Seorang gadis dengan baju tidurnya, memandang langit malam yang terlihat mendung namun menenangkan dari balik jendela.
Pikirannya terus melayang pada saat ia dan cowok yang bernama Farel sedang dihukum karena keterlambatannya.
Tetapi tidak dengan hatinya, tentu saja hatinya tertuju pada kakak kelas yang sudah diakui sebagai cinta pada pandangan pertamanya.
“Lo mau jadi pacar gue?”
Cowok berkulit putih pucat, mata berwarna abu gelap dan memiliki wajah tampan dengan cengiran khasnya bertanya pada gadis yang baru saja dikenalnya, siapa lagi kalau bukan Mikayla.
Gadis itu berhenti sejenak dari larinya, kemudian menatap Farel dengan wajah terkejut.
“Ini kamu lagi nembak atau ngeprank?” Jawab Mika sangat lugu, meskipun diam-diam ia sedikit gugup.
“Gue serius, gue suka sama lo Mika. Lo mau kan jadi pacar gue?” Jawab Farel, kali ini dengan wajah seriusnya.
“Alasan kamu suka aku apa? Kita kan baru aja kenal. Bahkan aku nggak ingat wajah kamu ketika perkenalan di kelas.”
Sebenarnya ia sangat gugup untuk menjawab pertanyaan Farel, terlebih melihat wajah Farel yang mendadak serius seperti itu.
Ia tidak mengelak, Farel memang memiliki wajah yang tampan.
Kali ini Mika berusaha menghilangkan ekspresi tololnya yang sering ia tunjukan ketika keingin tahuannya muncul.
“Lo cantik, lucu, baik, pokoknya lo tipe gue banget. Lo nggak mungkin nolak gue kan? Apalagi selama gue nembak cewek, gue nggak pernah ditolak sama sekali. Gue nggak perlu menjelaskan, lo pasti tau alasan kenapa gue nggak pernah ditolak.”
Ucapnya dengan tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi.
Farel jelas tidak tahu siapa gadis yang ia hadapai sekarang. Ia pikir gadis di depannya adalah gadis centil, yang kalo ngeliat cowok ganteng langsung klepek-klepek?
Sayangnya Farel justru telah menunjukan sifat yang paling dibenci oleh gadis yang baru saja ia tembak.
“Kalau gitu maaf Farel, hari ini aku mau nolak kamu. Kalau mungkin cewek-cewek yang sebelumnya langsung nerima kamu, tapi jangan disamaratakan juga dong!”
Farel tertegun mendengar penuturan gadis di depannya. Di luar dugaan, ternyata gadis ini sulit didapatkan.
Namun bukan Farel namanya jika ia langsung menyerah begitu saja. Belum sempat ia menjawab gadis itu kembali bicara.
“Kalau aku boleh jujur, kamu emang ganteng dan tinggi. Tapi aku nggak suka sama orang yang punya maksud lain."
"Selain itu, kayaknya aku juga nggak bisa berteman sama kamu.” Farel berusaha mencerna kata-kata yang baru saja dilontarkan untuknya.
‘Dari mana dia tau gue punya maksud lain?’ Batinnya.
Ia sampai terdiam di tempat menatap Mika yang baru saja melepaskan tangannya. Tersadar, Farel mengernyit bingung menatap tangannya.
‘Sejak kapan gadis itu memegang tangan gue?’ Gumam Farel pelan, kemudian melihat Mika yang sudah kembali berlari.
---------------------
TBA | See you di next chapter yaa! xoxo?✨️