Belakangan ini gadis tersebut selalu tersenyum ketika berada di perpustakaan. Hal itu dilakukan karena melihat si kakak kelas yang sedang membaca buku biolaginya.
Tetapi dirinya sedikit kesal ketika mengetahui banyak perempuan yang berlagak manis dihadapan si pujaan, tentu untuk menarik perhatian. Baru sebentar mengamati, ia langsung mendengar beberapa bisikan.
“Btw kak frozen ganteng banget ya?”
“Udah punya cewek belum ya?”
“Masa seganteng itu belum punya?”
“Semoga aja belum, so gue kan bisa daftar jadi ceweknya.”
“Udah pintar, ganteng, putih, tinggi, blasteran lagi.”
Bisikan itulah yang membuat senyum Mika sedikit memudar, karena ia pun bertanya-tanya, apa benar cowok setampan kakak kelasnya belum punya pacar?
?Heartfelt?
Hari ini upacara akan dilangsungkan, ini kesempatan Mika untuk mengetahui kelas berapa si kakak kelas yang selalu membuat hatinya berdegup hanya dengan melihatnya saja.
Ia sangat berharap kakak kelas itu hanya satu tahun diatasnya, tentu saja karena ia tidak ingin berpisah ketika kenaikan kelas nanti.
Tetapi itu hanyalah harapan kosong, ia melihat dimana kakak kelasnya ikut berbaris dengan papan bertuliskan 12 IPA 4. Senyumnya memudar dengan kenyataan yang ada.
Apakah ia akan berhasil kenal lebih dekat diwaktu yang menurutnya sesingkat itu? Terlebih kakak kelasnya mau tidak mau akan sangat sibuk, karena harus mempersiapkan segala ujian sekolah.
“Kay lo kok tiba-tiba lemes gitu?” Pertanyaan Yuka berhasil membuatnya sadar kembali dari kegalauan.
“Aku sedih ternyata dia kelas 12.” Jawabnya lesu, sembari berbaris di urutan paling depan tepat menghadap kepala sekolah yang sedang berpidato, membuat para murid mulai bosan mendengar pembicaraan basi itu, tak terkecuali Mika dan Yuka.
“Lah emang kenapa? Lo tenang deh, kita kan masih di semester awal. Setidaknya masih ada 8 bulan untuk deket sama doi.”
Yuka berusaha menenangkan sahabatnya, bahkan sudah memikirkan rencana untuk mebantunya nanti.
“Lo tenang aja bakal gue bantuin untuk PDKT.” Sambungnya cepat. “8 bulan itu bukannya cepet banget ya? Aku juga takut dia udah punya pacar.”
Ternyata tak hanya waktu yang membuat Mikayla begitu kawatir, ia juga takut si first love sudah memiliki seseorang dihatinya.
“Mika, lo bilang dia first love sekaligus cinta pandangan pertama kan?”
Mika hanya mengangguk sebagai jawaban. Belum sempat Yuka menjawab, teman yang berada dibelakang berbisik pelan.
“Mika, Yuka, lo bisa diem nggak? Kalian dari tadi dilihatin sama tuh guru killer, bu Erika.”
Yuka dan Mika tampak acuh mendengar peringatan temannya, bagi Mika masalah cintanya adalah yang paling utama. Bucin memang.
“Bodo amat! Okei lanjut .....Nah Key gue saranin buat cari akun sosial media, line atau whatever apapun yang bisa menghubungkan lo sama si tampan. Sebentar, jangan-jangan lo belum tau namanya?”
Mika mengangguk lagi, kali ini diiringi cengiran bodohnya.
“Astaga Mik---“
“Kalian berdua yang ada di barisan depan, maju kesini, sekarang!” Sejak kapan bapak kepala sekolah tercinta sudah selesai dengan pidato super panjangnya?
Kedua gadis itu saling menatap, melihat tangan bu Erika yang mengarah pada mereka.
Gawat, muka aku bakal dilihat seluruh siswa. Oh no! Nanti kakak itu nganggap aku nakal gimana? Andwe, andweeeeeee-Mika
Kesempatan gue buat tenar, Yesss!-Yuka
Mereka berdua akhirnya maju kedepan, menghadap guru BK yang super killer.
“Sejak tadi saya perhatikan kalian bicara terus. Sekolah kami tidak mengajarkan muridnya ikut berbicara ketika orang lain sedang berbicara!”
Bu Erika berbicara dengan lantang beserta microfon ditangannya, seperti sengaja mempermalukan mereka didepan murid lain.
“Sebutkan nama kalian, kelas kalian, dan katakan tidak akan mengulangi kesalahan saya sebanyak 100 kali setelah itu hormat didepan bendera hingga jam pelajaran kedua! Kalian mengerti?”
Ucapnya lantang, tak lupa air liurnya yang beberapa kali mengenai wajah cantik Mika dan Yuka secara bergantian. Sekolah mereka memang tidak main-main soal kedisiplinan.
“Mengerti bu.” Jawab mereka serempak. Kemudian Yuka segera mengambil mic yang diberikan oleh Bu Erika.
“Nama saya Rizuka Jasmeen, Kelas 10 Ips 4, Saya tidak akan mengulangi kesalahan saya.”
Yuka tampak kesal setelah selesai dengan hukumannya.
“Nama saya Mikayla Hassa, panggil saja Mika, Kela—“
Mika mengernyit bingung ketika melihat bu Erika kembali mengambil mic di tangannya, disaat yang sama seluruh siswa tertawa termasuk sahabatnya.
“Apakah saya menyuruh kamu untuk memperkenalkan diri? Ini hukuman! Bukan perkenalan!”
Seketika seluruh siswa kembali tertawa. Mika kembali mengernyit bingung, kali ini ia menoleh pada Yuka untuk memberitahu apa kesalahannya.
Yuka yang mengerti itu langsung berbisik. “Mikayla, lo itu manusia atau flash di zootopia? Kenapa lemot banget sih. Lo barusan mengucapkan panggil saja Mika!” Mika menepuk jidat, mengerti maksudnya.
“Sekarang ucapkan dengan benar!” Sela bu Erika sembari memberikan mic nya.
“Nama saya Mikayla Hassa, 10 Ips 4, Saya tidak akan mengulangi kesalahan saya.”
?heartfelt?
Kedua gadis terlihat sedang hormat di depan bendera dengan keringat yang bercucuran di dahi mereka.
Dua gadis itu baru 15 menit menjalankan hukumannya namun rengekan keduanya sudah lebih dari 15 kali mereka lontarkan.
“Mika gue lanjutin omongan kita yang tertunda tadi. Gue saranin lo memulai misi ini dengan chat si kakak tampan.”
Mengetahui pertanyaan yang ingin dilontarkan sahabatnya ia kembali berbicara.
“Masalah akun sosmed, biar gue bantu cari. Secepatnya gue kabarin kalo udah kedapet.”
Ucap Yuka yakin, sedangkan gadis didepannya hanya mengangguk dengan senyuman yang merekah kembali.
Tanpa disadari, seseorang dengan mata cokelat telah menatap Mikayla dari balik jendela kelasnya, sembari tersenyum kecil.
---------------------
TBA | See you di next chapter yaa! xoxo?✨️