"Sabun udah, handuk udah, bedak udah, charger udah ... apa lagi ya yang belum, jangan sampe ada yang ketinggalan," gumam Viola mendaftar barang bawaannya untuk pergi camping.
"Naak, ini bawa bekalnya!" teriak Nenek dari belakang.
"Aku sarapan aja, Nek," bantah Vi beranjak menuju dapur untuk mengambil sarapan.
Nenek menghampiri Viola dan memberikan kotak bekal dalam tas kecil.
"Sarapan juga, bekalnya juga bawa, nggak boleh nolak."
"Di sana pasti juga ada makanan, Nek ..."
"Nggak ada, yang ada cuma mi instan, udah ... nenek bakal marah kalo kamu ngebantah," ucap Nenek duduk di seberang cucunya.
"Yaudah, iya-iya."
Setelah sarapan Viola bergegas ke sekolah. Sesampainya di sana ia disapa oleh teman-temannya.
"Cantik banget lo, Vi!" sapa teman sekelasnya, Viola hanya tersenyum.
"Alah, cantikan gue lah!" sahut teman perempuan kami, sontak Viola jadi pusat perhatian.
"Tuh, lo diliatin pangeran kelas, hahaha!" kelakar Olin mengejek Viola. Elora juga terbahak meski sambil menutup mulutnya.
"Oke! apa semua udah kumpul?!" seru Pak Luki.
"Udah, Paak!" jawab semuanya serempak.
Pak Luki kemudian menyuruh mereka semua berbaris yang rapi. Dibantu dua guru wanita mereka mencatat siapa saja yang ikut dan sudah datang.
"Oke, jadi semua sudah datang, bus juga sudah siap sekarang kalian masuk jangan berdesakan, kita tunggu Pak David."
"Siap, Paak," sahut mereka kompak.
Satu persatu naik ke dalam bis, bawaan mereka yang banyak sebagian dimasukkan ke dalam bagasi, sedang tas ransel kecil mereka bawa masuk.
"Kita bertiga terus aja ya?" usul Elora.
"Iya dong," balas Vi.
"Yuk," timpal Olin melangkah dahulu.
Saat sudah naik di dalam bus, ternyata bangku yang berisi 3 orang sudah terisi, begitupun bangku paling belakang sudah penuh dengan laki-laki.
Akhirnya mau tak mau mereka harus berpisah.
"Sini, Vi!" seru Jonathan menepuk bangku sebelahnya tersenyum penuh arti.
Elora dan Olinda celingak-celinguk, siapa tahu ada yang mau pindah dari bangku berisi tiga orang.
"Woy, cepetan dong duduk!" seru perempuan di belakang Viola.
"Dahlah nggak papa nggak bareng," ucap Viola pasrah.
"Yaudah deh," balas Olin melangkah maju untuk mencari bangku yang kosong.
Olin dan Elora sudah duduk dahulu, sedang Viola mencari-cari bangku kosong, dan terpaksa harus sebangku dengan Jonathan karena ia mengancam ke seluruh anak yang bangkunya kosong untuk tak memberiku duduk, licik.
"Nah, kan enak, dari tadi aja duduk sini, nggak perlu susah nyari-nyari tempat lain," ucap Jo dengan sombongnya, bersedekap d**a.
"Apa sih?" balas Vi saat Jo mendekat ke sisinya.
"Oke anak-anak, karena Pak David sudah datang kita berangkat sekarang, sebelumnya berdo'a sesuai kepercayaan masing-masing, mulai ..." Pak Luki menunduk sebentar, merapal do'a lalu berkata, "selesai!".
Bus melaju pelan, dipandu ketua kelas mereka menyanyikan sebuah lagu dengan gembiranya. Suasana hangat, kekompakan satu sama lain terlihat. Mereka menikmati waktu yang terus berjalan, Viola menatap ke luar jendela. Rimbunnya pepohonan berdiri kokoh menjulang tinggi dan jalan yang berkelok-kelok,mungkin bagi mereka yang tak tahan akan memuntahkan isi perutnya sebab jalan menanjak dan sesekali menurun.
Beberapa saat kemudian.
Mereka semua turun lalu berkumpul di tempat luas seperti lapangan, setelahnya berbondong-bondong menuju lokasi kemah. Sesampainya di sana mereka diajari mendirikan tenda, setelahnya di perbolehkan istirahat lalu makan siang. Setelah makan siang kemudian Pak Luki menyuruh mereka untuk mengumpulkan kayu bakar dari hutan untuk api unggun nanti malam.
Viola, Elora dan Olin tergabung dalam satu kelompok, mereka bertiga menyusuri tepi hutan, berharap menemukan banyak ranting pohon.
