh dan berhenti melangkah.
"Ikut juga kan?" tadi ngelarang segala!" ketus Chris tertawa renyah.
"Pala lo somplak, gue ngikutin lo! kalo lo kenapa-napa gue yang disalahin dodol!" hardik Flora kesal.
"Istiharat dulu aja sih, Chris," balas Viola mendekat ke Flora.
"Sebenernya yang takut itu dia, Vi. Lo jangan percaya deh sama omongan dia, dia tuh iri ama gue yang pemberani ...." Chris menghampiri keduanya.
"Nih, rasain!" Flora menjitak kening adiknya agak keras agar ia sadar akan kesalahannya.
"Aduh, apasih Flo!" seru Chris mengusap-usap keningnya.
"Yuk, Vi, balik aja," ajak Flora meyakinkan Viola.
Kabut mulai turun, meski tak tebal namun terlihat nyata membuat bulu kuduk meremang, hawa pun berubah menjadi dingin, mereka sudah masuk hutan, namun masih diluar.
Dengan santainya Chris memeriksa ponselnya, mencari sinyal untuk bermain game dalam ponselnya.
"Nggak ada sinyal dodol, di hutan!" hardik Flora lagi.
"Ya siapa tahu ada kan lumayan."
"Yakin cuma sampe sini aja?" tanya Viola melihat ke Chris lalu Flora.
Mereka saling lempar pandang dalam diam, namun seperti bisa membaca pikiran masing-masing. Kabut semakin tebal dan sudah setengah lima sore, mereka akan dicari orang rumah.
"Yuk, balik. Besok aja kalo ke sini dari pagi, sekarang udah turun kabut, nggak bawa apa-apa takutnya Flora kedinginan minta pulang," ucap Chris berjalan ke arah mereka datang.
"Padahal kan gue kira nyampe hutan di dalem sana."
"Udah, percaya ama gue daripada ada apa-apa," ucap Flora menarik lengan Viola agar cepat beranjak pergi.
"Yaudah deh, iya." Viola pasrah, berjalan di tengah.
"Besok aja deh kita lanjutin, kalo kita udah siap perlengkapan kita langsung aja ke sini," sahut Chris.
Hening, mereka tak berbicara sepatah katapun hingga mereka sampai di jalan setapak penghujung hutan. Berangkat dan pulang, mereka sama sekali tak menemukan orang maupun binatang disepanjang perjalanan. Lima belas menit sudah berjalan tanpa berhenti dan matahari sudah tenggelam mereka akhirnya sampai di rumah masing-masing.
Dari kejauhan Nenek Viola dan Ibu Flora dan Chris tampak mondar-mandir bingung, saat sudah dekat mereka lantas di pukul sebagai tanda sayang.
"Kalian ini dari mana?!" pekik Ibunya Flora dan Chris.
"Em, anu, Ma. Nganter Viola jalan-jalan di sekitar sini," jawab Flora berbohong.
"Bener itu, Chris?" Ibunya menatap anak bungsunya.
"I-iya, Ma, bener kok."
"Kamu dari mana aja, Vi? nenek bingung nyariin kamu ke mana-mana," kata Nenek Rose membelai lembut cucunya.
Mereka lantas masuk ke dalam rumah masing-masing.
"Sebenernya kamu dari mana, Nak?" tanya Rose seperti tahu dibohongi.
"Jalan-jalan aja, Nek," balas Viola mengambil handuk untuk mandi.
"Jangan kamu pergi ke hutan, kalau hilang kamu nggak akan bisa kembali."
Nenek menyiapkan makan malam mereka berdua, Viola yang terus berjalan mengiyakan ucapan Neneknya tanpa menoleh langsung masuk ke dalam kamar mandi.
"Pakai air hangat yang sudah nenek siapin, Nak!" teriaknya dari luar.
"Iya, Nek."
Setelah mandi Viola masuk kamar untuk berganti pakaian, Neneknya masuk setelah Viola berpakaian.
"Kamu bosen di rumah terus?"
"Iya, Nek. Oh iya, Nek, Vi mau izin ikut camping sekolah, tinggal Nenek tanda tanganin aja, Vi udah izin sama mama tadi," balas Viola seraya menyerahkan lembaran surat ke hadapan Neneknya.
Mereka sama-sama duduk di tepian ranjang. Nenek meraih surat tersebut lalu berusaha membacanya tanpa kacamata namun hasilnya nihil, tak terlihat kabur.
"Tanda tangan di sini, Nek," ucap Vi menunjuk tempat untuk tanda tangan.
"Hehehe ... nggak kelihatan, Sayang. Kamu ambilin kacamata nenek di kamar, ada di rak, kamu cariin ya?" pinta Nenek.
Tanpa ba-bi-bu lagi Viola beranjak ke kamar Neneknya untuk mencari kacamata, setelah dua menit mencari akhirnya ketemu, dia bergegas ke kamarnya.
"Nih, Nek," ucap Vi mengangsurkan kotak kacamata pada Neneknya, Rose membuka lalu membacanya pelan.
"Camping ... Di Gunung, 3-4 hari, ... " Nenek menatap Viola dengan tatapan sayu. "kamu mau ikut?" tanya Rose.
"Iya, Nek. Kan acara sekolah, wajib."
"Nggak wajib, cuma yang mau saja, Nak."
"Masa sih, Nek? tapi aku mau ikuut," rengek Vi menggelayut manja.
"Ini lama lo, Nak. Di luar sana dingin, apalagi di gunung," tukas Rose.
"Kan banyak, Nek, temennya ... semuanya juga ikutan," balas Vi.
"Yaudah, kamu boleh ikut, tapi jaga diri baik-baik," pesan Neneknya.
Viola hanya mengangguk dan Nenek menandatangani surat izin tersebut. Viola lalu belajar, mengerjakan pekerjaan rumahnya dan Neneknya keluar agar tak mengganggu konsentrasi cucunya.
***
"Gimana, Vi, boleh nggak?" tanya Olin penasaran.
"Apa?"
"Ikutan camping lah," sahut Elora.
"Eemm-gimana ya, gue udah izin tapiii ..." Viola berniat mengerjai dua teman dekatnya, saat keduanya sudah penasaran menunggu jawaban, Viola berkata, "boleeeh, hahaha."
"Bagus dooong, kita bisa terus bertigaa ...."
Mereka lantas pergi ke kantin sekolah untuk jajan. Viola tak sengaja bersenggolan dengan Max saat berjalan santai menuju kantin.
"Aw!" serunya memegangi sikunya.
Max terus berjalan tanpa menoleh, membuat ketiganya berhenti sebentar.
"Kenapa, Vi?" tanya Elora melihat sikunya tak lecet atau kenapa-napa.
"Udah yuk, keburu masuk," ajak Olin menarik keduanya.
"Sebenernya cowok tadi tuh siapa sih?" kata Viola sambil menyesap minuman coklat dingin.
"Dia tuh, Max. Trouble maker di sekolah," jawab Elora sembari mengunyah snack.
"Pantesan, bikin gara-gara aja ma gue." gerutu Viola manggut-manggut.
"Yaaa, maklumlah, nggak elo doang, banyak kok yang ngeluh," timpal Olin.
"Lo ati-ati aja deh," sahut Elora.
"Kenapa?" tanya Vi.
"Ya nggak kenapa-napa, hehehe."
"Ih, kirain!"
Bel berbunyi merekapun berhamburan berlari kecil menuju kelas.