Terlihat seorang gadis berponi berlari tergopoh-gopoh mendekati gerbang yang hampir tertutup.
Ia menoleh kesana kemari, melihat beberapa siswa yang sepertinya berlari dengan kekuatan penuh karena tak ingin terlambat.
Apalagi pagi ini adalah hari pertama gadis tersebut untuk memulai tahun ajaran baru disekolahnya.
Tinggal lima langkah gadis itu mencapai tujuan, namun gerbang telah tertutup rapat. Mikayla terengah-engah di depan gerbang.
Parahnya lagi, hanya dirinya yang memiliki bet bertuliskan kelas X. Guru piket yang menjaga gerbang tentu menatap para siswa yang terlambat dengan tatapan mengerikan.
Terdengar bisik-bisik yang dilontarkan oleh para siswa. “Anjir, kenapa yang piket harus guru killer itu sih?”
“Mampus! Kita pasti disuruh lari lagi nih.” Ucap seorang wanita dengan tampilan yang sedikit tomboy.
“Anak-anak, ini sudah memasuki tahun ajaran baru tapi kenapa masih banyak yang terlambat? Saya tidak ingin bicara banyak-banyak.”
Semua murid hanya diam mendengar ocehan sang guru yang memiliki predikat sebagai guru killer.
“Disini ada yang kelas X? Keterlaluan jika ada!” …Skakmat! Kini gadis yang merasa dirinya terpanggil mulai gemetar ketakutan.
Gadis itu jelas mengutamakan yang namanya attitude, namun tak disangka di hari pertamanya ia justru memberikan kesan yang buruk.
"Saya bu.” Sang guru tampak kesal, karena memang kenyataannya ada siswa kelas X yang terlambat.
"Kamu. . . .sini maju kedepan!” Mika, gadis tersebut langsung maju ke depan. “Kalian kelas 12 dan 11, lari mengelilingi lapangan sampai bel kedua berbunyi!”
Para siswa siap berlari menuruti perintah si guru killer, menyisakan seorang cowok yang berperawakan tinggi.
“Kamu kenapa tidak ikut lari? Bukankah sudah saya katakan kelas 11 dan 12 untuk berlari?”
Sang guru terlihat sangat marah akibat tingkah siswa di depannya ini. Mika ikut mengernyit bingung dengan kelakuan cowok tersebut yang sedang mengunyah permen karet.
Jika cowok tersebut kelas X mengapa tadi tidak ikut mengangkat tangan seperti dirinya?
“Eh ibu tanya saya? Saya baru dateng, nggak dengar tadi ibu ngomong apa.” Dengan polosnya lelaki itu bertanya sembari mengunyah permen karet dimulutnya.
“Sudah bukan anak TK tapi attitude sangat buruk? Buang sana permen karet kamu!” Lelaki tersebut segera membuang permen karet tepat didepan mata bu Erika.
Mika terkejut dengan tingkah cowok tengil di depannya. Jika Mika selalu mengutamakan yang namanya attitude lelaki ini justru kebalikan dengan prinsipnya itu.
Bu Erika melotot ke arahnya, jelas tidak terima diperlakukan seperti itu oleh muridnya, terlebih si murid masih kelas X.
“Kamu tidak pernah diajarkan sopan santun? Nama kamu siapa? Saya akan kasih poin karena tingkah lakumu yang buruk.”
Ucap bu Erika dengan d**a yang naik turun, menandakan bahwa ia sangat marah.
“Dan kamu, lari seperti kakak kelasmu yang lain. Sekarang!” Mika mengangguk cepat, kemudian berlari seperti yang diperintahkan.
Cowok yang ditanya namanya justru asyik melihat tingkah Mika yang tampak lucu dengan rambut sebahu dan poni diatas alisnya. Setelah puas melihat Mika, tatapannya beralih pada guru killer itu.
“Nama saya Farel bu, dengan senang hati saya terima poin ibu.” Cowok yang bernama Farel tersebut tersenyum meremehkan guru killer di depannya.
Baginya mengerjai guru yang pemarah adalah kegiatan yang menyenangkan. “Kamu cepat lari sekarang juga! Saya akan mengingat nama kamu Farel.”
Farel kembali tersenyum kemudian berlari mengitari lapangan yang dari pandanganya memang sangat luas.
"Cih, gue udah biasa dengan guru macem lo! Sialnya itu ludah muncrat kemana-mana. Bisa gawat kalau kena muka gue, jangan sampe kena penyakit kulit!”
Umpat Farel yang tak kalah kesal dengan gurunya tersebut. Baginya berulah tidak masalah asalkan otaknya tetap pintar.
Toh lelaki itu sudah terbiasa dengan perlakuan yang seperti itu. “Halo Mikayla.” Lelaki itu mensejajarkan dirinya dengan gadis yang sudah diincarnya sejak Mikayla berlari ke arah gerbang.
Mika terkejut bukan main, sejak kapan ia memperkenalkan diri di depannya? “Pasti lo kaget, kenapa gue bisa tahu nama lo. . . . manis?”
Mika berusaha berlari lebih kencang untuk menghindari cowok bernama Farel itu. “Lo sudah tua ya? Gue sekelas sama lo! Wah isu lo yang pelupa itu memang benar ya.”
Gadis itu menatap Farel dengan pertanyaan yang sudah ia tahan sejak tadi. “Mereka pada bicarain lo, siapa lagi yang nggak bisa mengingat teman sekelasnya selain lo, sweety?”
Mika kembali terkejut karena Farel bisa menebak isi pikirannya dengan tepat. Apa sepikun itu dirinya? Memang dirinya baru mengingat Yuka saja sebagai teman kelasnya.
“Iya aku emang pelupa. Tapi kan nggak ada urusannya sama kamu?” Kini Mika mulai angkat bicara didepan cowok yang memiliki kulit seperti dirinya, putih pucat.
“Ya gue nggak mau dong punya cewek pelupa kayak lo.” Mika tersentak mendengar ucapan sembarangan Farel.
Ia tentu bukan gadis bodoh. Sejak kapan dirinya memiliki hubungan dengan cowok badboy semacam Farel?
Gadis itu terlihat ingin protes namun Farel segera melanjutkan pembicaraannya yang sukses membuat Mika menghentikan larinya.
“Lo. . . .mau jadi pacar gue?”
---------------------
TBA | See you di next chapter yaa! xoxo?✨️