Viola menangis berjongkok, melipat tangannya membenamkan kepalanya ke tengah lututnya, persis anak kecil ... ia mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya, lalu seseorang menanyainya. "Kamu kenapa, Nak?" Suaranya seperti ibu-ibu paruh baya. Viola mendongak, benar tidak salah ibu itu memicingkan matanya, ikut berjongkok di depan Viola. "Kamu itu kenapa nangis? ditinggal pacarmu?" Viola tak menjawab hanya mengangguk membenarkan. "Udah jangan khawatir masih banyak laki-laki yang baik kecuali kalo kamu hamil mungkin susah nyari yang mau tanggung jawab." Viola syok dengan ucapan ibu itu. "Pacar saya baik dan saya nggak hamil ya, Bu," balas Viola ketus, ia bangkit berdiri. Ibu itu duduk di kursi depan kamar sewanya. Viola ingin masuk ke dalam namun ibu itu bicara lagi. "Lah, teru