"Lo ke sana, gue lurus, lo ke kiri ya?" perintah Olin diiyakan dua temannya.
Mereka berpencar agar kayu bakar cepat terkumpul.
"Mana, rantingnya? nggak ada di sini." Viola terus masuk ke dalam hutan tanpa sadar ia masuk terlalu jauh. Olin dan Elora juga mencari namun tak berani masuk ke dalam hutan.
'Pasti banyak kayu kalo di dalem,' batin Viola menduga.
Tanpa takut ia terus masuk, meski terik matahari masih menerobos lewat celah daun namun sinarnya tak begitu terang di dalam hutan. Sedikit gelap karena dedaunan yang rimbun.
Ia terus menatap tanah, mencari kayu yang besar untuk dibawanya. Benar dugaannya di dalam hutan ranting pohon besar tergeletak banyak, dia akan membawa banyak semampunya. Ia kumpulkan terlebih dahulu dan nanti akan dibawanya.
Ia kumpulkan satu persatu ranting kayu berbagai jenisnya, menumpuknya menjadi satu. Ia asyik mengumpulkan ranting tanpa sadar berapa lama dia di dalam hutan. Dia sudah dapat tiga rumpukan, merasa sudah cukup ia mencoba menggendong di samping kiri pinggangnya.
"Bawa ini aja deh, udah sore nanti panggil yang lain aja biar di bawa mereka," gumam Viola senang.
Sedangkan Elora dan Olin panik, mengadukan bahwa Viola hilang, mereka mencari ke tempat mereka tadi namun tak nampak batang hidungnya. Akhirnya beberapa laki-laki diperintahkan untuk mencari, karena menjelang petang dan Viola belum kembali takutnya ia tersesat.
Viola dengan percaya dirinya melangkah seperti tahu jalan pulang. Berdendang kecil seperti tanpa masalah. Dia menyibak dedaunan yang menghalangi jalannya, dia sudah berjalan jauh namun tak kunjung keluar dari hutan. Ia merasa aneh, menurutnya hanya berputar-putar di tempat itu-itu saja karena ia menandai pohon dan batu besar yang ia lewati.
Ia lelah, hawa semakin dingin dan diputuskannya untuk beristirahat.
Di tepi hutan semua berteriak memanggil-manggil nama Viola, anehnya Viola tak mendengar, karena jarak yang jauh entah karena perihal lain.
"VIOLA!!"
"LO DI MANA VI?!!"
"VIOLAA!!!"
Max yang benci kegaduhan terusik, telinganya peka pendengarannya tajam. Ia memutuskan untuk membantu mencari Viola langsung ke dalam hutan.
"Max, lo mau ke mana?" tanya salah satu temannya berteriak.
"Cari udara segar," jawabnya santai melangkah gontai.
Nathan sudah mencari dengan teman-teman yang lain, ia membawa senter mengarahkan ke kegelapan malam.
Max mencium bau Viola, melesat secepat kilat dalam kegelapan malam. Menyibak dedaunan yang menghalangi jalannya sampai ada ranting yang patah. Dan tiba-tiba saja dia sudah di depan Viola.
Viola terperanjat, takut yang dilihatnya hanya halusinasinya saja.
"Lo ... lo bukan hantu kan?"
"Hantu apanya? gue masih napak nih," balas Max menghentak-hentakkan kakinya ditanah.
"Kok lo bisa temuin gue di sini?" Viola yang tadi duduk bangkit, heran.
"Kenapa nggak? Lo masih mau di sini apa mau balik?" kata Max dingin melangkah gontai, memasukkan kedua tangannya di saku hoodienya, kupluknya ia pakai dikepalanya.
'Serem amat!' batin Viola.
Max menoleh ke Viola yang kesusahan membawa ranting yang ia kumpulkan.
"Ngapain lo bawa? taro aja situ, mereka udah punya banyak, gak usah lo bawa-bawa!" hardik Max.
Akhirnya Viola menurut meletakkan ranting tadi, ia seperti tak rela karena ia mengumpulkan dengan susah payah, ia enggan beranjak terus menatap ke ranting tersebut.
"Udah nanti gue bawain buat lo."
Viola mengikuti langkah Max sampai ke tepi hutan, mereka berdua memberi jarak agar tak curiga karena Max berpesan agar Viola tak bilang pada semua orang bahwa dia yang menemukannya, Viola setuju.
"Viola ketemuuu!" teriak laki-laki yang langsung menunjuk arah Viola datang, sedangkan Max mengambil kayu bakar yang dikumpulkan Viola tadi.