"Mika, tungguin dong! jalannya cepet banget sih." Terlihat seorang gadis tergopoh-gopoh menyusul teman barunya itu.
Gadis yang dipanggil tersebut hanya menoleh lalu tertawa menanggapi tingkah Yuka. Kemudian ia berhenti sambil melambaikan tangan, menyuruh Yuka untuk segera menyusul ke barisannya.
"Kemana aja sih kamu, ini pengurus ketua osisnya keburu pergi. Entar kita telat lagi dari rombongan." Kali ini gantian gadis dengan nama Jepang itu yang hanya cengar-cengir di samping Mika.
"Iya-iya, biasa panggilan alam. Perut gue udah nggak tahan. Ini kita mau muter-muter kemana sih? Mana kayak rombongan TK lagi."
Jawabnya, sekarang mereka berada di barisan paling belakang. Kelas mereka memang sedang digiring oleh ketua osis untuk mengelilingi seluruh sekolah.
Katanya ini peraturan wajib bagi siswa baru supaya tahu mana kantin, perpustakaan, kantor dan ruangan lainnya. Mendadak Mika melambatkan jalannya ketika melewati sebuah kelas.
Ia terkejut melihat seseorang yang duduk di pojok kanan paling depan, tepat di depan meja guru. Ia mengabaikan gadis disampingnya yang sudah berbicara panjang lebar tentang isu sekolah mereka yang katanya berhantu.
"Mika, woi Mika." Mika menoleh kebelakang memastikan kelas yang baru saja ia lewati adalah kelas kakak kelas itu.
"Lo nggak dengerin gue cerita ya?" semprot Yuka protes, karena sudah cerita panjang lebar namun tak ada satupun ceritanya yang masuk ke pendengaran si gadis berponi.
"Aku nggak melamun, Mika denger kok apa yang kamu omongin." Dustanya, kini langkahnya lebih cepat mengejar rombongan kelasnya.
"Beneran? Tadi gue cerita apa coba?" Tantang Yuka. Karena Yuka tahu bahwa temannya itu baru saja berbohong.
"Itu tadi kamu cerita tentang video viralnya Ayu tuing tuing yang masuk akun lambe turah kan." Jawab asal gadis itu dengan tatapan tak berdosa. Namun lucunya dengan tampang yang meyakinkan.
"Aisssh Mikayla!! Jangan-jangan lo pendirinya lambe turah ya?!" Mika tertawa puas, ia jelas tahu jawaban yang ia berikan sangat bertolak belakang dengan cerita sahabat barunya itu.
Tidak perlu lama untuk seorang Mika, mengklaim temannya sebagai sahabat. Karena bagi Mika asalkan temennya itu tulus dan tidak munafik ia bersedia menjadi sahabatnya. Dan itu terdapat pada kepribadian Yuka.
"Udah ah, ngomong sama lo berasa ngomong sama bala-bala jaer." Gerutu Yuka menyindir Mika yang masih tertawa dengan kencangnya.
Gadis itu menghentikan tawanya, kemudian kembali mengingat seseorang yang ia lewati kelasnya tadi. Mika sangat merutuki kebodohannya karena kembali bertatapan dengan sang kakak kelas.
Sepanjangan mengelilingi sekolah, gadis lugu itu kembali terhanyut dengan pikirannya. Ia jelas tidak salah lihat bahwa kakak kelas tampan itu memang tersenyum ke arahnya, meski sangaaat tipis. Mungkin orang lain tak akan mempercayai jika itu bisa dikatakan sebagai senyuman.
Wait-- Tadi kakak itu kelas berapa ya? Yaampun Mika, harusnya kamu lihat papan kelasnya. Batin gadis itu kembali merutuki kebodohannya. Bodoh karena ia hanya memperhatikan wajah tampan si kakak kelas, tidak dengan kelasnya.
Diam diam gadis lugu tersebut berdoa di dalam hati, supaya sang kakak kelas yang mulai ia akui sebagai love at the first sight masih menginjak kelas 11. Ia sangat ingin mengenal kakak kelasnya dengan waktu yang lebih lama.
"Tuh kan Mika, hobi lo emang melamun ya?" Yuka menatap kesal ke arah Mika yang kembali ketahuan melamun.
"Tau ah gue marah nih sama lo." Kini mereka sudah sampai dalam aula untuk mendengar penutupan MOS dari kepala sekolah. Pastinya akan sangat membosankan bagi kedua gadis tersebut , mungkin siswa yang lain juga setuju dengannya.
"Iya-iya maaf Yuka, kamu jangan marah lagi ya. Nanti aku traktir makan siang mau?" Ucap Mika dengan embel-embel traktir makan.
"Oke deal, gue nggak marah lagi." Mika tertawa cukup keras karena jawaban yang diberikan oleh sahabatnya itu. Prinsip Yuka adalah jangan pernah menyia-nyiakan yang namanya makanan gratis! Good prinsip!
---------------------
TBA | See you di next chapter yaa! xoxo?✨️