Antara Luka dan Logika

1178 Kata

Rasa dingin itu merayap dari leher ke seluruh saraf tulang belakangku. Cairan perak yang disuntikkan pemuda itu, terasa seperti ribuan jarum es yang membekukan aliran darahku. Aku mencoba berteriak, namun suaraku tersangkut di tenggorokan yang kelu. "Sstt... Tenanglah, Ibu. Ini hanya proses sinkronisasi," bisik pemuda itu. Pemuda itu mengaku namanya Julian. Nama yang kuberikan dalam bisikan doa di simulasi, kini menjadi label bagi seorang monster yang sangat tampan. Pandanganku memudar, namun aku tidak jatuh ke dalam kegelapan. Sebaliknya, aku terjatuh ke dalam cahaya putih yang menyilaukan. Saat mataku berhasil beradaptasi, aku mendapati diriku tidak lagi berada di tanah gersang yang berdebu. Aku berada di sebuah taman. Taman yang sangat kukenal. Tempat ini adalah halaman belakang ru

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN