Farel tak henti-hentinya mendekati Mika sejak perempuan itu mengatakan keburukannya.
Seperti saat ini, Mika berada di kantin bersama Yuka, namun cowok itu tak sekalipun mengalihkan pandangannya dari Mika yang sedang memakan bakso.
“Lo kalo suka sama Mika jangan selebay itu dong Rel.” ucap Yuka, karena gadis itu pun risi melihat Farel yang terus menatap Mika.
“Kenapa, lo cemburu? Atau jangan-jangan lo juga pengen gue liatin?”
Mika hanya diam, menikmati makanannya tanpa memperdulikan dua orang bagai tom and jarry, tidak pernah akur.
“Jangan sok ganteng deh, Selera Mika itu bukan lo! Dia tuh sukanya sama kakak kelas tampan. Fact. . .but don't cry, cinta lo bertepuk sebelah tangan.”
Namun siapa sangka, gadis berwajah Jepang itu langsung syok karena ucapannya sendiri. Mika sejak tadi sudah menatap tajam kearah Yuka.
Sahabatnya itu merutuki mulutnya yang tidak bisa dikontrol. Sadar akan tatapan Mika, ia membalasnya seolah olah berbicara sorry-gue-keceplosan.
Mika segera menyelesaikan makannya, sedangkan Farel hanya diam mendengar ucapan Yuka. Bukan karena ia merasa cemburu, sama sekali tidak.
Ia hanya sedang berpikir bahwa rencananya mau tidak mau harus diubah jika ucapan Yuka memang benar adannya.
“Farel, Yuka, kalian jangan bersaing kayak tom & jerry dong. Aku pusing liatnya. Mau kabur ke perpus aja deh, bye.” Ucap Mika segera meninggalkan mereka.
“Eh Mika tungguin, gue ikut.” Yuka segera berlari mengejar Mika. Farel masih diam, ia tak berniat mengikuti Mika, baginya perpustakaan adalah tempat yang memuakkan.
Pria itu justru memesan bakso, namun pikiran itu tiba-tiba muncul. ‘kakak kelas? Menarik, gue pengen tau selera lo Mika.’ Batin Farel dengan senyum penuh arti.
Ia hanya penasaran dengan permainan yang akan dijalankannya nanti. ‘Berarti gue punya saingan dong. it’s okay gue siap kok dapetin lo Mika.’ Farel kembali tersenyum ketika baksonya datang.
?Heartfelt?
"Mika, it-it-itu kakak kelas yang lo suka kan?” Mika yang sedang membaca buku langsung terkejut dengan pernyataan sahabatnya.
Ia menoleh mengikuti arah tangan Yuka, kemudian tersenyum melihat seorang pria dengan wajah blasteran, tubuh tinggi, kulit putih dan oh s**t dia ketahuan sedang menatap pria itu tanpa berkedip. Mampus!
“Mika lo suka sama dia kan? Bahkan lo sudah cinta. Benar?” Pertanyaan Yuka cukup membuat pipinya memanas.
Ia tentu sudah menceritakan perasaanya pada Yuka. Karenanya Mika mengangguk menanggapi ucapan Yuka.
“Terus kalo lo pandangin doang tuh cowok, emang bisa langsung deket? Mikayla, you know what I mean. Lo harus bergerak, deketin. Bukannya ngeliatin sampe nggak berkedip.”
Yuka gemas sendiri melihat tingkah Mika yang sangat polos. Mika mengernyit bingung, bahkan wajahnya sudah terlihat t***l.
Baru Mika ingin menjawab, kakak kelas nya itu sudah duduk dengan jarak dua kursi dari tempat Mika. Omg, Ini cukup dekat!
Mika tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. Ia menatap Yuka, dimana Yuka memberi kode untuk melaksanakan apa yang disuruhnya tadi.
‘Aku harus berani, apalagi dia cinta pertama kamu Mika. Sekarang, ayo. Jangan nanti-nanti. Mulai mulai!’
Batin gadis itu menyemangati dirinya sendiri. Ia tak ingin menyia-nyiakan perasaanya, ia ingin mengenal kakak kelasnya lebih dekat.
Kali ini Mika akan menuruti kata hatinya, meskipun otaknya menyuruh untuk berhenti.
Begitulah jika masalah cinta, maka hati yang akan juara. Ia mulai melihat sebelah kanannya, lalu menatap si kakak kelas yang sedang fokus membaca buku.
“Kak, aku, aku mau tanya. Kalo bayar SPP dimana ya?” Bodoh. Gadis ini bahkan bertanya tanpa berpikir.
Lo udah dua bulan sekolah disini Mika, masa lo lupa ruang administrasi.-Yuka
Yuka dengan sekuat tenaga menahan tawanya. Mika masih menatap si kakak kelas yang kini sudah menoleh kearahnya.
“Kenapa gugup? Santai, gue nggak akan tertawa kayak temen lo itu.” Ia menunjuk Yuka yang sudah tertawa hingga mukannya memerah.
Sejak kapan sahabatnya itu tertawa? Mika kembali menatap kakak kelasnya. Ia sama sekali tidak menyadari kebodohannya.
“Ah, enggak kak. Aku nggak gugup kok. Jadi balik lagi, tempat bayar SPP?” Sudah bodoh, masih saja mengulang kebodohnya.
‘Dasar lemot lo Mika!’ Batin Yuka.
Kemudian gadis itu segera meninggalkan Mika dengan alasan ingin ke toilet, namun sebenarnya ia sudah tidak tahan ingin tertawa kencang melihat tingkah sahabatnya itu.
“Oh, lo keluar dari sini, terus lo lihat samping kanan, itu ruang administrasinya. Dari sini aja sudah kelihatan kok, tuh.”
Jujur, sejak tadi Mika tak mendengarkan apa yang diucapkan si kakak kelas.
Ia hanya pura-pura tidak tahu mengenai ruang administrasi. Telinganya mendadak b***k, sementara hatinya tentu sudah goyang ala bang jali.
Tetttttttttttt
Bel berbunyi, tandanya ia harus segera masuk kelas.
“Okai, makasih ya kak! Kalo gitu aku mau balik ke kelas.” Setelah pamit ia segera pergi, langkahnya begitu cepat.
Lalu tiba-tiba berhenti ketika ia melihat ruang administrasi yang berada tepat disamping perpustakaan. s**t, ia baru sadar dengan pertanyaannya yang menggelikan.
‘Pantes Yuka ketawa-ketawa. Ahhh gimana ini! Mau modus tapi kok malah malu-maluin?'
Batin Mika. Kemudian ia menengok kebelakang untuk melihat kakak kelasnya sekali lagi.
Mengagetkan, si kakak kelas ternyata tepat berada di belakangnya.
“Lo bisa bayar disitu. Pffff, lucu sekali Mikayla Hassa.”
Ucapnya sembari menunjuk ruang administrasi. Kakak kelasnya mulai melangkah pergi dengan senyum yang membuat siapapun akan meleleh.
Otak lemotnya baru sadar. ‘Pendengaran aku beneran nggak rusak kan? Tadi kakak itu sebut namaku? Berarti aku nggak sia-sia dong buat bertanya.’
Sedetik kemudian Mika bersyukur akan pertanyaan bodohnya.
---------------------
TBA | See you di next chapter yaa! xoxo?✨️