Mika, Joey dan Rencana Farel

885 Kata
Mikayla terbangun dengan wajah yang begitu kesal. Kakak kelasnya adalah alasannya. Bagaimana bisa ia tidur tenang karena sepanjang malam pikirannya dipenuhi dengan pesan yang tak kunjung dibalas. Tapi, bukankah wajar jika si kakak kelas tidak membalas pesannya? memangnya dia siapa? Gadis itu segera menepuk jidat berusaha menyadarkan bahwa ia memang bukan siapa-siapanya. Ia hanyalah seseorang yang menemukan cinta pandangan pertama sekaligus first lovenya. Ia sadar, mungkin ini karmanya karena selama di SMP ia tak mempercayai kedua hal tersebut. Bahkan beberapa teman sekolahnya kerap merasakan patah hati pasca pernyataan cinta yang ditolak langsung oleh Mikayla. Gadis itu tersadar mengingat perlakuan dirinya di SMP dulu, hingga di hari kelulusan sahabatnya menyumpahi Mikayla. Kabar buruk, karena sumpah tersebut tepat terkena dijantungnya, yang mana berdetak tak karuan ketika melihat si kakak tampan. ‘Ah sudahlah, kak Joey juga belum punya pacar.' Tentu itu akan mempermudah. Okai, Ciayo! Batin Mika antusias dengan kenyataan yang satu itu. ?Heartfelt? Suasana kelas selalu ramai, terlebih dipagi hari seperti ini. Mika, gadis yang baru datang dengan wajah polosnya segera duduk disamping Yuka. Gadis itu masih kesal dengan pesan terakhir yang tak kunjung di balas sampai detik ini. “Hey.... Mika, Mika. MIKAYLA HASSA. Astaga hobi ngalamunnya kumat lagi.” Semprot Yuka pada sahabatnya yang hobi melamun ini. Mikayla menoleh malas, tatapannya sangat menunjukan bahwa ia sedang badmood. “Apaan? Kalo kamu mau tanya tentang kak--“ Belum sempat Mika melanjutkan, seoarang cowok dengan mata cokelat terang, mendekat kearahnya. “Jam istiraht gue tunggu lo di perpus. Kita bahas yang kemarin. Dan sorry. . . gue nggak sempat balas pesan lo semalem.” Mika hanya melongo, kemudian mengangguk dengan pikiran yang mulai berkecamuk. Apa ia tak salah lihat? Kak Joey menghampiri dirinya dan memberi pengertian mengapa ia tak membalas pesannya. Pipi gadis itu mulai merona. Setelah kepergian sang kakak kelas, Yuka mulai mencercanya dengan berbagai pertanyaan. Bukan hanya Yuka, hampir seluruh perempuan di kelasnya pun bertanya-tanya. “Astaga Mika. . . . Lo?!” “Lo pacaran sama kakak sexy itu? “Mika, lo kok bisa kenal dia?” “Yaampun Mika cowok frozen kaya gitu, lo bisa deket? “Mikayla. . . . Jangan bilang lo pacaran dengan cowok paling populer di sekolah ini?” Itulah beberapa pertanyaan yang terus dicerca oleh teman sekelasnya. Diam-diam Mika senang dianggap memiliki hubungan dengan si kakak tampan. Bahkan Mikayla mengamini yang diucapkan temannya-temannya itu. Kini senyumnya tak pudar sejak lelaki bernama Joey datang menghampirinya. Hingga pelajaran dimulai, senyum itu tetap tak kunjung hilang. ‘Jadi itu cowok yang lo suka Mikayla? Selera lo bagus juga.’ Batin seseorang dikelas itu. ‘Nah sekarang gue nggak perlu susah-susah buat lo jatuh.' 'Thanks Joey, lo mempermudah rencana gue.’ Laki-laki itu menatap Mika dengan seringain licik. Siapa lagi kalau bukan Farel. ?heartfelt? Sesampainya di perpustakaan, Mikayla segera mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, namun ternyata sang pujaan masih belum sampai. Sudah pasti hanya dirinya yang antusias hingga berlari kencang saat bel baru saja berbunyi. Gadis itu segera duduk di tempat yang mudah terlihat oleh pegunjung perpustakaan. ‘Gapapa deh biar semuanya tahu kalau aku suka sama kak Joey’ Gadis itu terkikik, membayangkan tatapan sinis yang mungkin akan diterimanya nanti. 10 menit Mikayla menunggu, dan ia mulai kebosanan. Baru saja ia membuka line untuk mengirim pesan pada kak Joey, seseorang yang dinanti pun akhirnya datang. “Mikayla, lo udah lama? Sorry. . . tadi gue ada urusan sebentar.” Mika cukup terkejut dengan kedatangan Joey, tepatnya ketika tepukan halus mendarat di pundaknya. Lalu Joey mulai menyamankan diri disamping Mika, dengan jarak yang cukup dekat. “Eh, nggakpapa kak. Aku juga baru sampe kok.” Jawabnya dusta. Ia berharap pipinya tidak akan memerah hanya karena tepukan itu. “Nih formulir pendaftaran buat masuk basket. Ah satu lagi . . . . gue sudah nggak jadi ketua. Lo tau sendiri gue sudah kelas tiga.” Ternyata Yuka memberi informasi yang salah. Mikayla mulai merasakan panas di pipinya. "Jadi kakak sudah ngga ikut basket?” Mungkin suaranya sudah terdengar lesu. Lalu untuk menghalau rasa gugupnya, gadis itu melihat ke sekeliling perpustakaan dan benar dirinya sudah menjadi pusat perhatian. “Masih sih, cuma ngga terlalu aktif.” Jawabnya singkat. Mika kembali mengisi formulirnya. “Jadi lo masih 15 tahun ya?" Pria berperawakan tinggi itu menatap Mika yang baru saja memberikan formulir berisi data dirinya. Mika sedikit terkejut, jantungnya kembali berpacu hanya karena pertanyaan sepele seperti itu. “Iyaa ka, kan aku baru kelas satu.” Gadis itu menjawab malu-malu. Mendengarnya, Joey hanya tersenyum menampilkan lesung pipit di kedua pipinya. ‘Yaampun, yaampun. Dia punya lesung pipit. Mika mau pingsan aja, manis banget!’ “Dan gue 4 tahun lebih tua dari lo Mikayla.” Mika nyengir lebar mendengar Joey menyebut namanya. Gadis itu tidak sadar karena banyak orang yang kembali memperhatikan, tak terkecuali cowok yang memiliki kulit pucat seperti dirinya. Laki-laki itu tersenyum miring, begitu puas dengan pemandangan di depannya. Farel diam-diam memotret pemandangan yang menurutnya sangat indah, kemudian mengirimnya pada seseorang. Ponselnya bergetar menandakan panggilan masuk dari seseorang yang sangat berharga. “Halo Ma.” “Mama sudah lihat fotonya?” “Yap, mama cukup percaya sama Farel.” “Sebentar lagi tuh anak pasti jatuh.” Jawabnya dengan pandangan yang tak bisa lepas dari kedua insan yang semakin asik mengobrol itu. --------------------- TBA | See you di next chapter yaa! xoxo?✨️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN