Sendiri lagi
Batin Mika kecewa ketika ia mendapati tak ada maminya setelah pulang dari sekolah.
Ia tahu maminya sibuk, ia juga tahu maminya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya. Mika sadar betul jika kini tidak ada kepala keluarga lagi dikehidupan mereka.
Papinya meninggal ketika usianya baru menginjak 6 tahun. Sejak usia itu pula maminya sengaja menyibukan diri pada pekerjaanya sebagai dokter anak.
Setiap Mika protes akan hal itu, selalu dijawab “Mami melakukan ini untuk kebahagiaan kamu Mika!”
Tak lupa dengan sedikit bentakan di kalimatnya. Mika juga sadar kehidupannya sangat berkecukupan lantaran maminya yang selalu bekerja keras demi keluarga mereka. Dari situlah ia memaklumi.
Tapi salahkah jika gadis berponi tersebut meminta waktu luang maminya? Mengingat ini sudah satu minggu dan maminya tidak kunjung pulang.
Ketika dihubungi pun hanya mengatakan jika dirinya sedang dinas diluar negeri.
Sebenarnya Mika berusaha keras untuk tidak menaruh rasa curiga terhadap maminya sendiri.
Pasalnya ia pernah memergoki maminya keluar tangah malam dengan dandanan yang cukup mencolok. Apalagi Freya, mami Mika yang masi terlihat cantik di usianya yang baru menginjak 35 tahun.
Mika berusaha menenangkan pergulatan di hatinya, ia berharap apa yang maminya paparkan memang benar adanya.
Tetapi siapa yang sadar bahwa gadis cantik tersebut sebenarnya merasa kesepian, meskipun ada beberapa pembantu yang menyediakan segala kebutuhan dan turut menjaganya.
?heartfelt?
Setelah selesai melahap makan siang, Mika menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Dilihat jam tangannya sekilas, pukul 2 dan masih ada waktu 30 menit sebelum kegiatan lesnya dimulai.
Ya, Mika adalah gadis dengan les disela-sela kegiatan sekolahnya. Ia sendiri yang meminta pada maminya, tak lain karena memang dirinya ingin mejadi wanita yang punya banyak bakat.
Bahkan dalam seminggu Mika harus les sebanyak 4 kali. Salah satunya hari ini, ia harus berangkat untuk les bimbingan belajar di dekat rumahnya.
“Bi Inah Mika berangkat dulu ya. Nanti makan malamnya nasi goreng telur mata sapi aja bi.”
Itulah kebiasaan Mika, memberitahu menu yang harus dimasakan untuknya setelah kegiatan yang cukup melelahkan dari les rutinnya.
“Siap, hati-hati dijalan non cantik.” Jawab bi Inah, lalu Mika mulai beranjak dari rumahnya.
?heartfelt?
Jika disekolah penganggu nya adalah Farel, lain halnya ditempat bimbingan belajar Elbert Einstein. Sejak tadi ia bersabar karena ocehan gadis dengan tubuh tinggi bernama Fara.
“Lo jangan deket-deket dengan Farel! Gue 100% nggak suka.” Fara memang satu sekolah dengannya, Mika juga sering sekali dapat teguran seperti ini karena ulah Farel yang terus dekat-dekat dengannya.
Hal ini membuat sebagian fans Farel salah paham dan menganggap bahwa dirinya yang mendekati Farel.
“Kalau ngomong jangan sembarangan, Mika nggak pernah deketin Farel.” Mika membalas Fara dengan tenang. Fara yang melihat, justru semakin geram.
Saat ini mereka berdua berada diluar kelas. Kegiatan les mereka memang belum dimulai, sepertinya tutor mereka akan datang terlambat.
“Mana ada maling yang mau ngaku! Gue kemarin lihat lo ditaman sekolah dengan Farel. Dikelas juga gue denger kalo lo deketin Farel.”
Bertubi-tubi di tuduh, kesabaran Mika mulai menipis. Gadis itu memutar bola matanya menahan amarah yang nyaris meledak.
Ia kesal dengan Fara yang menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan pemikirannya. Dan yang membuat Mika kesal setengah mati, permasalahan ini berpusat pada Farel.
“Yaampun harus berapa kali Mika ngomong kalau Mika nggak pernah deketin Farel. Dia sendiri yang kemana-mana ngikutin Mika. Sudah, sekarang Fara miggir, mika nggak mau berantem karena masalah cow-“
Belum Mika melanjutkan perkataannya, Fara langsung menyela.
“Alah emang dasarnya lo cewek kegatelan, ngaku lo BITCH.”
Kali ini Mika sedikit terkejut dengan perkataan Fara yang meneriaki dirinya sebagai b***h. Bahkan kini beberapa orang mulai melihat kearah mereka akibat teriakan Fara.
“Jangan sekali-kali sebut Mika dengan katar kotor itu!” Jawab Mika sembari mendorong bahu Fara. Fara tidak terima dengan perlakuan Mika dan menyerang balik.
Mereka saling menjambak, mencakar dan menendang. Tidak terlalu sulit bagi Mika untuk melawan Fara mengingat salah satu les yang digelutinya adalah karate.
Mika sudah terlalu lelah dengan dirinya yang tak mendapati sang mami selama seminggu.
Jelas salah jika Fara mengajaknya berduel hari ini, terlihat dengan Fara yang terlihat kesulitan melawan serangan Mika yang cukup brutal. Beginilah jika gadis manis tersebut sudah kehabisan kesabarannya.
“Mika, Fara, Stop!!” Terdengar suara teriakan dari teman-temannya. Mika tak menggubris dan terus melancarkan aksinya bertarung dengan Fara.
Penampilan mereka tampak mengenaskan, tetapi Fara yang jauh lebih parah.
“Astaga Mika, don’t. Mika, Mika, stop! Mikayla nanti tulang temen lo patah!” Sontak ia langsung berhenti ketika mendengar suara itu.
Apakah diwaktu seperti ini dirinya masih sempat berhalusinasi dengan memunculkan suara yang membuat jantungnya berdegup?
Mika meperhatikan sekeliling orang yang menatapnya. Dan tepat saat itu orang yang beberapa hari muncul dipikirannya menarik lengannya paksa.
“Lo ikut gue sekarang!” Ucapan itu sukses membuat Mika sadar bahwa dirinya memang tidak berhalusinasi.
Lantas sejak kapan kak Joey mengikuti bimbingan belajar di Albert Einstein? Mengingat ia tak pernah bertemu dengan kak Joey sebelumnya.
Segerombolan orang mulai berbisik-bisik akibat ulah Mika dan Fara. Perlahan Mika melihat ke arah Fara yang menangis tersedu-sedu dengan memegang lengan kanannya.
Mika sedikit merasa bersalah, namun dirinya cukup lelah dengan perlakuan Fara beberapa waktu ini.
Entah mengapa Mika tak bisa mengontrol emosinya ketika gadis itu mengatakan dirinya b***h.
Ia sungguh membenci kata tersebut, karena entah darimana justru sang mami yang muncul dipikirannya.
“Lo keterlaluan Mikayla! Tadi tangannya nyaris patah.”
Saat ini mereka berada ditaman belakang. Mika menatap Joey yang sedang memarahinya, bahkan tanpa mendengar penjelasannya.
“Kakak nyalahin Mika? Mika udah sabar belakangan ini. Mika nggak tahu apa-apa tapi Fara terus nuduh Mika deketin Farel. Hari ini Fara udah keterlaluan, dia ngatain Mika b***h. Mika benci kata itu, makannya Mika dorong Fara.”
Jawab Mika dengan nada yang sedikit tinggi.
“Bukan gitu Mikayla. Maksud gue kenapa harus pakek k*******n? Tadi Lo nggak lihat kalau Fara sudah babak belur?”
Sesak itu yang Mika rasakan saat ini. Harapan Mika yang mengira bahwa Joey akan membela atau sekedar menenangkannya pupus sudah. Justru sebaliknya, Joey malah memojokannya.
“Tapi Fara juga nampar Mika, trus nyakar Mika pake kukunya yang penjang. Sekarang Mika baru kerasa kalau perut Mika juga sakit karena ditendang Fara. Kakak boleh pergi karena Mika mau nenangin diri.”
Mika mulai merasa suaranya kian tercekat, ia ingin menangis tetapi tidak didepan kakak kelasnya itu.
Tatapan Joey mulai melembut melihat Mika yang memang tak berbeda jauh dengan Fara. Ya meskipun Fara tetap lebih mengenaskan.
Rambut pendek gadis itu tampak kusut berbeda dengan biasanya, pipi nya memerah akibat tamparan, baju Mika terlihat berantakan, bahkan lengan gadis itu ternyata mengeluarkan darah akibat cakaran kuku tajam Fara.
“Astaga—Maaf Mikayla. Maaf malah nyalahin lo seenaknya. Gue sangat khawatir Mika. . . . Gue panik banget dan sialnya nggak bisa kontrol itu. I'm sorry bab- Mika, jangan terluka lagi.”
Jantung Mika kembali berdegup. Gadis itu bengong sendiri mendengar penuturan sang kakak kelas, dilengkapi raut wajah yang terlihat---mengkhawatirkannya?
---------------------
TBA | See you di next chapter yaa! xoxo ?