Gadis mungil itu tengah melakukan pemanasan. Hari ini ekstrakulikuler basket baru dimulai sejak tahun ajaran baru.
“Halooo Mika Sayang, kayaknya kita berjodoh deh. Always together gitu.” Sapa Farel yang membuat Mika hanya melongo mendengarnya.
Pasalnya ia sudah berusaha agar tak terlalu dekat, tapi justru kini dirinya satu organisasi dengan Farel. Mika punya alasan untuk menjauhinya, ia tahu Farel punya maksud lain.
“Kamu. . . .“ Sebelum gadis itu melanjutkan bicaranya, sang pelatih membuka suara. Menyuruh seluruh murid yang baru masuk untuk memperkenalkan diri.
Awalnya Mika antusias karena akan bertemu Joey, namun kehadiran Farel cukup menyurutkan semangatnya.
“Mika, lo kok cemberut terus sih. Abang kan sudah disamping dedek.” Ucap Farel yang semakin membuat Mika menekuk wajahnya. Kesal!
“Jangan-jangan lo cemberut karena nggak bisa main basket? Tenang, entar gue ajarin.” Sayangnya ucapan lelaki berusia 16 tahun tersebut tak disambut baik oleh Mika.
‘Apa dia bilang, aku nggak bisa main basket?’ Batin Mika tertawa. Pasalnya itu berkebalikan dengan kenyataan yang sebenarnya.
Mika memilih ekstrakulikuler basket tak semata-mata hanya mengejar si kakak kelas, namun basket menjadi bagian terpenting ketika mood nya sedang memburuk.
Kebiasaannya bermain baket sudah ia lakoni sejak di sekolah dasar. Jadi meskipun ia kesal setengah mati dengan Farel, Mika tetap tak akan mundur dari organisasi ini.
“Atau jangan-janngan lo kesel karena---tuh orang yang baru datang?”
Tunjuk Farel pada seseorang yang memang sudah ditunggu Mika sedari tadi. Kini Mika ikut menoleh mengikuti arah pandang Farel. Ternyata Joey memang baru datang.
Ruangan basket yang tadinya cukup sepi, kini mulai ramai karena kedatangan ketua basket. Mereka menatapnya dengan pandangan kagum, tak terkecuali Mikayla.
Joey yang ditatap sedemikian, hanya tersenyum sembari memposisikan diri disamping pelatih.
“Anak-anak ini Joey, ketua basket sekolah kita 2 tahun terakhir. Tapi berhubung Joey sudah kelas 12, maka ketua basket kita akan segera diganti.”
Ucapan pelatih sukses membuat semua orang, tak terkecuali Mika menunjukan wajah lesunya.
Ternyata kakak kelasnya itu ingin mengucapkan salam perpisahan untuk mengundurkan jabatan, mengingat dirinya memang sudah kelas 12.
‘Coba aja Mika masuk lebih awal, Mika kan jadi bisa liat kak Joey waktu main basket.’
?Heartfelt?
Eskul kali ini baru mengenalkan tekhnik-teknik basket. Itu membuat Mika mengingat ketika pertama kali belajar basket dengan ayahnya.
Ia sengaja tak menunjukan kepiawainnya dalam bermain basket, entahlah, Mika hanya tidak ingin terlalu mencolok.
“Lo pasti capek kan? Nih gue bawain minum.” Suara itu sukses membuat jantung Mika goyang bang jali untuk kesekian kalinya.
Bagaimana tidak, ketika gadis itu sedang duduk santai sehabis latihan, Joey menghampiri dirinya sembari memberikan satu botol minuman ber ion.
“Eh kak Joey. Nggak usah repot-repot, tapi Mika terima ehehe.” Gadis itu nyengir lebar, pertanda bahwa dirinya sangat bahagia. Kini wajahnya sudah memerah akibat ulah sederhana Joey.
Baru Mika ingin memulai pembicaraan, tiba-tiba ponsel Joey berdering. Lelaki itu segera menjauh sembari mengangkat panggilan yang masuk.
Abigail?
Sekilas Mika melihat nama panggilan yang tertera di ponsel Joey.
Yuka nggak mungkin kasih informasi yang salah kan?
Tapi. . . . itu tadi siapanya kak Joey ya? Sodara, gebetan, sepupu, atau jangan-jangan pacar?
Ahhhh Mika Mika. Mending kamu balik latihan aja deh dari pada negative thingking.
Gadis itu kembali menyibukan diri dengan bermain basket untuk menghalau rasa sesak yang tiba-tiba hadir. Berbanding terbalik dengan lelaki bermata biru yang menyadari panggilan siapa di ponsel Joey.
'Dasar gadis bodoh.' Batin Farel senang, karena permainannya berjalan sesuai harapan.
---------------------
TBA | See you di next chapter yaa! xoxo ?