Cupcakes

456 Kata
Sembari menenangkan debaran jantungnya, Mikha kembali berbicara “Maafin Mikha juga malah bentak-bantak kak Joey, Mikha lagi ada masalah, jadi—“ Ponsel Joey berbunyi, menampilkan nama seseorang yang sama ketika di hari pertama pelatihan basket dimulai. “Lo tunggu disini bentar Khay.” Mikha hanya mengangguk dan Joey segera mengangkat telpon tersebut. “Iya abby aku inget kok.” “Jangan lupa makan, inget kamu punya magh.” “Nanti aku kabari lagi.” Mikha sedikit menguping pembicaraan kak Joey. Pikirannya sudah berkecamuk, tentang siapa dibalik penelpon itu. Dan apa itu, kak Joey berbicara aku-kamu dengan si penelpon? Tidak, tidak. Bisa saja itu adiknya atau keluarganya. Tapi Yuka bilang ia tak punya adik. Ah mungkin sahabat, ya sahabat. Batin Mikha menenangkan pikirnnya yang sedang kalut. “Mikhayla, lo gapapa? Muka lo pucet gini.” Mikha kembali sadar dari lamunannya. Joey menghampirinya dengan kotak P3K ditagannya. “Sini gue obtain dulu luka lo. Daritadi gue liat lo asik ngelamun--sampe gue ambil obat didalem lo masih aja bengong. Habis diobatin, cerita sama kakak ya? “Jangan disimpen sendiri Khai. Lo bisa anggep gue kakak, lo bisa bagi masalah apapun ke gue. Jangan ngerasa sendiri, paham?” Tangan Joey dengan sigap mulai mengobati wajah Mikhai yang sedikit terkena cakaran Fara. Mikha hanya diem mematung dengan jarak yang cukup dekat antara dirinya dan Joey. Tapi tunggu--dia bilang, anggep aja kakak? No, Mikha nggak mau! Setelah selesai dengan kegiatan Joey yang mengobati Luka Mikha, gadis itu dengan perlahan mulai membuka suara dan menceritakan kejadian yang membuat dirinya marah. Joey memperhatikan dengan seksama cerita Mikha, entah kenapa gadis itu mulai yakin bahwa Joey adalah pria yang dapat ia percayai. “Mikhayla. . . . jangan buru-buru berpikir negatif dulu tentang mama lo. Mama lo bekerja buat siapa kalo bukan kamu? Kan Mikha sendiri yang bilang untuk tidak menyimpulkan sesutu tanpa mendengar alasannya. Nanti ketika mama lo datang, tanyakan baik-baik. Oke Mikha?” Dapat dipastikan pipi Mikha memerah. Bagaimana tidak? Joeynya menasehati Mikha dengan pandangan lurus tepat didepan manik matanya, ditambah suara yang sangar lembut. Bahkan Mikha merasa saat ini seperti anak kecil yang sedang dinasehai ayahnya. “Sekarang gue anter lo pulang. Gue tau lo butuh waktu untuk tenangin diri.“ Joey menarik tangan Mikha tanpa mendengar persetujuan gadis itu. Mikha tersenyum dan mengikuti Joey. Mikha tak menyesal sama sekali berkelahi dengan Fara, karena perkelahian ini ia justru dapat sedekat ini dengan Joeynya. “Makasih kak.” Hanya itu yang dapat ia katakan ditengah jantungnya yang sedang bergoyang. “Sama-sama cupcakes.” Mikha terkejut mendengar Joey memanggilnya cupcakes, dia jelas bukan orang bodoh untuk mengetahui arti dari kata manis tersebut. o m g, thankyou Fara! Batin Mikha antusias. --------------------- TBA | See you di next chapter yaa! xoxo ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN